Arina.id – Jenazah mendiang pimpinan tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei dijadualkan akan dimakamkan pada Kamis (9/7/2026) di Kota Mashhad—kota kelahirannya. Sebelum itu, Jasad Ali Khamenei di singgahkan di beberapa tempat, termasuk di Grand Mosalla di Teheran untuk diberikan penghormatan terakhir oleh beberapa tamu undangan delegasi dari berbagai negara dan aliansi Iran pada Sabtu (4/7/2026).
Menariknya, setiap delegasi tamu undangan tersebut dibacakan ayat Al-Qur’an dengan ayat tertentu ketika mereka berdiri di hadapan jenazah mendiang Ali Khamenei untuk memberikan penghormatan terakhir. Salah satunya adalah delegasi dari Arab Saudi yang diwakili oleh Waleed bin Abdul Karim al-Khuraiji Wakil Menteri Luar Negeri Arab Saudi.
Banyak para pakar yang menilai bahwa pembacaan ayat yang spesifik tersebut merupakan bentuk diplomasi politik Iran yang menyiratkan pesan untuk negara yang bersangkutan. Meskipun demikian, pihak pemerintah Iran sendiri tidak memberikan keterangan jelas maksud dan tujuan pembacaan ayat Al-Qur’an tersebut.
Ayat yang dibacakan kepada Waleed bin Abdul Karim adalah ayat ke-13 surat Ali Imran, sebagaimana berikut:
قَدْ كَانَ لَكُمْ اٰيَةٌ فِيْ فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا ۗفِئَةٌ تُقَاتِلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَاُخْرٰى كَافِرَةٌ يَّرَوْنَهُمْ مِّثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۗوَاللّٰهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ
Artinya: “Sungguh, telah ada tanda (bukti) bagimu pada dua golongan yang bertemu (dalam pertempuran) Satu golongan berperang di jalan Allah dan (golongan) yang lain kafir yang melihat dengan mata kepala bahwa mereka (golongan muslim) dua kali lipat jumlahnya. Allah menguatkan siapa yang Dia kehendaki dengan pertolongan-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata hati).”
Ayat tersebut menurut para pakar tafsir seperti Muhammad Amin al-Harari, pakar tafsir dari Ethiopia yang menetap di Makkah, dalam tafsirnya Hadaiqur Ruh war Rayhan fi Rawabi Ulumil Qur’an [Beirut: Dar Thouq al-Najat, 2001, vol. 4, hlm. 200.] berbicara tentang Perang Badar. Perang di mana secara kuantitas pasukan sangat tidak mungkin bagi pihak Muslimin untuk memenangkannya.
Ditulis oleh al-Harari bahwa tentara muslim hanya berjumlah 313 orang, 77 dari kalangan Muhajirin yang dikordinir oleh Ali bin Abi Talib di bawah panjinya, dan 236 dari kalangan Anshar yang dikoordinir oleh Saad bin Ubadah di bawah panjinya. Mereka diperkuat dengan persenjataan seadanya, 70 ekor unta yang dibagi setiap 4 pasukan, 2 ekor kuda yang ditunggangi oleh Miqdad bin Amr dan Martsad bin Abi Martsad, enam baju zirah, dan delapan buah pedang.
Sedangkan dari kubu kafir Qurays berjumlah 950 pasukan lengkap dengan baju zirah, di antaranya adalah Abu Sufyan dan Abu Jahal. Mereka dipimpin oleh panglima perang Utbah bin Rabiah bin Abd Syams dengan 100 penunggang kuda, dan 700 unta.
Akan tetapi, Allah menurunkan pertolongan-Nya sehingga umat Islam bisa memenangkan perang tersebut sebagaimana dalam ayat ini. Muhammad Tahir bin Asyur dalam tafsirnya al-Tahrir wa al-Tanwir [Tunisia: Maktabah Tunisia, 1984, vol. 3, hlm. 177.] mencatatat bahwa Allah mengubah pandangan mata masing-masing kedua kubu sehingga memengaruhi terhadap kondisi psikologis mereka.
Kaum kafir Qurays melihat jumlah pasukan umat Islam seperti dua kali lipat jumlah mereka (sekitar 2000-an pasukan), sehingga mereka takut dan gentar meskipun kenyataannya hanya sepertiga mereka. Sedangkan pasukan umat Islam memandang jumlah pasukan kafir Qurays hanya dua kali lipat jumlah pasukan mereka (sekitar 600-an pasukan), sehingga mereka berani seperti duel satu lawan dua orang, meskipun kenyataannya jumlah pasukan kafir Qurays adalah tiga kali lipat pasukan umat Islam.
Wahbah bin Mustafa al-Zuhaili dalam tafsirnya Tafsir al-Munir [Beirut: Darul Fikr, 1991, vol. 3, hlm. 161] menjelaskan bahwa sugesti penglihatan yang diberikan oleh Allah kepada pasukan muslim layaknya mereka berduel satu lawan dua sebagaimana dalam surat al-Anfal ayat 66 berikut:
اَلْـٰٔنَ خَفَّفَ اللّٰهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ اَنَّ فِيْكُمْ ضَعْفًاۗ فَاِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ مِّائَةٌ صَابِرَةٌ يَّغْلِبُوْا مِائَتَيْنِۚ وَاِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ اَلْفٌ يَّغْلِبُوْٓا اَلْفَيْنِ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: “Sekarang (saat turunnya ayat ini) Allah telah meringankan kamu karena Dia mengetahui sesungguhnya ada kelemahan padamu. Jika di antara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh) dan jika di antara kamu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Al-Zuhaili memberikan kesimpulan bahwa pertolongan Allah tersebut diperoleh atas dasar mereka-mereka adalah orang-orang yang para pejuang agama Allah, sebagaimana catatannya berikut:
إن في هذا النصر الحاصل في بدر مع قلة عدد المسلمين وكثرة عدوهم عظة لمن عقل وتدبر، وأعمل البصيرة والفكر، ليهتدي به إلى حكم الله وأفعاله وقدره الجاري بنصر عباده المؤمنين في الدنيا والآخرة، بشرط نصرة دين الله
Artinya: “Pertolongan Allah dalam perang Badar ini memandang minimnya pasukan Muslimin dan maksimalnya pasukan musuh adalah bentuk pembelajaran bagi orang yang befikir dan bertadabur, dan mengimplementasikan pandangan dan pikirannya untuk bisa mendapatkan petunjuk terhadap hukum Allah, perbuatan dan takdir-Nya yang berlaku dengan menolong hamba-hamba-Nya yang mukmin di dunia dan akhirat, dengan syarat menolong agama-Nya.”
Arab Saudi dinilai secara diam-diam membela pihak Amerika dalam ketegangan regional Timur Tengah pada konflik Iran-Amerika. Bahkan Arab Saudi secara diam-diam mengizinkan pihak Washington untuk melakukan operasi militer di wilayahnya.
Menurut banyak pakar geopilitik, ayat ini merupakan sindiraan Iran kepada Arab Saudi yang tidak mengambil sikap tegas terhadap Amerika, dan tidak mendukung Iran yang notabene sesama negara Muslim dan sesama Timur Tengah.
Ayat tersebut juga menurut para pengamat menunjukkan peran Iran yang terus bertahan melawan gempuran negara adidaya Amerika Serikat, seakan mereka mendapatkan pertolongan Allah dengan membela agama-Nya, sehingga mereka bisa bertahan dan cenderung menjadi pihak yang dimenangkan dalam konflik ini. Wallahu a’lam.





Comments are closed.