Kulit ular yang terselip di antara ranting dan rerumputan sarang burung sering dianggap kebetulan, sisa material yang tak sengaja terbawa saat burung membangun sarangnya. Kebiasaan ini juga bukan perilaku segelintir spesies saja, sebab puluhan jenis burung di berbagai belahan dunia diketahui melakukan hal serupa, termasuk House Wren (Troglodytes aedon) yang bersarang di rongga pohon dan Blue Grosbeak (Passerina caerulea) yang membangun sarang cangkir terbuka. Namun fenomena ini sebenarnya telah membingungkan peneliti dan naturalis selama lebih dari satu abad, sebab kulit ular yang kering dan kaku itu jelas tidak menawarkan kehangatan atau kenyamanan bagi telur yang akan menetas. Mengapa burung bersusah payah mencari dan membawa material yang tidak lazim ini ke dalam sarangnya, alih-alih menggunakan bahan yang lebih mudah didapat di sekitarnya? Studi terbaru yang dipimpin Vanya Rohwer, kurator di Cornell University Museum of Vertebrates, akhirnya menjawab teka-teki tersebut. Kulit ular bukan bahan sarang yang tercecer begitu saja, melainkan alat pertahanan yang sengaja dicari burung untuk melindungi telur dan anak-anaknya dari predator. Rohwer mencatat bahwa kulit ular tergolong material yang jarang ditemukan begitu saja di alam bebas, sehingga upaya burung memburunya menunjukkan bahwa benda ini memang sengaja dikejar sebagai aset berharga, bukan sekadar dipungut karena kebetulan tersedia di sekitar sarang. Jejak dari Kartu Kolektor Telur Kuno Untuk menguji dugaan ini, Rohwer dan timnya menelusuri data dari 78 spesies burung dari 22 famili berbeda yang tercatat pernah membawa kulit ular ke sarangnya. Mereka memanfaatkan sumber sejarah yang tak biasa, yaitu kartu catatan telur dari koleksi Western Foundation of Vertebrate Zoology yang berasal…This article was originally published on Mongabay
Burung-burung Ini Mencuri Kulit Ular, Ilmuwan Butuh 1 Abad Pecahkan Misterinya
Burung-burung Ini Mencuri Kulit Ular, Ilmuwan Butuh 1 Abad Pecahkan Misterinya





Comments are closed.