Wed,29 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Benarkah pornografi bikin kecanduan? Menurut riset, tidak sesederhana itu

Benarkah pornografi bikin kecanduan? Menurut riset, tidak sesederhana itu

benarkah-pornografi-bikin-kecanduan?-menurut-riset,-tidak-sesederhana-itu
Benarkah pornografi bikin kecanduan? Menurut riset, tidak sesederhana itu
service

Banyak dari kita mungkin cenderung menghindari topik pembicaraan tentang seks—baik di sekolah, tempat kerja, ataupun di meja makan. Obrolan soal seks dianggap tabu, sehingga anak dan remaja mencari informasi sendiri lewat pornografi.

Di Australia, sekitar 76% laki-laki dan 41% perempuan melaporkan telah melihat konten pornografi dalam setahun terakhir. Bahkan, 54% laki-laki dan 14% perempuan berusia 15–20 tahun mengaku mengakses pornografi setiap minggu.

Sementara di Indonesia, jumlah pengunjung situs porno yang sudah diblokir Komdigi pada 2022 mencapai 10,1 juta per bulan. Jumlah kunjungan totalnya mencapai 85,3 juta kali per bulan, dengan waktu kunjungan rata-rata 5 menit, 20 detik.

Kita mungkin pernah mendengar istilah “kecanduan pornografi”, yang digunakan untuk menggambarkan aktivitas mengonsumsi pornografi secara berlebihan hingga mengganggu kehidupan pribadi maupun orang terdekat.

Pertanyaannya, benarkah pornografi menyebabkan kecanduan? Penelitian terbaru menunjukkan bahwa jawabannya cukup rumit.

Perdebatan soal konsumsi pornografi

Bagi banyak orang, menonton pornografi adalah perilaku yang cukup wajar. Namun, sebagian lainnya mungkin menganggapnya sebagai perilaku bermasalah.

Sebuah studi tahun 2025 meneliti dampak pornografi terhadap kesehatan mental, emosional, dan fisik manusia. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pornografi pada dasarnya tidak berbahaya. Namun, dampaknya bisa berbeda pada setiap orang, bergantung pada konten yang dikonsumsi, siapa yang mengonsumsinya, dan bagaimana cara mengonsumsinya.

Penggunaan pornografi berlebihan bisa menjadi masalah jika sudah mengganggu keseharian kita. Untuk menggambarkan kondisi ini, para peneliti dan tenaga medis menggunakan istilah “penggunaan pornografi yang bermasalah” (problematic porn use). Istilah ini merujuk pada ketidakmampuan seseorang untuk mengendalikan konsumsi pornografi meskipun sudah berulang kali mencoba, dan mengalami konsekuensi negatif akibat aktivitas tersebut.

Sebuah survei global mengungkapkan bahwa 3 — 15% orang berpotensi mengalami penggunaan pornografi bermasalah. Kondisi ini umumnya lebih sering dialami laki-laki.

Apa penyebabnya?

Penggunaan pornografi bermasalah adalah isu kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor ini mencakup kondisi perkembangan saraf dan kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya, seperti ADHD atau depresi.

Ciri kepribadian tertentu (seperti sifat impulsif, rendahnya pengendalian diri, dan keinginan mencoba hal-hal baru) juga bisa berpengaruh.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah kondisi sosial dan budaya, seperti rendahnya kepuasan dalam hubungan romantis, isolasi sosial, hingga pengaruh agama. Orang-orang yang merasa kesepian atau kurang mendapat dukungan emosional lebih berisiko mengalami penggunaan pornografi yang bermasalah.

Bagi banyak orang dengan penggunaan pornografi bermasalah, mengonsumsi konten ini dapat menjadi lingkaran setan yang mengalihkan perhatian mereka dari hubungan dan tanggung jawab keseharian. Contohnya, penggunaan pornografi berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan pekerjaan karena kinerja yang memburuk.

Mereka juga bisa terisolasi dari teman dan keluarga. Berbagai konsekuensi ini sering kali memperburuk kesehatan mental dan fungsi harian mereka. Akibatnya, mereka makin sulit untuk mengendalikan konsumsi pornografi.

Siapa pun bisa mengalami penggunaan pornografi bermasalah dengan cara yang beragam. Para peneliti memaparkan beberapa bentuk utamanya, antara lain:

  • Kompulsivitas: Didefinisikan sebagai dorongan kuat dan sulit ditolak untuk menonton pornografi, terutama untuk meredakan ketegangan atau kecemasan yang menumpuk.
  • Impulsivitas: Konsumsi pornografi secara cepat dan spontan tanpa memikirkan konsekuensinya. Misalnya, menonton pornografi di komputer kantor.
  • Disregulasi emosi: Ketika seseorang beralih ke pornografi untuk mengelola emosi yang sulit, seperti stres, kebosanan, atau kesepian.
  • Pengalaman menyerupai kecanduan: Memiliki keinginan yang sangat kuat atau membutuhkan konten yang lebih ekstrem untuk bisa merasa puas.

Benarkah pornografi bikin kecanduan?

Penggunaan pornografi bermasalah saat ini dianggap sebagai salah satu jenis gangguan perilaku seksual kompulsif. Gangguan semacam ini ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengendalikan dorongan seksual yang kuat dan berulang selama setidaknya enam bulan, hingga pada titik mengabaikan tanggung jawab sehari-hari.

Meski begitu, penggunaan pornografi bermasalah pada tahap ini belum diakui secara resmi sebagai sebuah kecanduan. Kondisi ini tidak dikategorikan sebagai kecanduan dalam Klasifikasi Penyakit Internasional milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ataupun Manual Diagnostik dan Statistik Penyakit Mental milik Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat (APA). Keduanya adalah panduan internasional mengenai definisi dan diagnosis kondisi medis.

Namun, penting untuk dicatat, penelitian mengenai penggunaan pornografi bermasalah telah berkembang pesat sejak kedua buku panduan tersebut diterbitkan. Berbagai bukti, termasuk tinjauan internasional baru-baru ini, menunjukkan bahwa aktivitas ini dalam beberapa kasus dapat berfungsi layaknya perilaku kecanduan.

Semakin banyak pihak yang mendesak agar penggunaan pornografi bermasalah diklasifikasikan sebagai perilaku kecanduan. Hal ini akan menempatkannya dalam kategori yang sama dengan perilaku adiktif daring lainnya, seperti gangguan perjudian dan bermain gim.

Perilaku-perilaku tersebut mengaktifkan area yang sama pada sistem penghargaan (reward system) di otak manusia. Hanya saja, aktivitas seperti minum air juga memicu respons serupa, sehingga penting untuk memahami penelitian penggunaan pornografi bermasalah sesuai dengan konteks yang tepat.

Belum lama ini, sidang kasus kecanduan media sosial di Amerika Serikat memutuskan bahwa raksasa teknologi Meta dan Google terbukti dengan sengaja merekayasa platform mereka untuk membuat audiens ketagihan. Komponen desain serupa juga digunakan oleh banyak situs video dewasa populer—platform gratis tempat video porno diunggah dan ditonton.

Pornografi internet modern menawarkan akses tanpa batas yang memungkinkan orang untuk berpindah tab dan terus mencari konten baru selama sesi menonton tanpa henti. Penelitian menunjukkan bahwa perilaku tersebut dapat menjadi faktor yang meningkatkan risiko penggunaan pornografi bermasalah.

Kendati demikian, kita tetap perlu berhati-hati dalam menyebut penggunaan pornografi bermasalah sebagai sebuah kecanduan.

Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa banyak orang menganggap diri mereka kecanduan pornografi, meskipun penggunaannya jarang dan umumnya terkendali. Hal ini disebabkan oleh inkonsistensi moral, yaitu ketika seseorang memegang keyakinan agama atau nilai moral yang kuat dalam menentang pornografi, tetapi terus mengonsumsinya.

Tindakan ini dapat memicu tekanan batin maupun perasaan kecanduan yang kuat, bahkan ketika penggunaannya terkendali. Kondisi ini juga sering dikaitkan dengan beberapa kondisi kesehatan mental yang mendasarinya.

Apa yang bisa kita lakukan?

Jika dirimu atau orang yang kamu cintai merasa bahwa penggunaan pornografi sudah mengarah pada perilaku bermasalah, lakukan beberapa langkah praktis berikut:

  • Uraikan faktor pendorong perilaku ini. Tujuannya untuk memastikan kamu mendapatkan perawatan yang tepat. Misalnya, apakah penyebabnya benar-benar karena hilangnya kendali, konflik moral terkait penggunaan pornografi, ataupun kondisi mental seperti depresi?

  • Hubungi tenaga profesional berkualifikasi. Pastikan mereka punya kepakaran soal penggunaan pornografi bermasalah. Psikolog dapat menilai apakah tingkat konsumsi kamu lebih bersifat kompulsif, impulsif, atau menyerupai kecanduan. Mereka dapat menyarankan perawatan berbasis bukti, seperti terapi perilaku kognitif. Adapun seksolog dan terapis seks dapat membantu kamu memahami cara berinteraksi dengan pornografi, serta mengembangkan perilaku yang lebih sehat.

  • Waspadai informasi yang keliru. Ada banyak sekali misinformasi terkait isu ini, termasuk dari terapis atau konselor yang tidak berkualifikasi dan tidak menggunakan pendekatan berbasis bukti.

  • Diskusikan dengan rasa hormat dan kehati-hatian. Karena topik soal penggunaan pornografi bermasalah dapat memicu perasaan malu, takut, ataupun rasa bersalah yang mendalam.


Jika artikel ini membuatmu khawatir, atau jika kamu khawatir tentang seseorang yang kamu kenal, bicarakanlah dengan orang yang kamu percaya atau profesional kesehatan.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.