Mon,13 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Sepak Bola Serupa ‘Agama’, Terus Kalian Umatnya Siapa?

Sepak Bola Serupa ‘Agama’, Terus Kalian Umatnya Siapa?

sepak-bola-serupa-‘agama’,-terus-kalian-umatnya-siapa?
Sepak Bola Serupa ‘Agama’, Terus Kalian Umatnya Siapa?
service

Sepak bola melahirkan fanatisme kuat, bahkan cenderung berlebihan. Fanatik pada klub, pemain, tim nasional, ini bisa dilihat dari eksistensi para suporter mania, fans base pemain dan seterusnya. Sehingga kemudian pandangan dan narasi yang menyebut olah raga kolosal itu menyerupai agama baru, berkembang sejak era sepak bola modern ini. Artinya bila agama secara sosiologis direduksi lalu dipahami sebagai kumpulan sistem yang mengendapkan nilai fanatisme, maka menjadi masuk akal jika sepak bola disebut agama baru, meskipun bukan dalam makna harfiah.

Para penggemar sepak bola tentu ingat ungkapan popular Eduardo Galeano (1940–2015), jurnalis sekaligus sastrawan Uruguay yang pernah dilabeli sebagai sosialog kiri. Ada kutipan ikonik dalam esai monumentalnya berjudul: Soccer in Sun and Shadow (El Fútbol a Sol y Sombra), ketika ia menyebut “sepak bola adalah satu-satunya agama yang tidak memiliki atheis/kafir).”

Lalu pasti tahu juga kutipan populer dari mendiang Diego Maradona, legenda sepak bola Argentina dan Klub Napoli Italia. “Gereja di masa depan akan berupa lingkaran tengah lapangan sepak bola. Di sana, semua orang berdiri setara tanpa memandang ras atau kelas.”

Menariknya ketika bicara agama dan sepak bola ini, beberapa kekuatan besar sepak bola justru lahir dari negara yang dikenal religius dalam urusan agama: Brasil, Italia, Argentina, dan Spanyol (didominasi Katolik). Meskipun pada kenyataannya banyak pelatih dan pemain sepak bola yang bermain di negara-negara kuat sepak bolanya tersebut justru memilih atheis dan sekular, sampai-sampai di antaranya ada yang memercayai takhayul.

Pengakuan yang banyak dikutip media dan komunitas daring salah satunya dari Johan Cruyff, legenda sepak bola Belanda yang seorang Atheis: “Saya tidak percaya pada Tuhan. Di Spanyol, semua pemain sebanyak 22 orang, pernah membuat tanda salib sebelum masuk ke lapangan. Jika itu berhasil, maka semua pertandingan pasti berakhir imbang.” Pernyataan ini banyak dikutip sebagai kritiknya terhadap praktik keagamaan yang digunakan sebagai jimat atau takhayul untuk memenangkan pertandingan. 

Agama dan sepak bola juga pernah disinggung pemimpin gereja katolik dunia, Pope John Paul II (Paul Yohanes Paulus II). Ia berceletuk secara satir, bahwa “sepak bola bukan sekadar olah raga, ini adalah agama sekuler terbesar di planet ini.” Pernyataan ini menegaskan betapa kuatnya fanatisme dalam sepak bola di negara-negara katolik dunia.

Di Inggris, tepatnya di Kota Manchester ada jargon: Manchester United (MU) Adalah Agamaku, Old Trafford Adalah Gerejaku. Jargon itu bisa saja merujuk pada pernyataan legenda klub Eric Cantona, bahwa “katedral saya adalah stadion sepak bola”. Pernyataan ini kemudian banyak di-copy paste para penggemarnya. Begitu juga di Liverpool, klub Inggris lain yang memiliki rivalitas kuat dengan MU. Bill Shankly, Mantan Manajer Klub berjuluk The Red tersebut pernah mengatakan: “Beberapa orang percaya sepak bola adalah masalah hidup dan mati. Saya sangat kecewa dengan sikap itu. Saya bisa meyakinkan Anda bahwa ini jauh lebih penting dari itu.”

Syahdan, kalau klub sepak bola ibarat agama, maka para pemainnya bisa jadi serupa nabi, sementara para suporter itu adalah umatnya. Ibadahnya setiap akhir pekan di stadion. Pengajiannya melalui diskusi-diskusi atau forum temu fans klub. Dinamikanya ialah persaingan antar klub, sedangkan perang psikologi para fans atau suporter yang dramatis, secara fenomenologis lebih mirip perseteruan antar umat seagama akibat perbedaan mazhab atau pandangan keagamaan. 

Agama Sepak Bola” yang Diwariskan

Meskipun sepak bola dibilang sebagai “agama terbesar di dunia”, tidak secara harfiah berarti sepak bola menggantikan agama dalam pengertian teologis, melainkan hanya menggambarkan betapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Bayangkan, jutaan orang mengatur jadwal hidupnya demi pertandingan, merelakan pengeluaran uang rutin mingguan beli tiket pertandingan, rela melakukan perjalanan jauh mendukung klub kesayangan, bahkan mewariskan identitas klub kepada anak-anak mereka.

Ada seorang penggemar Arsenal yang membeli jersey klub buat anaknya yang masih berusia 3 tahun. Padahal kelak, ketika besar nanti bisa jadi si anak akan beralih mendukung klub lain. Namun mencintai klub yang sama dengan ayahnya sudah ditanamkan sejak kecil. Ada pula seorang penggemar klub bola yang setiap akhir pekan mengajak anak-anaknya menonton pertandingan sepak bola ke stadion. Katanya untuk mengenalkan si anak agar mencintai klub. Perilaku dua suporter bola ini mirip dengan para orang tua yang membelikan baju agamis buat anak-anaknya, membelikan kerudung atau peci, kemudian setiap Jumat mengajaknya ke masjid.

Dalam perspektif sosiologi dan antropologi agama, sepak bola memang memperlihatkan banyak karakteristik yang lazim ditemukan dalam agama: ritual, simbol, komunitas, ruang sakral, waktu sakral, serta pengalaman emosional kolektif.

Pemikiran Sosiolog Prancis Émile Durkheim bisa menjelaskan mengapa sepak bola mampu membentuk identitas dan loyalitas yang begitu kuat di berbagai belahan dunia. Namun demikian, kemiripan tersebut bersifat fungsional dan sosial, bukan substansial. Sepak bola tidak menggantikan fungsi teologis agama, melainkan menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan membangun makna, solidaritas, dan identitas melalui simbol serta ritual kolektif. Dalam pengertian inilah sepak bola dapat dipahami sebagai fenomena budaya yang memiliki karakteristik menyerupai agama, tanpa menjadi agama yang sesungguhnya.

Durkheim berpandangan agama hakikatnya adalah sistem kepercayaan dan praktik yang menyatukan individu dalam suatu komunitas moral. Menurut dia fungsi utama agama bukan sekadar menjelaskan dunia supranatural, tetapi membangun solidaritas sosial. Dalam konteks itu, sepak bola juga tampak jelas memiliki fungsi tersebut. Pendukung sebuah klub memiliki identitas bersama. Mereka mengenakan warna yang sama, menyanyikan yel-yel atau lagu (chant) yang sama, dan berkumpul secara rutin di stadion. Pertandingan menjadi semacam “upacara kolektif” yang memperkuat rasa kebersamaan.

Ketika ribuan suporter bernyanyi serempak, melompat bersama, atau merayakan kemenangan dengan penuh emosi, tercipta apa yang disebut Durkheim sebagai collective effervescence, yaitu ledakan emosi kolektif yang memperkuat ikatan sosial itu. Sepak bola juga memiliki simbol-simbol yang sangat kuat: Logo klub, Jersey, Warna kebanggaan, Maskot, Stadion, Nomor punggung pemain legendaris. Bagi pendukung klub, simbol-simbol tersebut bukan sekadar benda biasa. Logo klub dapat membangkitkan rasa bangga, kesetiaan, bahkan pengorbanan. Jersey menjadi penanda identitas yang dipakai dalam berbagai kesempatan, mirip dengan simbol-simbol identitas dalam komunitas keagamaan.

Santri Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur sampai pernah menulis buku berujudul “Fikih Sepak Bola”. Buku kecil tersebut memberikan sentuhan Islami terhadap fanatisme sepak bola sebagai sebuah fenomena global. Mereka membaca sepak bola tidak sekadar sebagai entitas menyendiri, akan tetapi sebagai semacam titik yang menjadi denyut nadi bagi suatu organisme hidup. Karena faktanya sepak bola telah menggerakkan berbagai hal; semangat patriotisme, nasionalisme, hedonisme, ekonomi-bisnis, kesehatan, permainan, perjudian, mode dan style, dan lain sebagainya.

​​​Meskipun begitu, para santri tersebut tetap meletakkan kritik pada porsi amaliah-nya ketika hubungan agama dan sepak bola berada dalam persimpangan masa. Misalnya ketika menyinggung fanatisme yang berlebihan, jangan sampai gara-gara sepak bola kemudian mengabaikan nilai-nilai kebaikan yang diajarkan agama: adab dalam pergaulan, dan hal ihwal terkait hubungan kemanusiaan. Mereka menganggap bahwa fanatisme buta dilarang dalam agama, saling olok dan ejek berlebihan, bullying, bentrokan atau berbagai kekerasan lain dalam sepak bola. Kemudian waktu menonton bola tidak boleh mengabaikan waktu salat, bagi suporter perempuan tetap harus menutup aurat, dan tidak boleh menjadi ajang perjudian.

Maka, ketika euforia gegap gempita Piala Dunia 2026 digelar di AS dan Kanada, para fans bola yang akut itu sebaiknya tetap bisa mengendalikan emosi. Kekecewaan setelah negara jagoanya kalah, atau pemain idolanya bermasalah boleh saja. Inilah yang disebut Durkheim sebagai collective effervescence yang melekat dalam fenomena masyarakat sosial. Yang penting, ledakan emosi masih terkendali dan tetap mengedepankan adab saling menghormati. Jadi kalau kalian sepakat menganggap sepak bola serupa agama, kalian umatnya Cristiano Ronaldo, Halland, Mbappe, atau Lionel Messi? Atau setelah Piala Dunia kali ini justru memilih murtad dan menjadi Atheis Sepak Bola?


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Muhammad Taufiq
Wakil Pemimpin Redaksi Arina.id

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.