Aleta Kornelia Baun, masih ingat betul ketika bersama para perempuan adat Mollo mengusir perusahaan tambang batu marmer yang merusak dan merampas ruang hidup mereka selama tiga dekade. Bukan dengan perang atau kekerasan, melainkan dengan aksi damai sambil menenun. Kisah perjuangan Mama Aleta, bermula ketika sejumlah perusahaan tambang mendapat izin dari pemerintah menambang di Bukit Anjaaf dan Nausus, Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 1980. Tak ada persetujuan masyarakat sama sekali. Deretan bukit itu bagian dari ekosistem Gunung Mutis, wilayah yang tak hanya menopang kehidupan, juga memiliki keterikatan kosmologis dan spiritual dengan masyarakat adat setempat. Masyarakat resah dan protes saat aktivitas tambang mengakibatkan deforestasi, longsor dan pencemaran sungai. Perjuangan perempuan adat selama bertahun-tahun ini tak sia-sia. Setelah melalui berbagai dinamika perlawanan, perusahaan tambang berhasil mereka usir pada 2010. Perempuan kelahiran tahun 1966 ini bilang, mempertahankan alam adalah soal menjaga keberlangsungan hidup dan identitas. Mereka, mengibaratkan alam sebagai anggota tubuh. “Gunung dan alam itu dilambangkan sebagai tubuh manusia. Seperti air adalah darah, tanah adalah daging, hutan adalah rambut, dan pori-pori batu adalah tulang. Jadi ketika salah satu hilang, maka dia sudah lumpuh. Dia bukan hidup lagi, tapi dia adalah mayat,” kata Aleta kepada Mongabay, Sabtu, (8/8/26). Melalui UU 11/1967, UU 5/1967 dan UU 1/1967, pada dekade 1980-an, tambang dalam kawasan hutan seperti Gunung Mutis tergolong legal. Saat itu, negara memegang kendali penuh atas izin pengelolaan tanpa kewajiban meminta persetujuan masyarakat adat. Tambang mulai terlarang dalam kawasan konservasi setelah pemerintah menerbitkan UU 41 tahun 1999 tentang kehutanan. Mama Aleta Baun bersama…This article was originally published on Mongabay
Cerita Para Perempuan Penjaga Kampung
Cerita Para Perempuan Penjaga Kampung





Comments are closed.