Foto oleh Yosafat Gusti di Unsplash
Ketika hutan dibuka, perhatian publik biasanya tertuju pada perusahaan di sektor perkebunan, pertambangan, atau energi. Namun, kegiatan tersebut juga membutuhkan pembiayaan.
Di balik aktivitas ekonomi yang berdampak terhadap hutan, terdapat keputusan kredit dan investasi. Melalui keputusan itu, lembaga keuangan dapat ikut menentukan sektor usaha yang memperoleh dukungan modal.
Perspektif tersebut menjadi fokus penelitian Dewi Wulansari, S.E., M.Sc., dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Ia mengkaji peran praktik keberlanjutan lembaga keuangan dalam menekan deforestasi melalui disertasi doktoralnya di Cardiff University.
Dewi lulus ujian doktoral pada Juli 2026 dengan disertasi berjudul Exploring Sustainability and Accountability Practices and Their Role to Halt Deforestation in Indonesia’s Financial Institutions.
Ketika Pembiayaan Menentukan Arah Usaha
Ketertarikan terhadap topik tersebut muncul setelah Dewi mengikuti sesi-sesi dalam Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau COP26.
Dalam pembahasan mengenai perubahan iklim, perhatian sering kali lebih banyak diarahkan kepada perusahaan yang memiliki dampak langsung terhadap lingkungan. Sektor pertambangan, energi, dan perkebunan menjadi beberapa contoh yang kerap disoroti.
Padahal, lembaga keuangan memiliki pengaruh melalui kebijakan pembiayaan dan investasi. Dukungan modal yang diberikan dapat mendorong aktivitas usaha yang lebih berkelanjutan atau justru memperkuat kegiatan yang berisiko terhadap lingkungan.
“Sektor keuangan memiliki posisi yang sangat strategis dalam mendukung upaya pengurangan deforestasi,” jelas Dewi.
Meneliti 296 Laporan Keberlanjutan
Untuk melihat praktik keberlanjutan di sektor keuangan, penelitian ini menganalisis 296 laporan keberlanjutan lembaga keuangan di Indonesia pada periode 2020 hingga 2021.
Data tersebut dilengkapi wawancara dengan berbagai pihak, mulai dari regulator, pelaku industri perbankan, investor, organisasi masyarakat sipil, peneliti, hingga perwakilan masyarakat adat.
Penelitian menggunakan Dramaturgical Theory dari Erving Goffman. Kerangka teori tersebut dipakai untuk membandingkan narasi keberlanjutan yang ditampilkan lembaga keuangan dengan praktik yang benar-benar dijalankan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa sejumlah inisiatif keberlanjutan masih lebih berorientasi pada pembentukan citra perusahaan. Prinsip keberlanjutan belum sepenuhnya menjadi bagian dari proses bisnis utama lembaga keuangan.
Berbagai program memang telah dijalankan, seperti reboisasi berbasis tanggung jawab sosial perusahaan, kebijakan ESG, tata kelola keberlanjutan, sertifikasi, dan kemitraan. Akan tetapi, penerapannya masih dipengaruhi oleh kepatuhan terhadap regulasi, tuntutan investor, serta kepentingan bisnis.
Program Hijau Perlu Masuk ke Bisnis Utama
Dampak yang lebih besar, menurut Dewi, dapat dicapai apabila prinsip lingkungan diterapkan dalam kegiatan utama lembaga keuangan.
Hal itu mencakup proses penilaian kredit dan pengambilan keputusan investasi. Dampak lingkungan dari kegiatan usaha calon penerima pembiayaan perlu menjadi bagian dari pertimbangan lembaga keuangan.
Program penanaman kembali hutan tetap penting. Namun, kegiatan tersebut tidak akan cukup apabila pembiayaan masih mengalir ke sektor atau aktivitas yang berpotensi mempercepat deforestasi.
“Saat ini OJK telah memiliki roadmap keuangan berkelanjutan, dan saya berharap kebijakan tersebut terus berkembang. Jika inisiatif keberlanjutan dilakukan sesuai dengan core business, dampaknya akan jauh lebih besar dibandingkan sekadar menjalankan program reforestasi sebagai bentuk pencitraan,” ujar Dewi.
Temuan itu diharapkan dapat menjadi masukan bagi Otoritas Jasa Keuangan untuk memperkuat penerapan keuangan berkelanjutan di Indonesia.
Riset Berlanjut ke Kurikulum
Setelah menyelesaikan studi doktoral, disertasi tersebut akan dikembangkan menjadi tiga artikel untuk jurnal internasional bereputasi.
Selain publikasi, hasil penelitian juga diharapkan memperkuat pembelajaran mengenai keberlanjutan di FEB UGM. Salah satu rencananya adalah mengembangkan mata kuliah dan kurikulum yang mengintegrasikan aspek keberlanjutan di Program Studi Akuntansi.
Melalui pembelajaran tersebut, mahasiswa dapat memahami hubungan antara keputusan bisnis, pembiayaan, dan dampak lingkungan.
“Harapan saya, ilmu yang saya bagikan kepada mahasiswa dan penelitian terkait keberlanjutan yang saya lakukan dapat memberikan dampak bagi masyarakat Indonesia,” ucap Dewi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News





Comments are closed.