Pekalongan, Arina.id—Upaya mengatasi persoalan darurat sampah terus digencarkan melalui kolaborasi lintas lembaga. Salah satunya diwujudkan dalam kegiatan pelatihan pengelolaan sampah organik dan anorganik yang diselenggarakan di Pesantren Ibnu Abbas Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Kegiatan ini diinisiasi oleh tim penelitian MoRA The AIR Funds yang bekerja sama dengan Pusat Pengabdian Masyarakat UIN K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan serta Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan.
Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan santri, tenaga kebersihan pesantren, serta guru. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis dalam mendorong pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.
Ketua tim riset MoRA The AIR Funds, Nanang, dalam sambutannya menyampaikan bahwa program pendampingan pengelolaan sampah ini akan dilaksanakan di tiga pesantren di Kabupaten Pekalongan, yaitu Pesantren Ibnu Abbas di Wiradesa, Pesantren Syarief Hidayatullah di Wonopringgo, dan Pesantren Walindo di Siwalan.
Menurutnya, secara historis pesantren memiliki peran penting dalam menjawab persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.
“Hari ini, salah satu problem krusial yang dihadapi adalah persoalan sampah. Pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi solusi,” ujarnya dalam keterangan diterima Arina.id, Rabu (22/4).
Ke depan, program ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah semata, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kurikulum pesantren serta membekali santri dengan soft skill dalam memecahkan problem kehidupan nyata di masyarakat.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat UIN Gus Dur Pekalongan, Syamsul menyampaikan bahwa sampah yang selama ini dipandang sebagai beban, jika dikelola dengan baik justru dapat memberikan nilai ekonomi.
“Baik sampah organik maupun anorganik memiliki potensi untuk diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomis,” ungkapnya.
Ketua Yayasan Ibnu Abbas, Budi Harjo, menyambut baik program ini dan berkomitmen untuk mendukung penuh implementasi pengelolaan sampah di lingkungan pesantren.
Ia bahkan menegaskan kesiapan pesantren dalam mendorong konsep zero waste serta pengembangan ekonomi sirkular berbasis pengelolaan sampah.
“Kegiatan ini diharapkan pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi motor penggerak perubahan sosial, khususnya dalam menghadapi krisis lingkungan dan persoalan sampah yang semakin kompleks,” jelasnya.
Kegiatan dihadiri oleh Ketua Yayasan Ibnu Abbas, Budi Harjo, Mudir Pesantren Ahfadl Saefuddin, Kepala Sekolah Ali Mahdi, serta Koordinator Pengelolaan Sampah Amiruddin.
Materi pelatihan pengelolaan sampah organik disampaikan oleh Ridho, seorang aktivis pengelolaan sampah dari Mulyorejo, serta Rudi dari komunitas Banyu Larva yang telah berpengalaman dalam pengolahan sampah berbasis organik dan pemberdayaan masyarakat.





Comments are closed.