Mon,17 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. BMKG: El Nino Berpotensi Kuat, Musim Tanam Pertama Diprediksi Mundur

BMKG: El Nino Berpotensi Kuat, Musim Tanam Pertama Diprediksi Mundur

bmkg:-el-nino-berpotensi-kuat,-musim-tanam-pertama-diprediksi-mundur
BMKG: El Nino Berpotensi Kuat, Musim Tanam Pertama Diprediksi Mundur
service

Jakarta, NU Online

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 berpotensi menyebabkan mundurnya musim tanam pertama di sejumlah wilayah Indonesia. Meski demikian, BMKG menilai masih terdapat berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan sektor pertanian selama periode kemarau panjang tersebut.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemantauan perkembangan musim hingga akhir Mei 2026, sebanyak 200 dari 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia atau sekitar 11,83 persen luas daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Sementara itu, hasil pemantauan BMKG menunjukkan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur mencapai +1,0 pada akhir Mei 2026. Adapun Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia tercatat sebesar -0,56.

“Anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur telah melewati batas netral selama lima dasarian. BMKG memprediksi bahwa fenomena El Nino akan segera aktif dan akan terus bertahan hingga awal tahun 2027,” ujar Ardhasena dalam konferensi pers daring, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, peluang El Nino mencapai kategori moderat saat ini mencapai 98 persen, sementara peluang mencapai kategori kuat berada pada angka 62 persen.

“Dengan peluang intensitas El Nino mencapai kategori moderat sebesar 98 persen saat ini, dan mencapai kategori kuat sebesar 62 persen,” sambungnya.

Selain El Nino, BMKG juga memprediksi adanya peluang terjadinya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia pada periode Juni hingga November 2026.

Ardhasena menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena iklim global yang dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia dengan dampak yang berbeda-beda.

“Fenomena El Nino kita ketahui menyebabkan penyimpangan iklim di berbagai belahan dunia, tidak hanya di Indonesia, dengan pola dan dampak yang berbeda-beda,” ujarnya.

Untuk Indonesia, dampak utama yang diperkirakan terjadi adalah penurunan curah hujan sehingga kondisi cuaca menjadi lebih kering dibandingkan normal.

“Untuk wilayah Indonesia, El Nino menekan curah hujan. Jadi kondisinya lebih kering pada periode Juni 2026 hingga Januari 2027 pada umumnya. Namun sekitar Oktober 2026 kita sudah mulai memasuki musim hujan. Jadi ini hanya gambaran umum dampak El Nino,” jelasnya.

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat, khususnya sektor pertanian, untuk mengoptimalkan sistem irigasi serta menyesuaikan pilihan komoditas yang lebih adaptif terhadap kondisi kering.

Menurut Ardhasena, kemarau panjang memang berpotensi menyebabkan musim tanam pertama mundur. Namun, petani masih dapat memanfaatkan periode tersebut untuk menanam komoditas hortikultura yang sesuai dengan kondisi cuaca kering.

“Menghadapi musim kemarau yang panjang ini, berarti nanti musim tanam pertama bisa mundur. Tapi pada periode kering ini para petani juga bisa menyesuaikan dengan menanam tanaman hortikultura yang cocok pada kondisi tersebut. Jadi banyak hal yang masih bisa dilakukan menghadapi kondisi kemarau ini,” ujarnya.

Selain sektor pertanian, musim kemarau juga dinilai dapat memberikan dampak positif bagi sektor lain. BMKG memperkirakan kondisi cuaca yang lebih kering dapat mendukung peningkatan produksi garam oleh petambak.

Di sektor kelautan, musim kemarau juga berpotensi meningkatkan hasil tangkapan ikan di sejumlah wilayah yang dipengaruhi fenomena upwelling atau naiknya massa air laut dari lapisan bawah yang kaya nutrien ke permukaan.

“Selanjutnya, peningkatan hasil tangkapan ikan di beberapa wilayah yang dipengaruhi fenomena upwelling,” pungkas Ardhasena.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.