Bau menyengat menusuk hidung saat memasuki kawasan pesisir Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang, Jawa Tengah (Jateng). Seolah tak merasa terganggu, Maisaroh (25) tampak tenang menggendong anaknya yang masih bayi. “Sudah biasa jadi gak kerasa bau,” kata Musairoh pasrah, sambil menepuk-nepuk lembut anaknya agar tertidur. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tumpukan sampah dan limbah rumah tangga yang memenuhi area bekas tambak seluas satu hektar. Warna air hitam pekat. Sampah plastik, popok bayi (diapers), bekas pembalut, hingga kotoran manusia. Semua bercampur jadi satu di antara permukiman penduduk yang ada di sekitarnya. “Bau dari situ, udah lama. Dan banyak nyamuk,” imbuhnya sambil menunjuk bekas tambak persis di depan rumahnya. Hanya sepelemparan batu, terlihat beberapa anak sedang bermain. Mereka asik berlarian di gang sempit. Sesekali mereka juga bermain air limbah sampah berwarna hitam menggunakan ranting pohon. Sampah dicongkel dan dimainkan seperti kapal yang tenggelam dan karam. Mereka tampak kegirangan. Jamiyatul tak henti-hentinya memperingatkan cucunya yang ikut bermain. Dia khawatir sang cucu masuk bekas tambak yang kotor dan bau. Dia bilang, pernah kejadian dan si bocah gatal-gatal. Dulu, katanya, ada wacana menguruk area bekas tambak yang kini jadi kubangan limbah dan sampah itu tetapi tak ada kelanjutannya. “Ya, macam-macam sampah plastik, popok, pembalut, dan kotoran manusia. Terus air bekas cuci. Jadi satu di situ,” katanya. Dia menyadari risiko pelbagai penyakit yang timbul dari kondisi lingkungan seperti itu tetapi hanya bisa pasrah. Apalagi, sudah bertahun-tahun dia hidup di sana. Meski terbelenggu bau sampah dengan segala permasalahannya, dia tetap berusaha berdamai. Jamiyatul tak punya kamar mandi maupun…This article was originally published on Mongabay
Mengurai Persoalan Sampah di Pesisir Semarang
Mengurai Persoalan Sampah di Pesisir Semarang





Comments are closed.