Sun,12 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Barang Langka Itu Bernama: Kepercayaan

Barang Langka Itu Bernama: Kepercayaan

barang-langka-itu-bernama:-kepercayaan
Barang Langka Itu Bernama: Kepercayaan
service

12 Juli 2026 14.19 WIB • 3 menit

Ilustrasi dibuat menggunakan AI


Beberapa waktu terakhir, kita lihat pemerintah berulang kali membuka ruang dialog dengan publik. Upaya tersebut sangat layak diapresiasi. Ada pejabat yang datang ke kampus, berdiskusi dengan mahasiswa, menjelaskan kebijakan, bahkan mengajak masyarakat untuk saling memahami. Namun sayangnya, tidak semua forum berakhir dengan percakapan yang hangat. Di sejumlah kesempatan, dialog justru berubah menjadi ketegangan. Mengapa hal ini terjadi?

Mudah saja menyimpulkan bahwa masyarakat sedang sulit diajak berdialog. Namun, barangkali persoalannya bukan sesederhana itu. Masyarakat tidak datang ke ruang dialog sebagai lembaran kosong. Mereka datang membawa pengalaman, ingatan, dan akumulasi kekecewaan yang membentuk cara mereka memandang negara.

Laporan Edelman Trust Barometer 2026 menunjukkan bahwa fenomena seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Selama dua dekade terakhir, dunia mengalami pergeseran besar dalam lanskap kepercayaan. Jika sebelumnya masyarakat cenderung mempercayai institusi yang punya otoritas sebagai rujukan bersama, kini kepercayaan semakin bergeser kepada lingkaran terdekat: keluarga, teman, komunitas, atau orang-orang yang dianggap memiliki nilai yang sama.

Pada saat yang sama, ruang bersama tempat masyarakat berbagi fakta dan saling mendengarkan perlahan menyempit. Masing-masing memiliki ruang dan rujukan informasinya sendiri. Edelman menyebut fase ini sebagai insularity, yaitu kecenderungan untuk enggan mempercayai siapapun yang berbeda pandangan, berbeda sumber informasi, ataupun berbeda latar belakang.

Fenomena tersebut kerap dipahami semata-mata sebagai dampak media sosial, banjir informasi, atau polarisasi politik. Penjelasan itu memang tidak keliru, tetapi belum cukup. Sebab, kepercayaan tidak hilang hanya karena orang membaca informasi yang berbeda. Namun ia terkikis oleh pengalaman nyata yang berulang.

Kepercayaan publik jarang runtuh akibat satu peristiwa besar. Ia lebih sering habis sedikit demi sedikit.

Beberapa hari ini, misalnya, masyarakat menyaksikan seorang pejabat penegak hukum yang rumahnya digeledah dan ditemukan puluhan kilogram emas serta uang tunai bernilai ratusan miliar rupiah. Proses hukumnya tentu harus dihormati dan setiap orang berhak atas asas praduga tak bersalah. Namun, kerusakan simbolik terlanjur terjadi. Figur dan posisi yang seharusnya tegak dengan integritas justru menjadi bagian dari fakta yang menyakitkan bagi publik. Apalagi di tengah masyarakat yang sedang merasakan tekanan ekonomi yang berat.

Di waktu yang lain, kita melihat jabatan-jabatan strategis dengan mudah dirangkap atau diisi oleh orang-orang yang dipersepsikan dekat dengan lingkaran kekuasaan, sementara pada saat yang sama para pencari kerja justru merasakan sulitnya berjuang memperoleh pekerjaan. Mungkin setiap keputusan memiliki dasar hukum dan penjelasan administratif. Namun, dalam benak publik, pengalaman-pengalaman tersebut perlahan membentuk guratan kesan yang getir: kesempatan tidak selalu diberikan berdasarkan kapasitas, dan aturan memang tidak berlaku sama bagi semua orang.

Akumulasi pengalaman inilah yang membuat setiap ajakan berdialog menjadi jauh lebih berat daripada yang dibayangkan. Ketika lembaga pemerintah berbicara, yang didengar publik bukan hanya isi pesannya. Mereka juga mengingat berbagai pengalaman yang telah membentuk tingkat kepercayaannya.

Dialog akhirnya tidak berlangsung dalam ruang hampa. Ia selalu membawa sejarah.

Karena itu, tantangan pemerintah hari ini sesungguhnya bukan sekadar memperbanyak komunikasi publik. Tantangannya adalah memulihkan kredibilitas yang membuat apa yang disampaikan memang layak dipercaya.

Dalam konteks ini, dua rekomendasi laporan Edelman menjadi menarik. Pemerintah didorong untuk menghindari retorika yang menyalahkan atau merendahkan kelompok lain, sekaligus mendorong para pejabat publik terlibat langsung dalam diskursus yang beradab. Kedua hal tersebut penting. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa dialog tidak pernah berdiri sendiri. Kesediaan masyarakat untuk mendengar sangat dipengaruhi oleh keyakinan bahwa mereka juga didengar, dihormati, dan diperlakukan secara adil.

Itulah sebabnya, membangun kembali kepercayaan tidak cukup dilakukan melalui konferensi pers, forum diskusi, atau kampanye komunikasi. Semua itu penting, tetapi tidak akan banyak berarti apabila kenyataan yang disaksikan masyarakat setiap hari justru mengirimkan pesan yang berlawanan.

Harus diakui, memulihkan kepercayaan bukanlah pekerjaan sederhana. Kerusakan yang kita lihat saat ini telah berlangsung lama dan “membudaya” di banyak sendi kehidupan, membentuk pengalaman kolektif yang tidak mudah dihapus. Siapapun yang memerintah pasti sulit memperbaiki semua itu dalam waktu singkat. Untuk perkara ini, beban para komunikator pemerintahan sungguhlah sangat berat karena harus menjelaskan banyak sekali kebijakan, kejadian, kontroversi yang sulit dinalar oleh publik.

Namun, sulit bukan berarti mustahil.

Akhir kata, kepercayaan tidak pernah pulih hanya karena negara meminta masyarakat untuk percaya. Ia tumbuh ketika masyarakat berulang kali menyaksikan bahwa aturan ternyata berlaku sama bagi semua orang, jabatan diberikan karena kapasitas, kritik dijawab dengan hormat, dan kekuasaan bersedia mengoreksi dirinya sendiri.

Dan keteladanan, adalah bentuk komunikasi publik yang paling sulit diperdebatkan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Wahyu Aji lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Wahyu Aji.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.