Gresik (beritajatim.com) – Tangis seorang anak perempuan terdengar dari teras sebuah rumah singgah di Desa Banyuurip, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik, Rabu (9/9/2026).
RA, bocah perempuan berusia 14 tahun asal Kabupaten Probolinggo itu, sedang berada dalam kondisi yang sulit dikendalikan. Di tengah tangisnya, tangan RA beberapa kali terayun memukul sang ibu, Sujani.
Bukan karena sang ibu tak berusaha menenangkan. Justru sebaliknya. Sujani menjadi orang yang paling dekat dengan RA ketika emosinya meledak. Namun, menghadapi kondisi tersebut seorang diri membuatnya kewalahan. Sujani akhirnya meminta bantuan polisi.
Terkait dengan ini, Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution datang bersama Ipda Purnomo, anggota Polres Lamongan yang selama ini dikenal memiliki pengalaman dalam menangani orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
RA yang masih berusia anak-anak coba didekati secara perlahan. Petugas berusaha membuatnya tenang dan membujuk agar mau menjalani pengobatan. Jajanan, mainan hingga uang diberikan sebagai cara untuk mengalihkan perhatian RA.
Meski telah dibujuk, suasana di sekitar rumah justru membuat kondisi RA semakin tidak terkendali. Tangisnya kembali pecah. Ia memukul ibunya dan orang-orang yang berada di dekatnya. Petugas pun harus menunggu sampai ada kesempatan untuk membawa RA ke tempat yang lebih aman.
Tim kesehatan dari Yayasan Berkas Bersinar Abadi milik Ipda Purnomo kemudian memberikan obat penenang. Perlahan, kondisi RA mulai mereda.
Tidak lama kemudian, RA akhirnya bersedia masuk ke ambulans. Dari rumah singgah itu, ia dibawa menuju yayasan milik Ipda Purnomo di Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Di tempat tersebut, RA akan menjalani pengobatan dan pendampingan.
Bagi Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution, langkah tersebut bukan sekadar membawa seorang anak dari satu tempat ke tempat lain. Ada harapan agar RA bisa mendapatkan penanganan yang tepat dan kembali menjalani kehidupan seperti anak-anak seusianya.
Ramadhan menduga kondisi RA berkaitan dengan tekanan mental yang dialaminya setelah kedua orang tuanya berpisah. “Anaknya masih sering tidak terkendali, sulit dikendalikan orang tuanya, karena saat ini kedua orang tuanya sudah pisah, jadi mungkin ada trauma sehingga tidak bisa mengontrol emosinya,” AKBP Ramadhan Nasution.
Polres Gresik menggandeng Ipda Purnomo untuk membantu proses penanganan RA. “Kami menjemput bersama Pak Purnomo ke sini, mudah-mudahan membawa kebaikan dan kesembuhan dari Allah untuk RA, agar bisa sembuh dan sekolah kembali,” imbuh Ramadhan.
Sementara itu, Kepala Desa Banyuurip Khoirul Muis mengatakan, RA bersama ibunya baru sekitar tiga bulan tinggal di desa tersebut. Keduanya datang dari Probolinggo setelah Sujani mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Sujani kemudian mendapat pekerjaan menjaga sebuah warung milik warga. “Ibunya dan RA datang ke sini untuk mencari pekerjaan. Karena dia dulu di tempatnya sana, rumah tangganya lagi bermasalah dengan suaminya,” urai Khoirul.
Meski bukan warga asli Banyuurip, kondisi RA membuat masyarakat sekitar ikut prihatin. Suparti, salah seorang tetangga, mengaku beberapa kali melihat sendiri ketika RA mengalami tantrum. Saat emosinya memuncak, RA bisa memukul ibunya maupun orang yang berusaha membantunya. “Kasihan kalau lagi kambuh sering mukul-mukul ibunya dan orang yang menolongnya,” papar Suparti.
Kini, harapan baru sedang diupayakan. Pemerintah Desa Banyuurip bersama Polres Gresik mendukung langkah pengobatan yang dilakukan terhadap RA. “Kami berterima kasih dan berharap ikhtiar ini bisa membuat adik RA kembali sembuh seperti anak-anak yang lain,” pungkas Khoirul. [dny/kun]




Comments are closed.