Siapa sangka, menelusuri pengalaman masyarakat terpinggirkan dapat membantu kita memahami tentang celah dari struktur sosial yang ada. Dari sana, kita belajar siapa yang selama ini diberi ruang untuk bersuara, siapa yang disingkirkan, serta bagaimana kekuasaan, budaya, dan kebijakan berdampak pada kehidupan kelompok masyarakat tertentu.
Pemahaman inilah yang kami temukan ketika diajak memahami pengalaman beberapa kelompok masyarakat melalui sejumlah skripsi yang dipresentasikan dalam kegiatan Bedah Skripsi, yang diselenggarakan oleh The Conversation Indonesia berkolaborasi dengan Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Kegiatan Bedah Skripsi “Identitas dan Keberdayaan dari Kelompok Terpinggirkan” yang diselenggarakan pada Jumat (14/11), merupakan ruang berbagi temuan skripsi untuk mahasiswa/alumni sarjana yang berani mengangkat isu-isu keberdayaan kelompok yang kerap luput dari perhatian publik.
Tak hanya menyuguhkan presentasi skripsi, kegiatan ini juga diperkaya dengan diskusi bersama Okky Madasari (Sosiolog sekaligus pendiri Omong-Omong Media) dan Bambang Hudayana (Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM). Keduanya berbagi pengalaman dan masukan mengenai proses penyusunan skripsi bagi mahasiswa sosial dan humaniora yang ingin mengangkat persoalan nyata di masyarakat.
Skripsi yang menunjukkan keberpihakan
Skripsi yang ditampilkan pada kegiatan ini merupakan skripsi terpilih dari puluhan skripsi yang didaftarkan oleh mahasiswa dan alumni FIB UGM. Menurut kami, skripsi ini tidak memperlihatkan masyarakat terpinggirkan sebagai korban pasif, melainkan sebagai subjek yang mampu menemukan cara bertahan di tengah ketidakadilan yang sistemik. Perspektif inilah yang menarik untuk dibagikan ke publik.
Skripsi pertama adalah identitas kolektif queer muda dalam epidemi HIV yang disusun oleh Cornelius Prabhaswara Marpaung, alumni Antropologi Budaya UGM. Ia menunjukkan bagaimana kelompok queer muda yang dianggap sebagai populasi problematik malah justru membangun dukungan dan berkontribusi dalam respons terhadap HIV melalui komunitas.
Dua skripsi lainnya berfokus pada kelompok perempuan. Skripsi Imtiyaz Putri Hanifa, alumni jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UGM, menghidupkan kembali suara perempuan pada masa Pergerakan Nasional lewat analisis cerpen koran Orgaan (1908–1942), menunjukkan bagaimana perempuan mengangkat isu poligami, pernikahan dini, hak pilih, pergerakan nasional, emansipasi melalui gerakan pers. Imtiyaz menegaskan bahwa sastra bukan hanya merekam sejarah, tetapi juga turut membentuk arah wacana dan perjuangan perempuan Indonesia.
Isu perempuan sebagai kelompok rentan juga ditemukan dalam skripsi Tabitha Raviola Bunga Inezwara, alumni jurusan Antropologi Budaya UGM. Ia mengangkat pengalaman pengungsi perempuan muda Hazara dari Afghanistan. Pengungsi yang selama ini keberadaannya dianggap sebagai hantu, berupaya untuk menegosiasikan nilai-nilai hidup untuk menjadi bagian dari masyarakat. Pandangan humanis yang dibawa oleh Tabitha turut mengubah perspektif kami soal pengungsi.

Skripsi ini menunjukkan keberpihakan pada pengalaman kelompok masyarakat yang jarang mendapat ruang. Para peneliti muda ini tidak hanya mengajarkan soal empati, tetapi juga mempertajam kepekaan kita sebagai manusia.
Sociological imagination: Memahami diri di tengah struktur yang tak kasatmata
Penulis dan sosiolog Okky Madasari mengaitkan cara berpikir skripsi ini dengan konsep sociological imagination yang diperkenalkan oleh C. Wright Mills. Sociological imagination merupakan kemampuan untuk memahami pengalaman personal dalam kaitannya dengan struktur sosial yang lebih luas. Mills percaya bahwa seseorang hanya bisa memahami dirinya jika ia juga memahami kondisi sosial yang membentuk hidupnya.

Dengan perspektif ini, pengalaman queer muda, perempuan dalam sastra koran, maupun pengungsi perempuan Hazara tidak dibaca sebagai kisah individual semata. Ia dipahami sebagai pengalaman yang terhubung dengan sejarah, kebijakan, budaya, dan relasi kuasa. Di sinilah penelitian humaniora untuk membantu kita melihat bahwa persoalan pribadi selalu berkelindan dengan persoalan sosial.
Hal ini turut divalidasi oleh salah satu peserta.
“Saya semakin memahami bahwa identitas kelompok terpinggirkan tidak tunggal, melainkan terbentuk dari pengalaman sosial, budaya, dan struktur kekuasaan. Diskusi ini juga membuka wawasan tentang bagaimana pemberdayaan harus berbasis kebutuhan dan suara mereka sendiri,” kata Aulia Amanda, mahasiswa UII Yogyakarta yang menjadi peserta Bedah Skripsi.
Menghidupkan semangat menyusun skripsi
Ruang Bedah Skripsi dipenuhi oleh deretan kursi yang terisi penuh. Mayoritas peserta adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang atau akan mengerjakan skripsi. Mereka antusias mencatat dan bertanya mengenai proses pengerjaan skripsi pada diskusi yang dipandu oleh Hayu Rahmitasari (Editor Pendidikan dan Budaya TCID). Pemandangan ini tentu menghadirkan kebahagiaan tersendiri bagi kami, karena menandakan bahwa tujuan kegiatan untuk menghidupkan kembali semangat mengerjakan skripsi di kalangan mahasiswa tingkat akhir benar-benar tercapai.
“Mindset yang perlu diperbaiki ialah bahwa skripsi sebaiknya dikerjakan bukan hanya sebatas ingin cepat lulus, tapi yang terpenting salah satunya yaitu bagaimana bisa bermanfaat dan relevan dalam menjawab kebutuhan zaman,” ungkap Imam Khairul Muslim, peserta diskusi.

The Conversation Indonesia terbuka untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi dan pusat riset yang ingin mengembangkan ruang-ruang seperti ini. Untuk kolaborasi, silakan hubungi: kemitraan@theconversation.com




Comments are closed.