Wed,29 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Mengurai Persoalan Sampah di Pesisir Semarang

Mengurai Persoalan Sampah di Pesisir Semarang

mengurai-persoalan-sampah-di-pesisir-semarang
Mengurai Persoalan Sampah di Pesisir Semarang
service

Bau menyengat menusuk hidung saat memasuki kawasan pesisir Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang, Jawa Tengah (Jateng). Seolah tak merasa terganggu, Maisaroh (25) tampak tenang menggendong anaknya yang masih bayi. “Sudah biasa jadi gak kerasa bau,” kata  Musairoh  pasrah, sambil menepuk-nepuk lembut anaknya agar tertidur. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tumpukan sampah dan limbah rumah tangga yang memenuhi area bekas tambak seluas satu hektar. Warna air hitam pekat. Sampah plastik, popok bayi (diapers), bekas pembalut, hingga kotoran manusia. Semua bercampur jadi satu di antara permukiman penduduk yang ada di sekitarnya. “Bau dari situ, udah lama. Dan banyak nyamuk,” imbuhnya sambil menunjuk bekas tambak persis di depan rumahnya. Hanya sepelemparan batu, terlihat beberapa anak sedang bermain. Mereka asik berlarian di gang sempit. Sesekali mereka juga bermain air limbah sampah berwarna hitam menggunakan ranting pohon. Sampah dicongkel dan dimainkan seperti kapal yang tenggelam dan karam. Mereka tampak kegirangan. Jamiyatul tak henti-hentinya memperingatkan cucunya yang ikut bermain. Dia khawatir sang cucu masuk bekas tambak yang kotor dan bau. Dia bilang, pernah kejadian dan si bocah gatal-gatal.  Dulu, katanya,  ada wacana menguruk area bekas tambak yang kini jadi kubangan limbah dan sampah itu tetapi  tak ada kelanjutannya. “Ya,  macam-macam sampah plastik, popok, pembalut, dan kotoran manusia. Terus air bekas cuci. Jadi satu di situ,” katanya. Dia menyadari risiko pelbagai penyakit yang timbul dari kondisi lingkungan seperti itu tetapi  hanya bisa pasrah. Apalagi, sudah bertahun-tahun dia hidup di sana. Meski terbelenggu bau sampah dengan segala permasalahannya, dia tetap berusaha berdamai. Jamiyatul tak punya kamar mandi maupun…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.