Fri,28 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Harapan Pulihkan Mangrove di Tengah Tambak Pesisir Sugian

Harapan Pulihkan Mangrove di Tengah Tambak Pesisir Sugian

harapan-pulihkan-mangrove-di-tengah-tambak-pesisir-sugian
Harapan Pulihkan Mangrove di Tengah Tambak Pesisir Sugian
service

Idrus bergeming memandang ke arah muara yang tak jauh dari sawahnya di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dari sana, air asin pernah masuk ke daratan dan merendam tanamannya yang dia rawat berbulan-bulan. Panen yang semestinya menjadi sumber penghidupan justru berujung kerugian. Kini, harapan ada baru memulihkan  ekosistem mangrove bersama kehadiran tambak. Sebelum itu, ketika hutan mangrove tergerus tambak, intrusi air laut ke daratan. “Kalau air laut pasang, tanaman yang di sini mati semua. Gagal panen,” ucap Idrus sembari menunjuk petakan sawah di ujung. Baginya, persoalan itu bukan sekadar tentang air laut yang masuk ke sawah. Lebih jauh, menggambarkan berubahnya wajah pesisir Sugian. Hutan mangrove yang dulu memenuhi sepanjang pesisir semakin berkurang. Ketika pelindung alami itu hilang, air laut menjadi lebih mudah mencapai daratan. Abrasi meningkat dan intrusi air laut mulai mengganggu lahan pertanian warga. Apalagi, posisi lahan pertanian memang berdekatan dengan pesisir, bahkan nyaris tak berjarak dengan pantai. Pengalaman Idrus memperlihatkan bagaimana kerusakan ekosistem pesisir pada akhirnya kembali kepada masyarakat yang hidup di sekitarnya. Dampaknya tak hanya terjadi di muara, tetapi merambat ke sawah dan sumber penghidupan warga lainnya. Tidak jauh dari sana, Jamil sibuk dengan tambaknya. Di sebuah petak berukuran 8×5 meter, dia taburkan potongan-potongan kepala ayam untuk pakan kepiting bakau yang dia budidayakan. “Kami kan tidak punya pilihan lain. Selain melaut ya tambak ini. Kalau gak, darimana kami dapat uang,” ucap Jamil sambil menebar pakan di tambaknya. Kondisi ini menyimpan cerita panjang tentang pesisir Sugian. Satu sisi, masyarakat perlun tambak untuk mendapatkan penghasilan.…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.