Tue,25 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Letusan Gunung Samalas 1257 di Lombok yang Memicu Krisis Besar di Eropa

Letusan Gunung Samalas 1257 di Lombok yang Memicu Krisis Besar di Eropa

letusan-gunung-samalas-1257-di-lombok-yang-memicu-krisis-besar-di-eropa
Letusan Gunung Samalas 1257 di Lombok yang Memicu Krisis Besar di Eropa
service

Danau Segara Anak, danau kawah yang terbentuk di bekas tubuh Gunung Samalas setelah letusan besarnya pada 1257. Hanif Dzaki, via Wikimedia Commons,


Tahun 1258 tercatat sebagai salah satu periode terburuk dalam sejarah Eropa abad pertengahan. Catatan kronik dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia merekam cuaca ekstrem yang muncul mendadak, musim panas diwarnai hujan deras berkepanjangan, suhu udara merosot tajam, dan kabut tebal menutupi sinar matahari.

Kondisi ini membuat gandum, jelai, dan tanaman pangan lain gagal tumbuh dan membusuk di ladang, memicu krisis pangan yang menyebabkan banyak kematian serta kekacauan politik di sejumlah kerajaan Eropa.

 Ilustrasi

info gambar

Ilustrasi “Henry III and the Barons” karya Arthur David McCormick menggambarkan ketegangan antara Raja Henry III dan para bangsawan Inggris, konflik yang memuncak pada Provisions of Oxford 1258 di tengah krisis pangan akibat letusan Gunung Samalas. Sumber: Arthur David McCormick, Hutchinson’s Story of the British Nations (London, c. 1922). Domain publik, via Wikimedia Commons.


Selama ratusan tahun, penyebab pasti krisis ini menjadi teka-teki bagi para sejarawan, hingga pada tahun 2013 sebuah riset multidisiplin internasional mengonfirmasi bahwa sumbernya berasal dari Indonesia, yaitu letusan Gunung Samalas di Pulau Lombok pada pertengahan tahun 1257. Samalas saat itu adalah gunung yang berdiri sendiri di sebelah Gunung Rinjani, diperkirakan mencapai ketinggian sekitar 4.200 meter.

Letusan yang tergolong salah satu yang terbesar dalam sepuluh ribu tahun terakhir ini menghancurkan tubuh Samalas dan membentuk kaldera besar yang kini dikenal sebagai Danau Segara Anak, sementara Rinjani yang menjulang di tepi kaldera tersebut tetap berdiri hingga sekarang. Letusan ini juga memusnahkan Pamatan, ibu kota sebuah kerajaan di Lombok, dan melontarkan jutaan ton abu vulkanik serta gas belerang dalam jumlah besar ke atmosfer bumi.

Penyebaran Abu dan Gagal Panen di Eropa

Material vulkanik yang terlontar hingga puluhan kilometer ke angkasa segera tertangkap sirkulasi angin global. Dalam hitungan bulan, partikel aerosol dan gas sulfur menyelimuti atmosfer bumi. Selubung abu ini menghalangi radiasi matahari yang masuk ke permukaan bumi, sehingga suhu rata-rata global turun drastis dalam jangka waktu yang panjang. Pendinginan mendadak ini berdampak paling besar bagi negara-negara Eropa yang perekonomiannya bergantung pada pertanian musiman.

 Foto udara Danau Segara Anak dan kerucut Barujari yang tumbuh di bekas kaldera Samalas (atas), serta rekonstruksi topografi yang membandingkan tinggi Gunung Rinjani sekarang (3.726 mdpl) dengan perkiraan tinggi Samalas sebelum runtuh pada 1257 (sekitar 4.200 mdpl). Sumber gambar: Lavigne, F., et al. (2013), PNAS, 110(42), 16742-16747, https://doi.org/10.1073/pnas.1307520110. Foto panel A oleh Zulz (

info gambar

Foto udara Danau Segara Anak dan kerucut Barujari yang tumbuh di bekas kaldera Samalas (atas), serta rekonstruksi topografi yang membandingkan tinggi Gunung Rinjani sekarang (3.726 mdpl) dengan perkiraan tinggi Samalas sebelum runtuh pada 1257 (sekitar 4.200 mdpl). Sumber gambar: Lavigne, F., et al. (2013), PNAS, 110(42), 16742-16747, https://doi.org/10.1073/pnas.1307520110. Foto panel A oleh Zulz (“Gunung Baru,” 2006, via Flickr, lisensi Creative Commons).


Tanpa cuaca hangat dan durasi penyinaran matahari yang cukup, tanaman pangan gagal mematangkan bulirnya. Di pedesaan Eropa, petani tidak bisa memanen apa pun untuk persediaan musim dingin. Stok pangan di kota-kota besar cepat habis, memicu kenaikan harga bahan pangan hingga berkali lipat.

Di London, catatan dari Biara St. Albans merekam bagaimana warga miskin meninggal di jalanan karena tidak mampu membeli roti. Krisis ini turut memicu depopulasi di sejumlah wilayah pedesaan Inggris dan Eropa Barat.

Dampak Sosial, Ekonomi, dan Politik di Kerajaan Eropa

Krisis pangan yang berkepanjangan ini ikut memperkeruh kondisi politik di sejumlah kerajaan. Di Inggris, kesulitan pangan menjadi salah satu faktor yang memperburuk hubungan antara Raja Henry III dan para bangsawan oposisi, di tengah faktor utama lain seperti pembiayaan proyek Sisilia dan pengaruh besar penasihat asalnya dari Poitou. Ketegangan ini berujung pada Provisions of Oxford tahun 1258, dokumen yang membatasi kekuasaan raja dan sering disebut sebagai cikal bakal konstitusi tertulis Inggris.

Di luar krisis politik, ketidakpastian hidup mendorong perpindahan penduduk dari desa-desa yang terdampak menuju kota-kota berbenteng untuk mencari bantuan pangan. Kota yang mendadak padat dan kondisi warga yang lemah akibat kelaparan menciptakan situasi yang memudahkan penyebaran penyakit menular, termasuk disentri dan infeksi pernapasan.

Pada masa itu, baik raja, biarawan, maupun rakyat biasa di Eropa tidak mengetahui bahwa krisis yang mereka alami dipicu oleh letusan gunung berapi di sebuah pulau yang jauh di belahan bumi selatan. Identifikasi Gunung Samalas sebagai penyebab krisis 1258 menunjukkan bagaimana peristiwa alam di Nusantara dapat berdampak hingga benua lain. Letusan di Lombok itu tidak hanya mengubah lanskap geografi lokal dan mengakhiri riwayat sebuah kerajaan di Indonesia, tetapi juga ikut membelokkan arah sejarah sosial, ekonomi, dan politik di Eropa, jauh sebelum ilmu pengetahuan modern mampu menghubungkan kedua peristiwa tersebut.

**

Lavigne, F., Degeai, J.-P., Komorowski, J.-C., Guillet, S., Robert, V., Lahitte, P., Oppenheimer, C., Stoffel, M., Vidal, C. M., Surono, Pratomo, I., Wassmer, P., Hajdas, I., Hadmoko, D. S., & de Belizal, E. (2013). Source of the great A.D. 1257 mystery eruption unveiled, Samalas volcano, Rinjani Volcanic Complex, Indonesia. Proceedings of the National Academy of Sciences, 110(42), 16742-16747. https://doi.org/10.1073/pnas.1307520110

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.