Thu,10 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Membangun Nalar Kritis di Era Digital melalui Humor

Membangun Nalar Kritis di Era Digital melalui Humor

membangun-nalar-kritis-di-era-digital-melalui-humor
Membangun Nalar Kritis di Era Digital melalui Humor
service

Judul Buku: SUFI Stand-Up Filososfi: Filsafat Rasa Stand-Up

Penulis: Rif’an Anwar

Tahun Terbit: 2025

Penerbit: DIVAPress

ISBN: 978-623-189-601-8.

Mubadalah.id – Kiranya, minat terhadap bidang filsafat akhir-akhir ini cukup dikatakan prihatin. Berbagai asumsi seperti peluang kerja yang tidak memungkinkan dan aktualisasi nilai-nilai filsafat yang jarang menemukan tempatnya dalam kehidupan nyata, agaknya, menjadi alasan kuat mengapa bidang filsafat jarang memiliki peminatnya.

Namun begitu, relevansi filsafat di era digital pun tidak bisa kita pungkiri. Gelombang disinformasi yang datang bertubi-tubi, gaya hidup modern yang mencekik, hingga perkembangan Artificial Intelligence (AI) di berbagai sektor yang mengubah cara manusia hidup, tentunya tidak bisa kita biarkan dengan kepala kosong. Melalui titik ini, filsafat kita perlukan untuk membangun nalar kritis, yang berfungsi menyaring informasi dan pengetahuan.

Di sinilah bidang filsafat seakan menduduki posisinya yang begitu dilematis. Satu sisi, ia penting untuk kita pelajari guna menumbuhkan nalar kritis di era digital. Namun di sisi lain, ia rumit untuk kita pelajari dan sulit menemukan daya tawarnya di dunia industri. Dengan demikian, kita memerlukan pembelajaran filsafat yang harus menyenangkan, alih-alih membingungkan.

Filsafat yang Menyenangkan, Menertawakan yang Serius

Salah satu karya yang membahas filsafat dengan begitu menyenangkan, tanpa harus mengerutkan dahi, ialah buku garapan Rif’an Anwar yang berjudul SUFI Stand-Up Filosofi: Filsafat Rasa Stand-Up (DIVAPress, 2025). Pasalnya, buku ini membahas pemikiran-pemikiran filsafat dengan gaya yang ringan, ganjil, serta mirip komedi tunggal (stand-up comedy). Membaca buku ini, pembaca akan diajak melihat sisi lain dari sejarah pemikiran filsafat yang tampak absurd namun sarat makna.

Penyajian pemikiran dengan gaya yang demikian, kiranya penting, apalagi dalam realitas dengan makna hidup yang semakin terdistorsi. Selain itu, asumsi terkait kerumitan filsafat, juga dapat kita hilangkan melalui pembacaan buku ini. Karena sebagaimana yang Rif’an Anwar utarakan dalam pengantarnya, bahwa “filsafat tidak hanya menyajikan petualangan intelektual yang memikat”. Akan tetapi, “ia juga menyajikan hal-hal konyol yang muncul bersamaan dengan pemikiran-pemikiran canggih” (hlm. 7).

Tentunya, absurditas tersebut menjadi kesempatan tersendiri bagi Rif’an untuk menjadikan humor sebagai cara terbaik untuk memahami apa (baca: filsafat) yang serius (hlm 15).

Paradigma “Tak Kenal, Maka Tak Sayang”

Dalam hal sistematika kepenulisan, buku ini tidak langsung menyajikan humor-humor yang menyelimuti pemikiran besar para filsuf dari masa ke masa. Namun penulisan humor yang menjadi bumbu sedap penyampaian pemikiran filsafat yang berat, tersaji tepat setelah kita membaca biografi seorang filsuf.

Dengan begitu, pembaca buku ini tidak akan terjebak dalam humor semu yang naif akan nilai-nilai filsafat. Sebaliknya, pembaca akan lebih dulu memahami seluk beluk hidup sang filsuf sebelum ia mendalami dan menertawakan pemikirannya.

Sebagai contoh, Rif’an, dalam menuliskan pemikiran Hedonisme Epicurus (341-356 SM), ia tidak langsung menjadikan topik Hedonisme ala Epicurus sebagai bahan humornya, akan tetapi, ia lebih dulu menyampaikan detail identitas hidup Epicurus. Setelah itu, barulah Hedonisme Epicurus ia jadikan bahan utama rasan-rasan dalam bentuk humor.

Dengan gaya kepenulisan demikian, kiranya, Rif’an menjadikan pribahasa “tak kenal, maka tak sayang” sebagai paradigma utamanya dalam menuliskan humor sebagai bahan pokok dalam memahami pemikiran filsafat yang rumit.

Dialog Pemikiran dan Benturan Gagasan Para Filsuf

Selain itu, yang membuat menarik buku ini, bukan saja gaya kepenulisannya yang sistematis. Melainkan juga, bagaimana Rif’an berhasil mendialogkan berbagai pemikiran filsafat dalam humor-humor bernasnya.

Sebagai contoh, Rif’an menuliskan pemikiran Aristuppus (435-356 SM) tepat setelah menyampaikan gagasan Epicurus terkait “Hedonisme Malu-Malu Kucing”. Pasalnya, jika Epicurus beranggapan bahwa hidup yang terlalu banyak kesenangan dapat membawa kegelisahan. Maka Aristuppus sebaliknya, ia menganggap bahwa hidup itu singkat, dan kesenangan adalah tujuan utama yang harus kita kejar tanpa keraguan atau rasa takut (hlm, 85-91).

Dari sini, pembaca tidak saja dapat memahami kerumitan fisafat dengan gaya yang menyenangkan dan lucu. Lebih dari itu, pembaca juga akan memahami dinamika hidup para filsuf yang menjadi basis dari pemikirannya.

Namun demikian, bukan berarti buku ini penuh dengan penyampaian pemikiran yang mudah kita cerna melalui humor. Dalam banyak halaman buku ini, juga kita temukan pembahsan filsafat yang nampak serius. Akibatnya, pembaca seakan sedang membaca karya Betrand Russell, alih-alih membaca tulisan Rif’an Anwar.

Akan tetapi, hal itu, kiranya perlu kita maklumi. Sebab menurut pengakuan Rif’an Anwar sendiri: “saya menulis anekdot ini tanpa peta buku. Tulisan mengalir sesuka hati,… kadang Jenaka, kadang serius, dan seringkali keduanya bercampur” (hlm, 13-15).

Merawat Nalar di Tengah Karut-Marut Zaman

Sehingga, untuk para pembaca yang berekspektasi akan merasakan gelak tawa sepanjang membaca buku ini, kiranya jangan dulu langsung kecewa. Sebab, filsafat tidak semudah yang kau kira. Bisa jadi, Rif’an Anwar telah berdarah-darah dalam menuliskan buku ini, atau bahkan sesekali mengeryitkan dahi sebab sebagian yang ia tulis tak kunjung menciptakan tawa-tawa yang tulus.

Cukup, kiranya dengan membaca buku ini, kita sedikit memahami bagaimana cara kita memaknai hidup dengan segala persoalannya. Dari pemaknaan tersebut, berbagai fenomena yang tidak bisa kita hindari—seperti masifnya disinformasi, gaya hidup modern yang hedonis, dan perkembangan kecerdasan buatan yang beririsan dengan cara kita hidup—setidaknya dapat kita kurasi dengan lebih berhati-hati. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.