Mon,13 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Analisis: Inggris vs Argentina, Tak Sekadar Saling Menyingkirkan, Sejarah Menebalkan Perseteruan di Piala Dunia

Analisis: Inggris vs Argentina, Tak Sekadar Saling Menyingkirkan, Sejarah Menebalkan Perseteruan di Piala Dunia

analisis:-inggris-vs-argentina,-tak-sekadar-saling-menyingkirkan,-sejarah-menebalkan-perseteruan-di-piala-dunia
Analisis: Inggris vs Argentina, Tak Sekadar Saling Menyingkirkan, Sejarah Menebalkan Perseteruan di Piala Dunia
service

Arina.id — Empat puluh tahun setelah Diego Maradona menciptakan dua gol paling ikonik dalam sejarah Piala Dunia, Argentina dan Inggris kembali dipertemukan di panggung yang menentukan. Bukan perempat final seperti di Meksiko 1986, melainkan semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion Atlanta, Kamis (16/7/2026) pukul 02.00 WIB.

Pertandingan tersebut menyediakan satu tempat di final. Namun, bagi Argentina dan Inggris, pertarungan ini tidak pernah hanya berlangsung selama 90 menit. Sejarah, luka, kontroversi, dan kebanggaan nasional hampir selalu ikut memasuki lapangan setiap kali kedua tim berhadapan.

Pada 1986, Maradona menjebol gawang Inggris dengan tangan dalam gol yang kemudian dikenal sebagai Hand of God. Hanya beberapa menit berselang, kapten Argentina itu melewati sejumlah pemain Inggris sebelum mencetak gol yang kemudian terpilih sebagai Goal of the Century. Argentina menang 2-1 dan melanjutkan perjalanan hingga menjadi juara dunia.

Ingatan pertandingan itu akan kembali mengambang di atas Stadion Atlanta. Namun, duel Argentina melawan Inggris mempunyai lapisan sejarah yang lebih panjang daripada dua gol Maradona.

Pada Piala Dunia 1966, Argentina tersingkir setelah kalah 0-1 dari Inggris dalam pertandingan perempat final yang diwarnai pengusiran kapten Antonio Rattin. Pers Inggris kemudian menjuluki laga tersebut sebagai salah satu pertandingan paling panas pada edisi yang akhirnya dimenangi tuan rumah.

Hubungan kedua negara semakin sarat emosi setelah Perang Falklands atau Malvinas pada 1982. Empat tahun kemudian, kemenangan Argentina atas Inggris di Meksiko memperoleh makna yang jauh melampaui sepak bola.

Drama kembali terjadi pada babak 16 besar Piala Dunia 1998. Pertandingan berakhir 2-2 sebelum Argentina menang lewat adu penalti. David Beckham mendapat kartu merah setelah menendang Diego Simeone dalam insiden yang membuatnya menjadi sasaran kritik besar di Inggris.

Pada fase grup Piala Dunia 2002, Beckham mendapatkan kesempatan membalas. Ia mencetak satu-satunya gol melalui tendangan penalti dan membawa Inggris menang 1-0.

Secara keseluruhan, kedua negara telah lima kali bertemu di Piala Dunia. Inggris memenangi tiga pertandingan, Argentina menang sekali dalam waktu normal, sedangkan satu pertemuan lainnya berakhir imbang sebelum dimenangi Argentina lewat adu penalti.

Kini, rivalitas lama tersebut berpindah kepada generasi baru.

Sejarah yang Tidak Bisa Dihindari

Penyerang Argentina, Jose Manuel Lopez, tidak menutupi besarnya muatan sejarah dalam pertandingan ini. Pemain yang memberikan umpan bagi gol Julian Alvarez ketika Argentina mengalahkan Swiss itu menyatakan seluruh pemain memahami makna duel menghadapi Inggris.

“Jelas, baik di dalam maupun di luar lapangan, ini merupakan pertandingan yang sarat sejarah, penuh kenangan pahit, dan mempunyai latar belakang yang mendalam,” kata Lopez, sebagaimana dikutip The Guardian, Minggu (12/7/2026). Ia menegaskan Argentina akan “memberikan segalanya di lapangan”.

Namun, Pelatih Argentina Lionel Scaloni mengambil posisi berbeda. Ia berusaha mencegah pemainnya terbebani sejarah, sentimen politik, dan romantisme masa lalu.

“Jangan mencari hal lain. Ini pertandingan sepak bola. Kami akan bermain menghadapi tim nasional hebat yang memiliki pelatih hebat, seseorang yang sangat saya hormati dan kagumi,” kata Scaloni dalam konferensi pers setelah kemenangan atas Swiss, dikutip Reuters.

Scaloni memahami bahwa ketegangan historis tidak mungkin sepenuhnya dihilangkan. Namun, baginya, fokus Argentina harus tetap berada pada persoalan yang paling sederhana: bagaimana mengalahkan Inggris dan mencapai final.

Sikap itu mencerminkan ketenangan seorang pelatih yang telah membawa Argentina menjuarai Copa America 2021 dan 2024 serta Piala Dunia 2022. Di bawah Scaloni, Albiceleste tidak selalu menang dengan permainan sempurna. Mereka justru berkembang sebagai tim yang terbiasa bertahan dalam tekanan.

“Suffering atau penderitaan merupakan bagian dari DNA kami,” kata Scaloni setelah Argentina menaklukkan Swiss. Ia menilai pengalaman melewati situasi sulit pada Piala Dunia 2022 membantu para pemain tetap percaya ketika pertandingan tidak berjalan sesuai rencana.

Argentina: Sempurna, tetapi Harus Menderita

Argentina memasuki semifinal dengan catatan enam kemenangan dari enam pertandingan. Sang juara bertahan mencetak 17 gol dan kebobolan enam kali.

Pada fase grup, Argentina tampil dominan. Lionel Messi mencetak trigol ketika Albiceleste mengalahkan Aljazair 3-0. Mereka kemudian menundukkan Austria 2-0 dan Yordania 3-1 untuk memuncaki Grup J dengan sembilan poin, delapan gol, dan hanya satu kali kebobolan. Perjalanannya berubah drastis setelah memasuki fase gugur.

Argentina harus menjalani perpanjangan waktu ketika menyingkirkan debutan Tanjung Verde 3-2 pada babak 32 besar. Messi membuka skor, Lautaro Martinez membawa Argentina kembali unggul pada awal perpanjangan waktu, sebelum gol bunuh diri Stopira Borges memastikan kemenangan.

Pada babak 16 besar, Argentina bahkan nyaris tersingkir. Mereka tertinggal dua gol dari Mesir sebelum Cristian Romero, Messi, dan Enzo Fernandez membawa Albiceleste berbalik menang 3-2. FIFA menggambarkan pertandingan itu sebagai salah satu kebangkitan paling dramatis pada fase gugur turnamen.

Pola serupa muncul ketika menghadapi Swiss di perempat final. Argentina unggul melalui sundulan Alexis Mac Allister, tetapi Dan Ndoye menyamakan kedudukan pada babak kedua. Laga kembali harus dilanjutkan ke perpanjangan waktu.

Julian Alvarez akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-112 melalui tendangan keras dari luar kotak penalti. Lautaro Martínez menutup kemenangan 3-1 pada penghujung pertandingan.

Perjalanan Argentina ke Semifinal

Fase Grup:
Argentina vs Aljazair 3-0
Argentina vs Austria 2-0
Yordania vs Argentina 1-3

Babak 32 besar
Argentina vs Tanjung Verde 3-2, setelah perpanjangan waktu

Babak 16 besar
Argentina vs Mesir 3-2

Perempat final
Argentina vs Swiss 3-1, setelah perpanjangan waktu

Statistik Argentina: enam pertandingan, enam kemenangan, 17 gol, enam kali kebobolan, dan dua pertandingan diselesaikan melalui perpanjangan waktu.

Catatan tersebut memperlihatkan dua wajah Argentina. Mereka mampu mendominasi sejak awal, tetapi juga mempunyai kemampuan untuk bertahan ketika berada di ambang kekalahan.

Messi tetap menjadi pusat permainan dan simbol tim. Namun, Argentina tidak lagi sepenuhnya bergantung kepadanya. Mac Allister, Álvarez, Enzo Fernández, Cristian Romero, dan Lautaro telah mencetak gol pada momen-momen menentukan.

Kedalaman itulah yang membuat Argentina kembali berada di semifinal meskipun penampilannya pada fase gugur tidak selalu meyakinkan.

Inggris: Belum Sempurna tetapi Sulit Dikalahkan

Inggris menempuh rute berbeda. Pasukan Thomas Tuchel memainkan enam pertandingan dengan catatan lima kemenangan dan sekali imbang. Mereka mencetak 13 gol dan kebobolan enam kali.

The Three Lions membuka turnamen dengan kemenangan 4-2 atas Kroasia. Namun, Inggris kemudian ditahan Ghana 0-0 sebelum mengalahkan Panama 2-0 dan memastikan posisi teratas Grup L dengan tujuh poin.

Memasuki fase gugur, Inggris lebih sering dituntut menunjukkan ketahanan mental daripada dominasi teknis.

Pada babak 32 besar, Inggris tertinggal lebih dahulu dari Republik Demokratik Kongo. Dua gol terlambat Harry Kane kemudian membalikkan pertandingan dan membawa Inggris menang 2-1.

Ujian berikutnya datang dari tuan rumah Meksiko. Inggris menang 3-2 dalam pertandingan keras dan penuh insiden di Stadion Azteca. Hasil itu membawa Kane dan kawan-kawan menghadapi Norwegia di perempat final.

Melawan Norwegia, Inggris kembali tertinggal. Andreas Schjelderup membawa tim Skandinavia itu unggul sebelum Jude Bellingham mencetak dua gol, termasuk gol penentu pada perpanjangan waktu, untuk memastikan kemenangan 2-1.

Perjalanan Inggris ke Semifinal

Inggris vs Kroasia 4-2
Inggris vs Ghana 0-0
Panama vs Inggris 0-2

Babak 32 besar: Inggris vs RD Kongo 2-1
Babak 16 besar: Meksiko vs Inggris 2-3
Perempat final: Norwegia vs Inggris1-2, setelah perpanjangan waktu

Statistik Inggris: enam pertandingan, lima kemenangan, sekali imbang, 13 gol, enam kali kebobolan, dan satu pertandingan diselesaikan melalui perpanjangan waktu.

Kane dan Bellingham menjadi dua pemain paling menentukan. Hingga berakhirnya perempat final, keduanya mencetak 12 dari 13 gol Inggris. Ketergantungan tersebut menjadi kekuatan sekaligus peringatan bagi Tuchel.

Tuchel mengakui mentalitas timnya telah membawa Inggris melewati pertandingan-pertandingan sulit. Namun, ia tidak puas dengan kualitas permainan yang diperlihatkan saat menghadapi Norwegia.

“Kami menunjukkan semangat, ketahanan, dan kemampuan mengatasi kesulitan. Namun, secara kualitas, permainan kami belum berada pada tingkat yang tinggi,” kata Tuchel, dikutip Reuters. Pelatih asal Jerman tersebut menegaskan Inggris harus bermain lebih baik untuk melewati semifinal.

Bellingham memiliki penilaian yang sedikit berbeda. Ia menyoroti kondisi pertandingan, kekuatan Norwegia, dan kemampuan Inggris untuk tetap menemukan jalan keluar ketika permainan tidak berkembang sesuai rencana.

Menurut Bellingham, tidak semua pertandingan besar dapat dimenangi dengan permainan indah. Hal paling penting ialah menemukan cara untuk bertahan dan menang dalam situasi sulit. Pernyataan itu disampaikan setelah gelandang Real Madrid tersebut mencetak dua gol ke gawang Norwegia.

Kapten Inggris Harry Kane kemudian mencoba menjembatani perbedaan sudut pandang tersebut. Ia mengatakan kritik Tuchel muncul karena sang pelatih ingin melihat versi terbaik Inggris.

“Dia hanya ingin melihat versi terbaik kami. Dia melihat apa yang kami lakukan dalam latihan dan merasa frustrasi karena kami belum selalu membawanya ke pertandingan,” ujar Kane, dikutip The Guardian.

Messi, Bellinghamdan Pergantian Generasi

Semifinal ini juga menjadi panggung pergantian generasi. Pada 1986, perhatian dunia tertuju kepada Maradona dan Gary Lineker. Empat puluh tahun kemudian, Messi dan Bellingham berada di pusat sorotan.

Messi, yang telah berusia 39 tahun, sedang berusaha mengantar Argentina mempertahankan gelar. Tidak ada negara yang mampu memenangi dua Piala Dunia berturut-turut sejak Brasil melakukannya pada 1958 dan 1962.

Di sisi lain, Bellingham telah tumbuh menjadi pemain penentu Inggris. Kemampuannya memasuki kotak penalti, memenangi duel, dan mencetak gol pada momen kritis menjadikannya ancaman terbesar bagi Argentina.

Kane tetap menjadi tumpuan di lini depan. Namun, Argentina juga memiliki lebih banyak sumber gol. Alvarez mampu menyerang ruang di belakang pertahanan, Lautaro efektif sebagai pemain pengganti, sedangkan Mac Allister dan Enzo dapat muncul dari lini kedua.

Pertandingan dapat ditentukan oleh cara kedua tim mengelola lini tengah. Inggris memiliki kekuatan fisik dan kemampuan melakukan transisi cepat. Argentina lebih nyaman mengendalikan tempo melalui operan pendek, mengumpulkan pemain di tengah, lalu membuka ruang bagi Messi dan Alvarez.

Reuters menilai Inggris perlu membatasi ruang di sekitar Messi tanpa kehilangan struktur pertahanan. Pada saat bersamaan, mereka dapat menguji Argentina melalui kecepatan di sisi lapangan dan pergerakan Bellingham dari lini kedua.

Namun, angka perjalanan kedua negara memperlihatkan pertandingan ini mungkin tidak akan berjalan sederhana. Argentina telah dua kali dipaksa bermain hingga perpanjangan waktu. Inggris tiga kali bangkit setelah tertinggal pada fase gugur.

Kedua tim sama-sama telah belajar bahwa jalur menuju kemenangan tidak selalu lurus.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.