Fenomena tokoh publik dan figur politik yang mengumpat di ruang publik kerap memicu kontroversi. Secara norma sosial, tindakan ini dianggap tidak etis dan bahkan sering melekat pada cap negatif. Seakan-akan, orang yang berkata kasar adalah individu yang kurang berpendidikan, atau bahkan memiliki IQ yang rendah.
Namun, jika dibedah melalui kacamata ilmu linguistik, ternyata fenomena ini memiliki fakta yang berbanding terbalik. Riset justru membuktikan bahwa mengumpat adalah salah satu ciri orang yang cerdas.
Di episode terbaru Podcast Suar Akademia kali ini, kami mengundang Elga Ahmad Prayoga, akademisi dari La Rochelle University, Prancis, untuk berdiskusi lebih dalam mengenai mengumpat sebagai tanda kecerdasan seseorang.
Elga menjelaskan bahwa secara psikolinguistik dan sosiolinguistik, seseorang yang mampu memilih kata kasar secara kontekstual justru menunjukkan kecerdasan berbahasa (linguistic intelligence). Mengumpat bukanlah tanda seseorang kekurangan kosakata, melainkan menandakan bahwa mereka menguasai perbendaharaan kata yang kaya dan juga memiliki kemampuan memilih diksi yang paling tepat untuk menyampaikan intensitas emosi secara ringkas.
Elga juga menambahkan bahwa dari sudut pandang psikologis, tutur kata kasar yang terlontar secara spontan cenderung mencerminkan kejujuran dan juga ketulusan. Sebuah umpatan sering kali dapat mewakili perasaan marah, kagum, atau kecewa secara ringkas tanpa perlu menyusun kalimat penjelasan yang panjang.
Tak hanya terkait dengan kecerdasan berbahasa, Elga juga menjelaskan bahwa mengumpat juga berfungsi sebagai mekanisme pertahanan biologis. Saat seseorang mengalami rasa sakit ketika terjatuh ataupun keseleo, kaget, maupun stres emosional yang hebat, refleks mengucapkan kata kasar juga terbukti membantu meredakan tekanan tersebut.
Secara biologis, respon ini yeng memicu bagian otak (amygdala) untuk melepaskan hormon endorfin, sebagai pereda rasa sakit dan pereda stres emosional (catharsis)
Namun, meskipun memiliki manfaat psikologis dan juga biologis, fakta ilmiah ini menurut Elga bukanlah lampu hijau untuk bisa menormalisasi ujaran kasar di sembarang tempat. Keberadaan kata-kata tabu harus tetap diekspresikan sesuai konteks yang tepat. Elga menambahkan bahwa kata-kata kasar harus tetap berada pada posisinya sebagai kata yang tabu. Jika kata kasar dinormalisasi dan diucapkan di semua situasi, maka efek atau manfaat biologisnya malah akan hilang.
Terlepas dari itu semua, Elga mengapresiasi kreativitas berbahasa masyarakat terutama generasi muda saat ini, yang mampu memodifikasi kata kasar yang tajam, menjadi terdengar lebih halus, misalnya dari kata “anjing” menjadi “anjir”, “anjay”, ataupun “bjir”. Menurutnya, ini merupakan suatu bentuk kecerdasan linguistik yang tampak di tengah masyarakat.
Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia—ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.





Comments are closed.