Pembiayaan perbankan menjadi urat nadi yang menghidupi proyek hilirisasi nikel, yang diklaim sebagai jalan menuju kedaulatan industri dan ekosistem kendaraan listrik, termasuk di Morowali, Sulawesi Tengah. Di balik deru mesin smelter bertenaga batubara ada aliran dana jumbo dari bank-bank, baik dari Beijing maupun Jakarta. Dalam satu dekade terakhir, industrialisasi Tiongkok tampil sebagai aktor utama penghiliran nikel di Indonesia. Ekspansi mereka tak berdiri sendiri. Bank-bank Tiongkok menggelontorkan pinjaman ratusan juta dolar untuk membangun smelter, pabrik baja nirkarat, hingga pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara. Riset Yayasan Tanah Merdeka (YTM) akhir 2025 berjudul “Sisi Gelap Transisi Energi” mengungkapkan fakta menarik. Di mana, bank-bank nasional, khusus bank pelat merah, ikut menanggung risiko dan memperdalam keterikatan Indonesia dalam industri nikel global. Dalam riset itu, YTM menelusuri jejak pembiayaan itu di Sulawesi Tengah, tepatnya di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Pada 2013, kawasan industri ini mulai berdiri. Dua tahun kemudian, proyek peleburan nikel pertama milik investor Tiongkok beroperasi. China Development Bank, pada 2014, memberikan pinjaman US$384 juta kepada Tsingshan Group untuk membangun PLTU batubara berkapasitas 2×65 megawatt. Listrik dari pembangkit ini menopang smelter rotary kiln–electric furnace (RKEF) milik PT Sulawesi Mining Investment (SMI). Pada 29 Mei 2015, Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik nickel pig iron (NPI) pertama itu. SMI merupakan usaha patungan Tsingshan Group dengan PT Bintang Delapan Mineral (BDM). Setelah SMI, aliran dana dari bank-bank Tiongkok mengalir deras. YTM menemukan, pada 2015, sindikasi bank terdiri dari Export-Import Bank of China, Bank of China, dan Industrial and Commercial Bank of China mengucurkan…This article was originally published on Mongabay
Bank-Bank di Balik Hilirisasi Nikel Sulawesi Tengah
Bank-Bank di Balik Hilirisasi Nikel Sulawesi Tengah





Comments are closed.