Sat,30 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Film ‘Real Women Have Curves’, Perempuan Berhak Bebas dari Patriarki dan Standar Kecantikan

Film ‘Real Women Have Curves’, Perempuan Berhak Bebas dari Patriarki dan Standar Kecantikan

film-‘real-women-have-curves’,-perempuan-berhak-bebas-dari-patriarki-dan-standar-kecantikan
Film ‘Real Women Have Curves’, Perempuan Berhak Bebas dari Patriarki dan Standar Kecantikan
service

Di East Los Angeles, Ana Garcia berusia 18 tahun bergumul dengan ambisinya masuk kuliah dan tuntutan sang ibu yang mendominasinya untuk menikah, punya anak, dan meneruskan pabrik garmen kecil milik keluarganya. Dan dengan premis itu, film Real Women Have Curves dimulai.

Kamu mungkin bisa menebak arah narasi film Real Women Have Curves dari premis tersebut. Acapkali perempuan dibebani tuntutan-tuntutan yang menekan di bawah bendera patriarki. Sistem patriarki menghendaki perempuan dengan menuntutnya, sesuai dengan yang dikehendaki sistem tersebut. 

Film ini memotret sebuah isu sosial yang membalut kehidupan perempuan: tuntutan. Dipertontonkan lewat seorang remaja perempuan yang bertransformasi dari kehidupan SMA hingga ia lulus. 

Real Women Have Curves adalah sebuah drama komedi Amerika Serikat yang dirilis tahun 2002 dan disutradarai oleh Patricia Cardoso. Kemudian Josefina López dan George LaVoo menjadi penulis skenario film tersebut berdasarkan drama panggung berjudul sama pada tahun 1990 karya Josefina López.

Kisah yang tersaji dalam film ini, berangkat dari pengalaman nyata Josefina López. Ia sendiri mempunyai pengalaman bekerja di pabrik pakaian atau tekstil yang berada di wilayah East Los Angeles saat remaja.

Film Real Women Have Curves mengisahkan kehidupan seorang remaja perempuan bernama Ana García. Ia keturunan dan hidup bersama keluarga Meksiko-Amerika dari komunitas Chicano. 

Ana merupakan remaja perempuan cerdas yang bersekolah di Beverly High Schools menggunakan beasiswa. Menyadari kecerdasan dan kompetensi Ana, gurunya, Mr. Guzman mendorong perempuan itu untuk melanjutkan kuliah ke Universitas Columbia. Ia bahkan merekomendasikan Ana untuk menggunakan beasiswa penuh. 

Sayangnya, ibu Ana, Carmen García dengan amat sangat keras menentang anak perempuannya melanjutkan kuliah. Alih-alih, Carmen menyuruh Ana untuk bekerja di pabrik garmen milik kakaknya, yakni Estela. Carmen mengatakan, hal itu demi membantu perekonomian keluarga. Tentu ada lagi tujuan yang tak terucap: agar Carmen masih memiliki kontrol terhadap Ana.

Dengan tekanan serta penentangan yang sangat keras dari ibunya, Ana akhirnya terpaksa bekerja di pabrik garmen. Di pabrik, Ana menyadari betul bahwa ketimpangan itu nyata. Gaun-gaun mewah yang mereka produksi dijual hingga mencapai ratusan Dollar, sedangkan para pekerja—termasuk ibu Ana—hanya diberi puluhan Dollar dari penghasilan itu. Adegan ini membingkai ketimpangan serta perjuangan pekerja perempuan Latin berjuang mencari penghasilan dengan beban kerja yang berat dan upah yang minim, kadang hingga terlambat dibayarkan.

Di momen itu pula, Ana dekat dan berkencan dengan Jimmy, teman sekelas Ana saat SMA dulu. Jimmy merupakan seorang laki-laki muda yang sangat mencintai dan menyanyangi Ana apa adanya. Pun tidak mengindahkan bentuk tubuh Ana sama sekali—kendati ibu Ana selalu mencela tubuhnya.

Kembali ke pabrik garmen, Ana sedang menyetrika gaun. Ia mengeluhkan hawa yang panas, membuat keringat bercucuran. Hingga Ana mencopot bajunya, menyisakan kutang yang menempel di bagian atas tubuhnya. Melihat Ana, Carmen sangat tersulut emosi dan memarahi anak perempuannya itu. Tak lupa celaan terhadap tubuh Ana yang dianggapnya gendut. Namun, para pekerja lain mulai membela Ana. Hingga mereka pada akhirnya melepaskan pakaian dari atas sampai bawah, hanya menyisakan pakaian dalam. Mereka mulai memuji bentuk tubuh asli satu sama lain. Bahkan, tidak malu untuk menunjukkan stretch mark, bekas-bekas luka, hingga selulit. Melihat hal itu, Estela, kakak Ana melontarkan ucapan yang menohok kepada Carmen.

I wanna be taken seriously. Respected for what I think, not for how I look (Aku ingin dianggap serius. Dihargai atas hal yang kupikirkan, bukan bagaimana penampilanku).”

Sementara itu, guru Ana, Mr. Guzman mengunjungi Ana ke rumahnya. Ia membawa surat penerimaan serta beasiswa penuh dari Universitas Columbia. Sebuah hasil yang diperjuangkan Ana, setelah mengirimkan esai dan berkas-berkas administrasi yang dibutuhkan. Namun, Ana masih terjebak dengan larangan Carmen. Ibunya itu bahkan mengusir Mr. Guzman pergi dari rumah karena tak ingin sang anak melanjutkan pendidikan tinggi.

Singkat cerita, Ana mengalami naik-turun emosional. Meski tanpa restu ibu, ia akhirnya tetap berangkat melanjutkan kuliah ke Universitas Columbia. Ia pergi hanya bermodalkan restu sang ayah beserta keluarga lainnya. Sebelum berangkat ke bandara, Ana mencoba untuk meminta restu dan berpamitan dengan ibunya. Ana mengetuk pintu belasan kali, namun jawaban yang Ana harapkan tak kunjung terpenuhi. Film ini diakhiri dengan adegan Ana tiba di New York, melangkah dengan penuh asa, harapan, tujuan dan percaya diri menaklukkan kehidupan barunya di universitas.

Tentu ada banyak sekali detail kecil hingga adegan-adegan yang tak mampu saya masukkan dalam review film Real Women Have Curves ini. Secara garis besar konsep film tersebut, kita dapat menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan perempuan dan tuntutan di tengah sistem patriarki yang mengekang.

Tuntutan terhadap standar kecantikan, tercerminkan oleh perlakuan Carmen terhadap Ana. Dengan mencap Ana “gendut”, Carmen menunjukkan sisi dirinya sebagai perempuan yang sangat tradisional atau konservatif. Menurut pandangan idealnya seorang perempuan harus langsing atau kurus agar mereka dapat disukai laki-laki. Lalu perempuan itu menikah hingga mempunyai anak. 

Pandangan itu menurut Carmen adalah gambaran perempuan “sukses dan ideal”. Selain menikah dan punya anak, perempuan yang menjadi istri juga harus melayani suami dan mengurus anak-anaknya. Bukan perempuan berpendidikan tinggi yang “sukses” menurut pemahaman Carmen. Ada internalisasi patriarki dan seksisme dalam dirinya, meski ia juga seorang perempuan.

Melalui karakter Carmen, kita dipertontonkan bagaimana sistem patriarki membuat perempuan seperti dirinya harus mengorbankan diri demi keluarga. Pengalaman Carmen yang bekerja sejak belasan tahun, membentuk cara pandang bahwa Ana juga harus bekerja mengorbankan diri demi keluarga bersama Carmen. Sang ibu menjadi korban sistem kapitalisme dan patriarki; tapi, bukannya memutus rantai itu, ia malah menuntut anak-anak perempuannya untuk berjalan dalam sistem itu seperti dirinya.

Carmen sangat membatasi, dan mengontrol Ana. Membatasi ambisinya masuk perguruan tinggi, mengatakan bahwa seorang suami tidak ingin mempunyai seorang istri yang mempunyai pikiran atau sulit diatur. Dari inilah kita dapat mengetahui Carmen sangat memegang teguh prinsip patriarki. Bahwa perempuan harus berada di bawah laki-laki, dan tugasnya hanya melayani seorang suami dan mengurus anak-anak.

Sedangkan Ana, seorang remaja perempuan yang berpendidikan, memiliki pandangan tersendiri. Ia mematahkan pandangan Carmen terhadap standar kecantikan tersebut. Bahkan meski ibunya terus melabeli ia “gendut” dan menuntut banyak hal darinya.

Carmen merupakan seorang perempuan yang sangat memegang teguh tradisi. Sedangkan bagi Ana, kebebasan adalah hal mutlak yang tidak bisa dikekang tradisi. Dari sini terkonstruksi sebuah konflik antar generasi. Carmen yang teguh akan nilai-nilai tradisional yang dipercayainya, dan Ana yang mendambakan kebebasan.

Tapi kisah ini bukan hanya tentang Ana dan Carmen. Ada narasi lainnya yang menarik terselip dalam film Real Women Have Curves. Di pabrik garmen milik Estela, para pekerja mengerjakan gaun dan pakaian yang akan dijual di pusat-pusat perbelanjaan mewah. Gaun tersebut bisa dijual dengan harga ratusan Dollar, sedangkan para pekerja hanya dibayar sepersekiannya saja. 

Film ini memotret situasi dan kondisi ketimpangan biaya produksi dan jual. Belum lagi lingkungan kerja yang sempit dan panas, jam kerja yang panjang, hingga terkadang gaji yang telat dibayarkan. Menyoroti tajam kehidupan pekerja perempuan Latin—dan tentu saja para perempuan buruh lainnya seantero dunia—di industri pabrik garmen atau tekstil.

Film ini memotret ironi dalam ketimpangan, tradisi, perlawanan, ambisi, serta keinginan. Semua itu dibalut dengan perjuangan Ana memilih: antara mengikuti tradisi demi ibunya, atau pergi melanjutkan pendidikan tinggi.

Banyak kritik sosial yang dimuat dalam film Real Women Have Curves. Terhadap standar kecantikan yang menyebut perempuan harus kurus, putih, dan tinggi. Juga terhadap internalisasi patriarki, seksisme, dan stigma terhadap perempuan terpelajar. Film ini mencoba mendobrak stigma dan standar demikian. Khususnya tentang tubuh perempuan: saatnya merayakan bentuk tubuh perempuan apa adanya, tanpa cela dan objektifikasi. Juga tentang standar peran gender konservatif yang sangat patriarkal. Biarkan perempuan menempuh pendidikan alih-alih membentuk jalur hidupnya hanya untuk menikah, taat pada suami, dan beranak-pinak tanpa punya mimpi.

Kritik sosial dari film ini sangat tajam, mencoba menebar jala dengan segala bentuk hal yang memberikan ketimpangan terhadap perempuan. Termasuk upah rendah, objektifikasi terhadap tubuh, membatasi ambisi perempuan, serta beban ganda yang harus disanggul perempuan.

Maka saya rasa tepat untuk menutup naskah ini dengan seruan yang kita amini bersama:

Hidup perempuan! Lawan patriarki!

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.