Wed,9 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Polusi Suara Bikin Siamang Tak Nyaman Menjelajah Hutan Sumatera

Polusi Suara Bikin Siamang Tak Nyaman Menjelajah Hutan Sumatera

polusi-suara-bikin-siamang-tak-nyaman-menjelajah-hutan-sumatera
Polusi Suara Bikin Siamang Tak Nyaman Menjelajah Hutan Sumatera
service

Hutan yang utuh, belum tentu menjadi rumah nyaman bagi satwa, khususnya siamang (Symphalangus syndactylus). Anggota terbesar keluarga owa (Hylobatidae) ini, hidup di kanopi hutan hujan, dari dataran rendah hingga pegunungan Sumatera. Sebuah penelitian menunjukkan, kebisisingan yang disebabkan manusia (antropogenik), seperti suara lalu lintas, mesin pemecah beton, dan musik membuat primata ini menempuh perjalanan lebih jauh. “Respon paling kuat terhadap suara lalu lintas dan mesin pemecah beton,” tulis D’Agostino dan kolega melalui penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Ethology pada Juni 2025. Para peneliti mengamati tujuh kelompok siamang di empat lokasi di Sumatera Utara, yakni Sikundur, Ketambe, Kutapanjang, dan Soraya. Mereka kemudian melakukan eksperimen pemutaran suara berulang atau playback experiment. Anakan siamang ini dirawat di Pusat Rehabilitasi Satwa Punti Kayu Palembang, Sumatera Selatan. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Ada empat suara yang digunakan. Pertama, suara jackhammer, mesin pemecah beton. Kedua, suara lalu lintas kendaraan. Ketiga, musik rock. Sebagai pembanding, peneliti menggunakan suara tonggeret atau cicada, suara alami yang biasa ditemukan di hutan. Keempat, suara itu diperdengarkan sekitar tiga menit dengan tingkat suara mendekati 90 desibel. Dengan menggunakan suara alami sebagai kontrol, peneliti dapat melihat apakah siamang sekadar bereaksi terhadap suara keras, atau memang menunjukkan respon berbeda terhadap suara yang berasal dari aktivitas manusia. Hasilnya menarik. Setelah mendengar suara antropogenik, kelompok siamang cenderung meningkatkan jarak perjalanannya dan bergerak menjauh dari sumber suara. Respons paling jelas terlihat setelah paparan suara lalu lintas dan jackhammer. Dalam salah satu pengukuran, siamang bergerak rata-rata sekitar 103,86 meter dari sumber suara lalu lintas, dibandingkan sekitar 51,14 meter setelah mendengar…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.