Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Di Balik Tren “Outfit Anti Catcalling”, Ada Realitas Sulitnya Perempuan Memiliki Ruang Aman 

Di Balik Tren “Outfit Anti Catcalling”, Ada Realitas Sulitnya Perempuan Memiliki Ruang Aman 

di-balik-tren-“outfit-anti-catcalling”,-ada-realitas-sulitnya-perempuan-memiliki-ruang-aman 
Di Balik Tren “Outfit Anti Catcalling”, Ada Realitas Sulitnya Perempuan Memiliki Ruang Aman 
service

Beberapa waktu lalu, aku bersama teman-temanku berkumpul di rumah salah seorang teman. Lagi asyik ngobrol, aku pengin banget makan roti bakar. Aku lalu mengajak teman-temanku, yang kebetulan semuanya perempuan, pergi ke warung tak jauh dari rumah.

Harusnya ajakan itu sederhana. Tinggal jalan beberapa langkah, beli, lalu balik lagi.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Mereka spontan saling lihat, lalu langsung menolak. 

Waktu aku tanya kenapa, salah satu dari mereka langsung jawab cepat, nadanya sudah seperti orang yang pernah mengalami hal yang sama berkali-kali: “Males, nanti disiul-siulin (catcalling) yang suka nongkrong di warung depan.” 

Yang lain langsung mengiyakan. Tidak ada yang mempertanyakan lagi. Semua sudah paham tanpa perlu dijelaskan.

Padahal saat itu mereka hanya pakai baju rumahan. Celana pendek, kaos santai, pakaian yang seharusnya aman dipakai bahkan untuk sekadar keluar sebentar.

Di situ, aku tiba-tiba teringat sesuatu yang belakangan sering muncul di media sosial TikTok. Ada tren di mana banyak perempuan keluar rumah dengan apa yang mereka sebut sebagai “outfit anti-catcalling”.

Di video-video itu, perempuan tampil dengan pakaian yang dibuat serapat mungkin. Bukan hanya tertutup, tapi benar-benar dilapisi. Celana panjang longgar atau rok panjang, baju lengan panjang yang tidak membentuk tubuh, ditambah jaket atau outer. 

Baca Juga: Catcalling, Baju dan Budaya Patriarki: 3 Penghambat Karier Perempuan Pegiat Konservasi Alam

Kepala mereka juga ditutup kerudung atau topi, dan wajah pun sering disembunyikan di balik masker. Kadang masih ditambah kacamata atau layer lain, sampai hampir tidak ada bagian tubuh yang terlihat jelas.

Yang menarik, tampilannya sering kali justru mencolok. Warna-warna cerah, motif yang tabrak-tabrakan, kombinasi yang terasa ramai. Sekilas terlihat seperti gaya berpakaian yang playful, bahkan lucu. 

Tapi kalau diperhatikan lebih lama, ada usaha untuk “mengaburkan” bentuk tubuh, membuat diri tidak terlalu menarik perhatian. Seperti ada keinginan untuk tidak terlihat.

Aku lalu menjelaskan tren itu ke teman-temanku. Awalnya terdengar seperti ide iseng, tapi mereka mulai mempertimbangkannya. Ada yang mengambil jaket, ada yang mencari celana panjang, ada yang langsung pakai masker. Mereka saling meminjam pakaian, menambah layer seadanya.

Beberapa menit kemudian, kami berdiri dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya. Kami pun bergegas untuk melangkah keluar rumah dan berjalan ke warung dengan harapan tak ada yang mengganggu kami dengan ini.

Tapi sebenarnya, apakah dengan menggunakan outfit seperti ini akan otomatis terhindar dari catcalling

Mitos Pakaian Terbuka Mengundang Pelecehan Seksual 

Pertama, kita harus memahami dulu apa itu “catcalling”. Catcalling itu termasuk dalam street harassment. 

Dalam artikel milik Bowman dengan judul “Street harassment and the informal ghettoization of women”, ia menegaskan bahwa street harassment adalah bentuk kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang asing di tempat umum. Dalam banyak kasus, pelaku adalah laki-laki yang mengganggu perempuan dengan siulan, suara, atau gestur yang menempatkan perempuan sebagai objek seksual.

Relasi kuasa ini memang umum terjadi pada tindakan pelecehan atau kekerasan. Penilaian laki-laki sebagai pihak yang dominan di masyarakat memunculkan dorongan psikologis untuk berbuat sebebasnya, terutama pada korban perempuan yang mereka pandang inferior dibandingkan dengan laki-laki.

Kasus catcalling merupakan contoh yang paling mudah dalam menjelaskan ketimpangan relasi kuasa ini.

Dalam konstruksi masyarakat patriarkis, laki-laki di berbagai sektor merasa dirinya mempunyai posisi “surplus kuasa” atas perempuan. Relasi yang timpang inilah yang kemudian terjadi di berbagai ranah kehidupan seperti ruang publik. Bahkan menyasar hal yang paling privat sekalipun pada perempuan, yaitu ketubuhan.

Kaitannya dengan kekerasan seksual, perempuan yang menjadi korban telah “diambil” otoritas dan kontrol penuh atas tubuhnya. Padahal semestinya, perempuan sebagai pemilik otoritas tubuhnya memiliki kontrol penuh atas ketubuhannya secara bebas dan merdeka. 

Feminis, Katherine MacKinnon mendeskripsikan masalah ini dalam bentuk relasi kuasa dan menyimbolkan bagaimana laki-laki menyimbolkan perempuan sebagai objek. 

Baca Juga: Pakaian Terbuka Rawan Cat Calling? Yang Salah Matamu, Bukan Tubuhku

Feminisme kontemporer memperkenalkan pelecehan seksual sebagai tindakan nyata yang banyak mengorbankan perempuan, perempuan bisa dilecehkan di lingkungan rumah, di sekolah, di kampus dengan segala persepsi tentang perempuan yang memaksa dan terus-menerus diyakini.

Seperti ujaran yang menyatakan bahwa perempuan dilecehkan karena memakai baju terbuka, yang merupakan mitos. 

Seperti data yang pernah dipaparkan oleh Indonesia Judicial Research Society (IJRS) pada tahun 2021 mengenai kekerasan seksual di Indonesia. Mayoritas korban pelecehan tidak mengenakan pakaian atau outfit yang terbuka saat mereka mengalami pelecehan seksual. Banyak yang menggunakan rok panjang, hijab, lengan panjang, seragam sekolah, dan baju longgar. Persis seperti tren outfit anti-catcalling.

Tren ‘Outfit Anti Catcalling’ yang ramai di TikTok. Dok: TikTok

Senada, survei yang pernah dilakukan Hollaback! Jakarta, perEMPUan, Lentera Sintas Indonesia, Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta (JFDG), dan Change.org Indonesia (2019) tentang survei pelecehan seksual di ruang publik menepis anggapan pelecehan terjadi karena pakaian terbuka. 

Menurut hasil survei, mayoritas korban pelecehan tidak mengenakan baju terbuka saat mengalami pelecehan seksual, melainkan memakai celana/rok panjang (18%), hijab (17%), dan baju lengan panjang (16%). Hasil survei juga menunjukkan bahwa waktu korban mengalami pelecehan mayoritas terjadi pada siang hari (35%) dan sore hari (25%).

Walton dan Pedersen dalam risetnya berupaya mendalami apa yang ada di kepala laki-laki ketika melakukan catcalling. Hasilnya cukup membuka mata. Banyak dari mereka ternyata tidak melihat tindakannya sebagai sesuatu yang salah. Justru sebaliknya, catcalling dianggap sebagai bentuk pujian, cara menggoda, atau upaya untuk menarik perhatian perempuan yang mereka lihat di jalan.

Baca Juga: Stop Bungkam Aspirasi Pelajar, SMA Gonzaga Anggap Demonstrasi Adalah Hak

Tidak sedikit pelaku yang berharap akan mendapat respons yang ramah. Ada bayangan bahwa perempuan akan tersenyum, merasa tersanjung, atau bahkan membalas interaksi tersebut. Hanya sebagian kecil yang benar-benar berniat memancing reaksi negatif.

Di sinilah letak persoalannya.

Bagi pelaku, tindakan itu terasa ringan, bahkan positif. Tapi pengalaman di sisi perempuan berkata sebaliknya. Rasa tidak nyaman, takut, dan waspada justru yang lebih sering muncul.

Penelitian yang sama juga menemukan bahwa laki-laki yang melakukan catcalling cenderung memiliki cara pandang yang lebih permisif terhadap pelecehan seksual. Mereka juga lebih dekat dengan nilai-nilai maskulinitas yang kaku, kecenderungan untuk merasa lebih dominan, dan tingkat seksisme yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki yang tidak melakukan catcalling.

Itulah mengapa berbagai data menunjukkan bahwa catcalling menjadi hal yang seolah dinormalisasi dan dianggap “enteng”. Padahal, pelecehan seksual ini dampaknya tidak mudah sama sekali bagi korban, yang mayoritasnya perempuan. 

Pada 2024, Populix mengeluarkan data kekerasan seksual yang dialami oleh pekerja. 76% bentuk kekerasan seksual yang dialami adalah catcalling

Lalu ada juga riset yang dikeluarkan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) pada tahun 2023 tentang kekerasan seksual pada jurnalis perempuan. Dalam data tersebut disebutkan bahwa bentuk kekerasan seksual yang dialami oleh jurnalis perempuan dengan angka 51,4% adalah catcalling secara luring. 

Outfit Anti-Catcalling Solusi atau Negosiasi?

Kita hidup di tengah situasi masyarakat patriarki yang mempercayai mitos bahwa pakaian terbuka itu mengundang pelecehan. Ini tak lepas dari satu anggapan di masyarakat bahwa pakaian perempuan yang terbuka itu “provokatif”. 

Banyak yang beranggapan bahwa pakaian yang terbuka itu lebih seksi atau memprovokasi secara seksual. Terutama yang memperlihatkan bentuk tubuh perempuan seperti payudara. 

Saat sebuah pakaian dilabeli sebagai provokatif, sebenarnya penilaian itu tidak berdiri sendiri. Ia terbentuk dari banyak hal seperti aturan tidak tertulis tentang apa yang dianggap pantas di suatu tempat, cara pandang sosial tentang seksualitas perempuan, sampai asumsi-asumsi tentang niat si pemakai. 

Perempuan diatur dan diobjektivikasi, tanpa bisa memiliki otonomi atas tubuhnya. Permasalahannya selanjutnya, semua ini terjadi benar-benar mengabaikan niat perempuan untuk menggunakan atau memilih pakaian tersebut.

Dan di sinilah letak masalah yang sering tidak kita sadari.

Ketika pakaian perempuan dianggap “provokatif”, yang sebenarnya sedang terjadi adalah pemberian makna dari luar, bukan dari perempuan itu sendiri. Tubuh perempuan dibaca, ditafsirkan, bahkan diputuskan maknanya oleh orang lain. Bagian-bagian tubuh tertentu langsung diasosiasikan dengan seks, seolah-olah itu adalah makna yang pasti dan tidak bisa ditawar.

Baca Juga: Survei Setara Institute: Jumlah Pelajar Intoleran Meningkat

Perempuan akhirnya tidak lagi dilihat sebagai individu yang utuh, tapi dipersempit menjadi potongan-potongan tubuh yang dianggap “mengundang”. Yang lebih rumit, label “provokatif” ini juga sering membawa anggapan lain yang lebih berbahaya, bahwa jika seseorang bereaksi terhadap pakaian itu, maka reaksinya bisa dimaklumi. 

Kita sering mendengar kalimat seperti: “Ya wajar kalau diganggu, pakaiannya begitu.” 

Pelan-pelan, logika ini menggeser tanggung jawab. Bukan lagi sepenuhnya milik pelaku. Melainkan korban yang terus disalahkan (viktimisasi) dalam pelecehan seksual. 

Seolah-olah ada bagian dari kesalahan itu yang ikut dibebankan ke perempuan, hanya karena apa yang ia kenakan. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Perempuan memilih pakaian karena banyak alasan. Bisa karena nyaman, karena tren, karena ingin merasa percaya diri, karena tuntutan pekerjaan, atau sekadar karena itu yang ia suka. Bahkan, dalam banyak kasus, tidak ada niat sama sekali untuk menarik perhatian seksual. Tapi semua alasan itu sering kali tidak dianggap penting.

Karena yang lebih dipercaya justru asumsi yang patriarkis. Perempuan bisa saja berkata tidak ingin diganggu, tidak ingin diperhatikan secara seksual. Tapi ketika pakaiannya sudah lebih dulu dilabeli “provokatif”, suaranya jadi kalah. 

Ia bisa bilang “tidak”, tapi orang lain yang merasa lebih dominan atasnya justru sudah melihat “iya”. Di titik ini, perempuan seperti kehilangan kendali atas makna tubuhnya sendiri. Apa yang ia rasakan, apa yang ia inginkan, tidak lagi menjadi rujukan utama.

Dan mungkin di situlah letak kenapa tren seperti outfit anti-catcalling muncul. 

Baca Juga: Balada si Roy: Filmnya ‘Kering’, Namun Ada Simbol Maskulinisme Yang Bisa Kamu Pelajari

Pakaian yang “tidak provokatif” ini menciptakan rasa aman yang semu. Outfit anti-catcalling ini bukan semata-mata karena percaya bahwa pakaian tertutup bisa menghentikan pelecehan. Tapi karena ada rasa lelah. Lelah terus-menerus berada dalam situasi di mana tubuh selalu dibaca, dinilai, dan dijadikan alasan.

Outfit itu jadi seperti bentuk negosiasi. Cara untuk berkata, “Aku sudah berusaha menutup diri, jadi jangan ganggu aku.”

Padahal, dari semua yang sudah kita lihat, masalahnya tidak pernah benar-benar ada di pakaian. Maka sudah saatnya kita berhenti menyalahkan korban dan mulai melihat lebih dalam bagaimana cara pandang ini terbentuk. 

Sudah waktunya juga kita menggeser pola pikir. Bukan lagi sibuk mengatur apa yang perempuan kenakan, tapi mulai mempertanyakan kenapa masih ada yang merasa berhak mengganggu ruang aman perempuan.

(Editor: Nurul Nur Azizah)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.