“Api dah nyebrang dah. Tarik je la selang tu, mesin tak idup,” kata Riki Wibowo, warga Desa Temeran, Kecamatan Bengkalis, Bengkalis, Riau, kepada rekannya yang berdiri di dekat gulungan selang air. Dia dan beberapa pemuda memantau pergerakan api dengan cepat membakar lahan di desanya pada 13 Februari 2026. Mesin pompa air yang mereka bawa tidak dapat digunakan karena kondisi air di kanal sudah mengering. Sejak 12 Februari malam, air di kanal terus dipompa hampir satu jam menyirami lahan gambut untuk menahan api tidak masuk membakar kebun di desa mereka. Siang itu, mereka perlu menunggu agar air kembali tersedia di kanal dekat api yang mulai menjalar. Riki bergerak mendokumentasikan pergerakan api yang membakar pepohonan dan semak, makin dekat ke lokasi tempat dia berdiri. Sesekali dia menggosok mata, perih. Mendengus hidung, sulit bernapas di tengah asap yang terus mengepul. Asap putih terus menyeruak di udara, api oranye mendekat di belakangnya, dan suara-suara api yang menghanguskan batang, ranting dan dedaunan terdengar makin besar. Di belakang Riki, beberapa warga berteriak memberi kabar kepada warga lain agar bergerak cepat. “Tak de can ni do–tidak ada harapan menghalau api,” ujar rekan Riki menimpali sembari membantu menarik selang mesin air untuk menjauh dari sumber api. Api itu sudah memasuki Temeran. Pantauan lokasi karhutla yang terjadi di Desa Kelebuk, Damai dan Temeran menggunakan drone. Tampak asap tebal mengepul dan api melahap area hutan dan kebun warga pada 13 Februari 2026. Foto Dokumentasi warga/Ismail Karhutla menyebar Tak hanya Desa Temeran, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyebar di Riau…This article was originally published on Mongabay
Cerita Warga Berjibaku Tangani Karhutla di Riau [1]
Cerita Warga Berjibaku Tangani Karhutla di Riau [1]





Comments are closed.