Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Di Balik Hubungan Toksik: Kenapa Ada Pasangan yang Putus Nyambung Terus? 

Di Balik Hubungan Toksik: Kenapa Ada Pasangan yang Putus Nyambung Terus? 

di-balik-hubungan-toksik:-kenapa-ada-pasangan-yang-putus-nyambung-terus? 
Di Balik Hubungan Toksik: Kenapa Ada Pasangan yang Putus Nyambung Terus? 
service

Bincangperempuan.com- Pernah nggak sih, telingamu rasanya sampai panas mendengar curhatan teman yang ceritanya itu-itu saja? Hari ini nangis-nangis sesenggukan bilang mau putus, eh minggu depan sudah update media sosial mesra lagi berdua. Begitu terus berulang-ulang sampai kamu sendiri capek mendengarnya. Padahal, dari luar saja sudah kelihatan jelas kalau hubungan mereka itu jauh dari kata sehat.

Lantas, kenapa ada orang yang betah terjebak dalam siklus putus-nyambung seperti ini?

Mengapa Ada Orang yang Putus-Nyambung Terus?

Dalam dunia psikologi, ada istilah yang disebut relationship cycling. Yang pada dasarnya menggambarkan hubungan onoff, kadang putus kadang nyambung lagi. Biasanya ini terus terjadi karena ada masalah attachment atau gaya kelekatan.

Merujuk pada Psychology Today, pasangan yang paling sukses dan langgeng adalah mereka yang sama-sama memiliki secure attachment style (gaya kelekatan aman). Tapi, tahukah kamu apa kombinasi pasangan “terpopuler” kedua? Ironisnya, posisi kedua ditempati oleh pasangan yang menyatukan tipe anxious (cemas) dan avoidant (menghindar).

Kombinasi ini sebenarnya sangat tidak bagus, tapi anehnya mereka sulit dipisahkan. Karena pada tidak ada yang benar-benar berani pergi. Si anxious hidup dalam ketakutan akan pengabaian dan ditinggalkan, sementara si avoidant terlalu takut pada konfrontasi untuk benar-benar memutuskan hubungan. Hasilnya, mereka tetap bersama, saling menyakiti, dan membuat satu sama lain menderita. Berdasarkan pengamatan para terapis, kombinasi anxious-avoidant ini adalah pairing yang paling sering ditemui di ruang konseling.

Baca juga: Mengapa Di-Ghosting Terasa Menyiksa? Membedah Efek Zeigarnik dan Pentingnya Closure

Kenapa Keluar dari Hubungan Toksik Itu Susah?

Kalau di bagian awal kita bahas dari kacamata attachment style, Psychology Today dalam artikel terpisahnya—psikoterapis Yvonne Castañeda—menjelaskan kenapa memutus siklus putus-nyambung ini terasa nyaris mustahil dan kenapa kita sering kali tanpa sadar terjebak di dalamnya.

The Savior Complex (Sindrom Penyelamat)

Di awal hubungan, pasangan yang terlihat misterius, dingin, atau punya masa lalu kelam justru punya daya tarik magnetis. Ada kepuasan emosional tersendiri ketika orang yang tertutup itu akhirnya mau membuka diri dan menceritakan traumanya hanya kepadamu.

Tanpa disadari, ego kita tersanjung, kita merasa bisa menyelamatkan orang lain. Sehingga akhirnya malah bertahan dalam toxic relationship karena meromantisasi penderitaan dan merasa bertanggung jawab atas kesembuhan mental pasangan. 

Familiarnya Rasa Sakit (The Familiar Blueprint)

Secara psikologis, manusia cenderung mencari apa yang familier, bahkan jika hal itu merusak. Kalau seseorang tumbuh di rumah dengan orang tua yang emosinya tidak stabil—di mana mereka harus selalu berhati-hati agar tidak memicu amarah—alam bawah sadar mereka akan merekam bahwa begitulah cara kerja hubungan.

Sebagai anak-anak yang belum paham apa-apa, mereka menyalahkan diri sendiri atas kemarahan orang tua dan belajar untuk selalu mengalah demi kedamaian. Ketika dewasa, pola ini berulang. Menghadapi pasangan yang moody, manipulatif, atau meledak-ledak terasa “normal” bagi mereka. Mereka otomatis memakai mode bertahan masa kecil, seperti meminta maaf untuk kesalahan yang tidak mereka lakukan dan merasa bertanggung jawab penuh atas kebahagiaan pasangan.

Ikatan Trauma (Trauma Bond)

Ketika dua orang sama-sama memiliki luka masa kecil yang serupa—entah itu riwayat kekerasan emosional, penelantaran orang tua, atau perundungan—mereka akan merasa menemukan belahan jiwa yang paling paham luar-dalam.

Ikatan ini menjadi sangat toksik karena memicu pemikiran “cuma dia di dunia ini yang paham menderitanya hidupku”. Pemikiran ini membuat dinding pembatas dengan dunia luar, sehingga ketika hubungan mulai merusak, mereka tetap bertahan karena takut tidak akan pernah menemukan koneksi sedalam ini lagi.

Sandera Rasa Bersalah (The Guilt Trip)

Ketika seseorang sudah terlanjur mengambil peran sebagai penyelamat, pintu keluar dari hubungan langsung tertutup oleh rasa bersalah. Muncul ketakutan luar biasa bahwa jika mereka pergi, si pasangan akan hancur, depresi, atau bahkan melakukan tindakan nekat yang membahayakan dirinya sendiri.

Pasangan toksik sering memanfaatkan rasa iba ini untuk membuat pasangannya merasa kalau pergi meninggalkan hubungan adalah hal yang egois dan jahat. Label jahat menyandera mereka di tempat, membuat mereka mengorbankan kesehatan mental sendiri demi menjaga perasaan orang lain.

Bias “Kan Nggak Ada Kekerasan Fisik”

Ada miskonsepsi besar di masyarakat bahwa hubungan baru dikatakan bahaya kalau sudah ada lebam atau pukulan. Hal ini sering dijadikan pembenaran untuk bertahan. Meskipun setiap hari harus makan hati, menangis karena makian, dan hidup dalam kecemasan konstan akibat manipulasi psikologis (gaslighting), mereka akan menghibur diri dengan kalimat: “Tapi kan dia nggak pernah main tangan.”

Padahal, kekerasan verbal dan emosional memiliki dampak merusak yang sama besarnya dengan kekerasan fisik. Bedanya, lukanya tidak berdarah, melainkan mengikis rasa percaya diri dan kewarasan korbannya secara perlahan sampai habis.

Adrenalin di Atas Ranjang (The High-Intensity Sex)

Hubungan yang penuh drama, konflik naik-turun, dan siklus putus-nyambung sebenarnya memicu lonjakan hormon stres (kortisol dan adrenalin) yang sangat tinggi. Ketika konflik mereda dan mereka memutuskan untuk balikan, tubuh akan membanjiri otak dengan dopamin dan oksitosin (hormon kebahagiaan dan kelekatan).

Siklus ekstrem ini sering kali berpuncak pada keintiman fisik atau seks yang terasa sangat intens dan meledak-ledak. Otak menangkap intensitas ini sebagai bentuk cinta yang dahsyat, sehingga ketika hubungan terasa hambar atau damai dengan orang lain, mereka justru merasa bosan dan rindu pada rollercoaster emosi tersebut.

Jebakan “Kalau Cinta, Dia Pasti Berubah”

Banyak orang bertahan karena mereka mempertaruhkan harga diri mereka (self-worth) pada perubahan pasangannya. Mereka berpikir kalau cinta dia pasti bakal berubah. Ketika pasangan tidak kunjung berubah, mereka bukannya menyerah, tapi malah makin penasaran dan mencoba lebih keras karena merasa diri mereka belum cukup berharga untuk membuat si pasangan berubah. 

Padahal orang hanya akan berubah kalau motivasi itu datang dari kesadaran internal mereka sendiri, bukan karena dipaksa atau sekadar demi mempertahankan hubungan.

Baca juga: Mitos Gold Digger: Eksploitasi Finansial Tidak Memandang Gender

Isolasi dan Gengsi Soal “Kata Orang”

Hubungan toksik lambat laun akan menguras energi sosial seseorang. Tanpa disadari, mereka mulai menarik diri dari teman-teman, mengabaikan keluarga, dan fokus 100% pada drama hubungannya. Ketika dunianya sudah mengecil dan hanya berisi si pasangan, muncul ketakutan hebat akan kesepian yang teramat sangat jika mereka harus putus.

Selain itu, ada faktor gengsi dan rasa malu. Mereka ingat betul bagaimana teman atau keluarga sudah pernah memperingatkan mereka tentang keburukan hubungan ini sejak awal. Untuk keluar dan mengakui kesalahan, butuh menurunkan ego yang sangat besar, sehingga banyak yang memilih bertahan demi menjaga citra di depan orang lain.

Keluar dari siklus putus-nyambung ini memang tidak semudah membalik telapak tangan, karena butuh keberanian untuk menghadapi rasa tidak nyaman. Tapi ingat, menyalahkan diri sendiri juga bukan solusi. Menyadari kalau siklus ini berakar dari masalah psikologis—bukan sekadar “ujian cinta”—adalah langkah paling rasional untuk meretas polanya.

Mulailah dari langkah kecil bangun lagi koneksi dengan teman-teman lamamu, cari kesibukan di luar hubungan, dan pelan-pelan berlatih bangun boundaries. Ingat, cinta yang sehat itu memberi rasa aman dan tenang, bukan membuat kamu terkuras secara mental.

Referensi:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.