Dok. Rizky F (Google Maps)
Hawa dingin kerap membungkus kawasan pedesaan di Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Terletak persis di kaki Gunung Lawu, Desa Berjo menyimpan kekayaan alam yang melimpah.
Aliran air jernih yang jatuh di Air Terjun Jumog serta ketenangan ceruk Telaga Madirda menjadi panorama harian yang menghiasi sudut-sudut wilayah tersebut.
Beberapa tahun lalu, pemandangan indah ini hanyalah bentangan alam biasa yang dilewati warga. Keterbatasan akses ekonomi dan lapangan kerja sempat membuat sebagian besar pemuda desa harus mengubur mimpi untuk mengenyam pendidikan tinggi, yang kerap terhenti sesaat setelah lulus dari bangku sekolah menengah atas.
Alur cerita berubah ketika warga dan pemerintah desa sepakat mengambil alih pengelolaan potensi lokal tersebut secara mandiri. Lewat wadah BUMDes Alam Berjo, kawasan Air Terjun Jumog dan Telaga Madirda dikemas menjadi destinasi wisata.
Tiket masuk yang dibeli pengunjung saban pekan perlahan merubah tatanan ekonomi desa, memutar modal usaha yang hasilnya dikembalikan utuh untuk kesejahteraan masyarakat sekitar.
Perguruan Tinggi yang Terbuka Lebar Bagi Seluruh Anak Desa
Dua destinasi wisata tersebut menjadi mesin penggerak utama dalam memutus rantai keterbatasan pendidikan di Desa Berjo.
Berkatnya, pemerintah desa bisa meluncurkan skema bantuan bertajuk Semua Bisa Sarjana yang dananya disokong penuh oleh hasil usaha BUMDes.
Kebijakan ini dirancang tanpa menyaring status sosial atau tingkat ekonomi keluarga. Setiap anak berhak mendapat suntikan biaya pendidikan tanpa perlu mengurus surat keterangan tidak mampu.
Pelajar tingkat SMP menerima Rp500 ribu per tahun, siswa SMA mengantongi Rp1 juta per tahun, sementara mahasiswa perguruan tinggi mendapatkan alokasi Rp5 juta per tahun.
“Itu tidak memandang miskin atau kaya, semuanya dapat. Bahkan kalau satu rumah ada tiga anak yang kuliah, ya tinggal dikalikan saja berarti dapat 15 juta rupiah per tahun,” kata Sularno selaku Direktur Utama BUMDes Alam Berjo.
Dampak dari kebijakan tersebut mengubah statistik desa. Angka anak muda Desa Berjo yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi tadinya berada di bawah 10 persen. Kini, angka partisipasi tersebut melompat hingga mendekati 60 persen.
Sebagai bentuk keterikatan dan gotong royong, para mahasiswa penerima bantuan diberi peran aktif untuk mendukung keberlanjutan wisata desa. Mereka dilibatkan dalam pembuatan konten kreatif guna mempromosikan keindahan Air Terjun Jumog dan Telaga Madirda di media sosial.
“Tentunya dari hal itu kita tugaskan anak-anak yang mendapatkan SBS tersebut untuk membuat konten-konten kreator terkait objek wisata yang kita kelola. Jadi mereka bisa membantu untuk promosi kami di media sosial,” kata Sularno.
Suntikan Modal Petani dan Layanan Darurat Kesehatan
Manfaat dari perputaran uang wisata ini menyebar ke bidang-bidang kehidupan warga lainnya.
Di area persawahan, para petani kerap menghadapi kendala kelangkaan tenaga angkut dan pengolah tanah. Pemdes merespons masalah ini dengan membelikan 20 unit mesin traktor yang dapat digunakan petani secara langsung.
Urusan kesehatan warga juga mendapat penanganan khusus. Dua unit kendaraan ambulans gratis disiagakan bersama Relawan Reber Bersatu guna melayani kebutuhan transportasi medis warga yang butuh pengobatan ke rumah sakit.
Untuk menjaga kelangsungan seluruh program sosial ini, BUMDes Alam Berjo dibebani target setoran PADes sebesar Rp5 miliar pada tahun 2026.
Tim pengelola kini merancang penataan pemasaran digital di TikTok serta menerapkan skema diskon tiket 10 persen bagi rombongan wisatawan minimal 10 orang agar angka kunjungan di semester kedua tetap terjaga.
“Tahun ini kita ditarget sama pemerintah desa untuk setor PADes sebesar lima miliar rupiah. Untuk mengejar target tersebut di semester dua, kita genjot promosi lewat media sosial dan memberikan diskon tambahan. Kalau dulu diskon rombongan per dua puluh orang, sekarang per sepuluh orang sudah kita kasih diskon,” kata Sularno.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News




Comments are closed.