Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Permasalahan lingkungan di Indonesia kian kompleks. Kebijakan yang terus berubah dan beragam tantangan lapangan mempengaruhi lanskap alam hingga keanekaragaman hayati yang ada. Sayangnya, upaya pelestarian seringkali bertabrakan dengan kepentingan ekonomi dan politik. Keanekaragaman spesies, seperti ikan keli ako di Sumatera Selatan, babi kutil Bawean hingga kerbau di Kalimantan Selatan kian terancam akibat kerusakan dan eksploitasi sumber daya alam. Tak hanya sampai di situ, minimnya pengawasan terhadap sektor industri seperti pertambangan dan perkebunan kian memperparah. Apalagi kebijakan yang tidak cukup tegas untuk mencegah kerusakan yang lebih parah. Lima artikel ini akan mengulas beberapa kasus konkret yang terjadi di tingkat tapak. Upaya pelestarian ekosistem terus dilakukan, namun seringkali terhalang oleh ketimpangan kebijakan dan kurangnya kesadaran akan pentingnya keberlanjutan. 1. Ada ikan penghuni akar pohon di Sungai Musi, apakah itu? Keli ako, spesies Clarias yang memiliki tubuh paling panjang di antara spesies Clarias lainnya. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia Ikan ini mirip lele, berwarna cokelat gelap dengan warna kekuningan bagian bawah perut. Masyarakat Tempirai, Sumatera Selatan menyebutnya Keli Ako. Ikan ini memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan ekosistem rawa. Ikan ini sangat senang berkumpul di bawah akar pohon seperti ketiau, meranti, bitis, mengkeris, rengas, paku, kecapi kre dan medangsang. Mereka bisa bertahan di lingkungan minim oksigen seperti rawa gambut. Sayangnya, ikan ini terancam habitatnya. Bagaimana nasib kelestariannya? 2. Babi kutil Bawean sering ‘bertamu’ ke ladang warga, bagaimana upaya konservasi yang tepat? Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA) melakukan usaha konservasi ex…This article was originally published on Mongabay
Cerita dari Spesies Terancam hingga Warga Melawan
Cerita dari Spesies Terancam hingga Warga Melawan





Comments are closed.