Hutan yang utuh, belum tentu menjadi rumah nyaman bagi satwa, khususnya siamang (Symphalangus syndactylus). Anggota terbesar keluarga owa (Hylobatidae) ini, hidup di kanopi hutan hujan, dari dataran rendah hingga pegunungan Sumatera. Sebuah penelitian menunjukkan, kebisisingan yang disebabkan manusia (antropogenik), seperti suara lalu lintas, mesin pemecah beton, dan musik membuat primata ini menempuh perjalanan lebih jauh. “Respon paling kuat terhadap suara lalu lintas dan mesin pemecah beton,” tulis D’Agostino dan kolega melalui penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Ethology pada Juni 2025. Para peneliti mengamati tujuh kelompok siamang di empat lokasi di Sumatera Utara, yakni Sikundur, Ketambe, Kutapanjang, dan Soraya. Mereka kemudian melakukan eksperimen pemutaran suara berulang atau playback experiment. Anakan siamang ini dirawat di Pusat Rehabilitasi Satwa Punti Kayu Palembang, Sumatera Selatan. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Ada empat suara yang digunakan. Pertama, suara jackhammer, mesin pemecah beton. Kedua, suara lalu lintas kendaraan. Ketiga, musik rock. Sebagai pembanding, peneliti menggunakan suara tonggeret atau cicada, suara alami yang biasa ditemukan di hutan. Keempat, suara itu diperdengarkan sekitar tiga menit dengan tingkat suara mendekati 90 desibel. Dengan menggunakan suara alami sebagai kontrol, peneliti dapat melihat apakah siamang sekadar bereaksi terhadap suara keras, atau memang menunjukkan respon berbeda terhadap suara yang berasal dari aktivitas manusia. Hasilnya menarik. Setelah mendengar suara antropogenik, kelompok siamang cenderung meningkatkan jarak perjalanannya dan bergerak menjauh dari sumber suara. Respons paling jelas terlihat setelah paparan suara lalu lintas dan jackhammer. Dalam salah satu pengukuran, siamang bergerak rata-rata sekitar 103,86 meter dari sumber suara lalu lintas, dibandingkan sekitar 51,14 meter setelah mendengar…This article was originally published on Mongabay
Polusi Suara Bikin Siamang Tak Nyaman Menjelajah Hutan Sumatera
Polusi Suara Bikin Siamang Tak Nyaman Menjelajah Hutan Sumatera





Comments are closed.