Thu,10 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Saya Ikut KUPI, untuk Apa? Mau Jadi Apa?

Saya Ikut KUPI, untuk Apa? Mau Jadi Apa?

saya-ikut-kupi,-untuk-apa?-mau-jadi-apa?
Saya Ikut KUPI, untuk Apa? Mau Jadi Apa?
service

Saya Ikut KUPI, untuk Apa? Mau Jadi Apa?

“Lalu, ikut jaringan KUPI, untuk apa?”

“Mau jadi apa?”

Mubadalah.id – Pertanyaan itu sederhana. Tetapi bagi saya, ia tidak sesederhana yang terdengar. Mungkin karena saya sudah cukup lama hidup di antara dua dunia. Ruang kelas dan ruang pengabdian masyarakat. Di ruang kelas, saya adalah seorang guru. Dalam pelayanan publik, saya adalah seorang ASN. Di tengah masyarakat, saya adalah perempuan yang diberi amanah untuk memimpin organisasi perempuan.

Saya dipercaya menjadi Ketua Fatayat NU tingkat kabupaten dan Ketua YPMNU tingkat kabupaten. Lalu, ketika saya memilih untuk berjejaring di KUPI, untuk apa? Saya pun bertanya kepada diri sendiri.

Mungkin jawabannya bermula dari patah hati yang berulang kali saya rasakan sebagai seorang guru. Saya berkali-kali melihat anak didik perempuan yang cerdas, punya potensi, punya mimpi, dan tampak memiliki masa depan yang panjang, tiba-tiba berhenti melangkah setelah lulus sekolah.

Bukan karena mereka tidak mampu. Bukan karena mereka tidak punya cita-cita. Tetapi karena kemudian mereka menikah dan tidak melanjutkan pendidikan. Sebagai guru, tentu saya tidak ingin menghakimi pilihan hidup mereka. Pernikahan bukan sesuatu yang harus dipandang rendah. Menjadi istri dan ibu juga bukan kehidupan yang lebih rendah daripada kehidupan lainnya.

Tetapi yang membuat saya patah hati adalah ketika pernikahan menjadi akhir dari kesempatan seorang perempuan untuk tumbuh, bukan salah satu bagian dari perjalanan hidupnya. Ketika seorang anak perempuan yang sebenarnya ingin melanjutkan pendidikan akhirnya berkata, “Saya tidak bisa.”

Persoalan Perempuan tidak Sederhana

Ketika cita-cita yang pernah ia ceritakan di ruang kelas perlahan hilang karena keadaan. disitulah saya mulai memahami bahwa persoalan perempuan tidak sesederhana “dia mau atau tidak mau.” Ada struktur, norma sosial dan relasi kuasa. Selain itu, ada kondisi ekonomi dan keputusan keluarga.

Ada banyak hal yang kadang membuat seorang perempuan tidak benar-benar memiliki ruang yang cukup untuk menentukan pilihan hidupnya. Beberapa kali saya membantu siswi yang terkendala secara finansial agar dapat melanjutkan kuliah. Ada yang kemudian lulus dan menjadi guru.

Setiap kali melihatnya, saya merasa bahagia. Bukan karena merasa telah melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi karena saya tahu kesempatan yang sempat hampir tertutup ternyata masih bisa terbuka. Dan saya tidak pernah melihat bantuan itu sebagai sesuatu yang saya lakukan semata-mata karena mereka perempuan.

Andaikan yang datang kepada saya adalah seorang anak laki-laki dengan persoalan yang sama, saya pasti ingin melakukan hal yang sama. Sebab memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berkembang adalah kebaikan yang bersifat universal. Itulah ma’ruf.

Jika memberikan kesempatan kepada seorang laki-laki untuk memperoleh pendidikan tinggi kita pandang sebagai sesuatu yang baik, maka kebaikan yang sama semestinya juga berlaku bagi perempuan. Inilah semangat mubadalah: kebaikan yang kita kehendaki bagi diri dan kelompok kita, kita kehendaki pula bagi orang lain.

Tetapi pengalaman saya sebagai guru juga membuat saya tahu bahwa kesempatan itu belum selalu tersedia dalam ukuran yang sama. Anak perempuan masih menghadapi lebih banyak hambatan untuk mengakses pendidikan dan mengembangkan dirinya. Karena itu, membiarkan keadaan berjalan apa adanya tidak serta-merta menghasilkan keadilan.

Keadilan Hakiki

Ketika akses perempuan terhadap pendidikan tinggi masih terbatas, kita perlu mengupayakan agar kesempatan itu menjadi sama besarnya dengan kesempatan yang dimiliki laki-laki. Bagi saya, di situlah keadilan hakiki bekerja. Bukan sekadar memberikan perlakuan yang sama, tetapi memastikan setiap manusia sungguh-sungguh memiliki kesempatan untuk tumbuh dan mengembangkan potensinya.

Maka saya semakin percaya bahwa perjuangan untuk perempuan bukanlah perjuangan untuk meminta perlakuan istimewa. Ia adalah upaya memastikan bahwa kebaikan yang kita anggap layak bagi laki-laki juga kita anggap layak bagi perempuan. Dan ketika kenyataan menunjukkan bahwa perempuan belum memiliki kesempatan yang sama, kita perlu bersama-sama membuka jalan menuju kesempatan yang lebih adil.

Kemudian saya masuk lebih jauh ke ruang pengabdian sebagai Ketua Fatayat. Di sana, saya mendengar cerita-cerita yang membuat saya semakin memahami betapa kompleksnya kehidupan perempuan. Saya bertemu dengan perempuan yang ruang geraknya dibatasi oleh pasangan. Perempuan yang harus meminta izin untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya sederhana. Perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Ada kekerasan yang terlihat, tetapi ada pula kekerasan yang tidak meninggalkan luka yang mudah dilihat: tekanan mental, penghinaan, kontrol, ketakutan, dan kekerasan finansial. Saya belajar bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak selalu berbentuk sesuatu yang mudah dikenali. Kadang perempuan dipersempit menjadi satu identitas atau satu peran.

Sebagai istri, ia harus patuh. Menjadi ibu, ia harus selalu mengalah. Sebagai perempuan, ia harus menjaga nama baik keluarga. Padahal di balik semua peran itu ada seorang manusia utuh yang memiliki martabat, kehendak, pengalaman, kemampuan, dan hak untuk menentukan kehidupannya.

Saya juga pernah mendampingi seorang siswi yang berada dalam situasi keluarga yang sangat dominan dan membuatnya rentan terhadap kekerasan seksual. Dalam situasi itu, saya membantunya keluar dari lingkungan yang membahayakan, mendukung kebutuhan hidupnya, dan mendampingi pendidikannya hingga ia lulus.

Ingin Lebih Banyak Belajar

Saya tidak menceritakan pengalaman itu untuk mengatakan bahwa saya telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Justru pengalaman itu mengajarkan saya sesuatu yang sangat mendasar:

Seorang anak perempuan bukan milik keluarganya. Ia bukan objek yang seluruh hidupnya dapat diputuskan oleh orang lain. Ia adalah manusia utuh. Ia memiliki kehendak, masa depan, dan hak untuk menentukan kehidupannya sendiri. Dan sekali lagi, saya tidak merasa bahwa prinsip itu hanya berlaku untuk perempuan. Anak laki-laki pun memiliki martabat yang sama.

Yang berbeda adalah pengalaman dan kerentanan yang mungkin dihadapi masing-masing. Karena itu, keadilan tidak selalu berarti memberikan sesuatu dengan cara yang persis sama, tetapi memastikan setiap manusia memperoleh dukungan yang dibutuhkan agar dapat hidup dan berkembang secara bermartabat.

Sebagai ketua organisasi perempuan, saya tidak bisa hanya mendengar lalu pulang dengan membawa rasa iba. Saya perlu belajar.

Belajar memahami akar persoalannya. Memahami perspektif agama. Belajar memahami pengalaman perempuan, bagaimana membangun relasi yang lebih adil. Bagaimana mendampingi tanpa menghakimi. Belajar bagaimana menghadirkan kemaslahatan tanpa mengambil alih keputusan hidup seseorang.

Dan dalam proses belajar itulah saya menemukan KUPI. Bagi saya, KUPI bukan tempat untuk mencari identitas baru. KUPI adalah ruang untuk memperkaya cara pandang. Saya belajar bahwa pengalaman perempuan tidak boleh dianggap sekadar cerita pribadi. Pengalaman tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk membaca persoalan sosial dan keagamaan secara lebih utuh.

Saya belajar melihat setiap orang sebagai manusia utuh dan subjek penuh, bukan objek yang hanya menerima keputusan orang lain. Seorang perempuan bukan hanya “istri seseorang”. Ia adalah manusia. Seorang laki-laki bukan hanya “kepala keluarga”. Ia juga manusia yang memiliki martabat, perasaan, kebutuhan, tanggung jawab, dan kewajiban untuk menghormati manusia lain.

Nilai-nilai KUPI

Seorang anak perempuan bukan hanya “calon istri dan ibu”. Ia adalah manusia yang sedang tumbuh, belajar, bermimpi, dan berhak mengembangkan potensinya. Begitu pula seorang anak laki-laki. Ia tidak harus tumbuh menjadi sosok yang kuat dengan cara menekan atau mendominasi orang lain.

Bagi saya, cara pandang inilah yang membuat nilai-nilai KUPI terasa dekat dengan pengalaman hidup saya. Saya belajar tentang keadilan hakiki: bahwa keadilan bukan sekadar memperlakukan semua orang dengan cara yang sama, tetapi memastikan bahwa setiap manusia benar-benar memiliki kesempatan untuk hidup secara bermartabat.

Saya belajar tentang kesalingan: bahwa relasi laki-laki dan perempuan seharusnya tidak dibangun atas dominasi, melainkan atas hubungan yang saling menghormati, saling menjaga, dan saling menguatkan. Belajar tentang kemaslahatan: bahwa pengetahuan dan perjuangan pada akhirnya harus menghasilkan kebaikan nyata dalam kehidupan manusia.

Saya belajar tentang kemanusiaan: bahwa sebelum seseorang menjadi istri, suami, anak, guru, ASN, atau pemimpin organisasi, ia terlebih dahulu adalah manusia yang memiliki martabat. Nilai-nilai itu membuat saya melihat kembali semua ruang yang selama ini saya jalani.

Selain itu, saya melihat kembali anak-anak perempuan di kelas saya. Melihat kembali perempuan-perempuan yang datang membawa cerita ke ruang organisasi. Saya melihat kembali diri saya sendiri. Dan saya menyadari bahwa menjadi perempuan, guru, ASN, dan aktivis perempuan bukanlah identitas yang saling bertentangan. Justru semuanya saling menguatkan.

Sebagai guru, saya ingin memastikan bahwa anak perempuan tidak hanya diajari untuk menjadi “anak yang baik”, tetapi juga memiliki keberanian untuk berpikir, bermimpi, mengambil keputusan, dan mengembangkan potensinya. Karena saya ingin melihat mereka sebagai manusia utuh, bukan sekadar murid yang suatu hari akan menjadi istri dan ibu.

Sebagai ASN, saya ingin menjalankan amanah secara profesional dan tetap memiliki kepekaan terhadap persoalan kemanusiaan di sekitar saya. Sebagai Ketua Fatayat, saya ingin organisasi tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya perempuan, tetapi menjadi ruang belajar, bertumbuh, saling menguatkan, dan menghadirkan solusi bagi persoalan nyata perempuan di masyarakat.

Mau Jadi Manusia Seperti Apa?

Dan sebagai bagian dari jaringan KUPI, saya ingin terus belajar bagaimana seluruh pengabdian tersebut dapat dilakukan dengan perspektif keadilan, kesalingan, kemaslahatan, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia.

Karena itu, ketika seseorang bertanya: “Ikut jaringan KUPI, mau jadi apa?” Saya mungkin tidak perlu menjawab dengan nama jabatan. Saya tidak sedang ingin menjadi apa-apa. Hanya ingin terus belajar menjalani amanah sebagai khalifah fil ardh dengan lebih adil, lebih berkesalingan, membawa kemaslahatan, dan memberi manfaat yang lebih luas.

Saya ingin menjadi guru yang tidak cepat puas ketika anak-anaknya mendapatkan nilai bagus, tetapi juga peduli apakah anak-anak perempuannya masih memiliki ruang untuk mengejar cita-cita. Ingin menjadi ASN yang memahami bahwa pelayanan kepada masyarakat bukan sekadar menjalankan prosedur, tetapi juga menjaga martabat manusia.

Saya ingin menjadi pemimpin organisasi perempuan yang tidak hanya pandai membuat program, tetapi mau mendengar suara perempuan yang selama ini mungkin tidak terdengar. Saya ingin menjadi perempuan yang ketika memiliki ruang, tidak menutup pintu bagi perempuan lain.

Dan saya ingin menjadi bagian dari generasi perempuan yang tidak harus memilih antara berkeluarga atau berpendidikan, menjadi ibu atau menjadi pemimpin, menjadi perempuan yang taat atau menjadi perempuan yang berdaya.

Saya percaya setiap manusia berhak menjalani hidupnya dengan bermartabat, dengan pilihan yang lahir dari kesadaran, bukan dari ketakutan dan keterpaksaan. Maka mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan: “Mau jadi apa?”

Akan tetapi, “Mau menjadi manusia seperti apa?” Dan sebagai perempuan, saya ingin menjadi perempuan yang terus belajar. Perempuan yang berani mendengar pengalaman orang lain. Perempuan yang tidak menganggap ketidakadilan sebagai sesuatu yang wajar hanya karena sudah berlangsung lama.

KUPI Menjadi Bagian dari Proses Belajar

Perempuan yang menggunakan pendidikan, profesi, jabatan, dan ruang organisasi yang dipercayakan kepadanya untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi orang lain. Perempuan yang mampu melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagai manusia utuh, subjek penuh, dan pribadi yang memiliki martabat.

Dan jika ikut KUPI membantu saya belajar menjadi perempuan seperti itu, maka itulah alasan saya memilih berjejaring. Bukan untuk meninggalkan profesi, atau untuk mengejar posisi. Bukan untuk menjadi “apa-apa”.

Tetapi agar setiap peran yang sudah Tuhan dan kehidupan amanahkan kepada saya—sebagai perempuan, guru, ASN, dan aktivis—dapat saya jalankan dengan pemahaman yang lebih utuh tentang keadilan, kesalingan, kemanusiaan, dan kemaslahatan.

Sebab mungkin, pada akhirnya, ukuran keberhasilan kita bukanlah seberapa tinggi posisi yang berhasil kita capai, tetapi berapa banyak kehidupan yang menjadi sedikit lebih baik karena kita pernah hadir di dalamnya. Dan saya ingin KUPI menjadi bagian dari proses belajar saya menuju ke sana. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.