Idrus bergeming memandang ke arah muara yang tak jauh dari sawahnya di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dari sana, air asin pernah masuk ke daratan dan merendam tanamannya yang dia rawat berbulan-bulan. Panen yang semestinya menjadi sumber penghidupan justru berujung kerugian. Kini, harapan ada baru memulihkan ekosistem mangrove bersama kehadiran tambak. Sebelum itu, ketika hutan mangrove tergerus tambak, intrusi air laut ke daratan. “Kalau air laut pasang, tanaman yang di sini mati semua. Gagal panen,” ucap Idrus sembari menunjuk petakan sawah di ujung. Baginya, persoalan itu bukan sekadar tentang air laut yang masuk ke sawah. Lebih jauh, menggambarkan berubahnya wajah pesisir Sugian. Hutan mangrove yang dulu memenuhi sepanjang pesisir semakin berkurang. Ketika pelindung alami itu hilang, air laut menjadi lebih mudah mencapai daratan. Abrasi meningkat dan intrusi air laut mulai mengganggu lahan pertanian warga. Apalagi, posisi lahan pertanian memang berdekatan dengan pesisir, bahkan nyaris tak berjarak dengan pantai. Pengalaman Idrus memperlihatkan bagaimana kerusakan ekosistem pesisir pada akhirnya kembali kepada masyarakat yang hidup di sekitarnya. Dampaknya tak hanya terjadi di muara, tetapi merambat ke sawah dan sumber penghidupan warga lainnya. Tidak jauh dari sana, Jamil sibuk dengan tambaknya. Di sebuah petak berukuran 8×5 meter, dia taburkan potongan-potongan kepala ayam untuk pakan kepiting bakau yang dia budidayakan. “Kami kan tidak punya pilihan lain. Selain melaut ya tambak ini. Kalau gak, darimana kami dapat uang,” ucap Jamil sambil menebar pakan di tambaknya. Kondisi ini menyimpan cerita panjang tentang pesisir Sugian. Satu sisi, masyarakat perlun tambak untuk mendapatkan penghasilan.…This article was originally published on Mongabay
Harapan Pulihkan Mangrove di Tengah Tambak Pesisir Sugian
Harapan Pulihkan Mangrove di Tengah Tambak Pesisir Sugian





Comments are closed.