Fri,10 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Donasi Digital hingga Pemberdayaan Umat Jadi Tantangan Filantropi di Era Disrupsi

Donasi Digital hingga Pemberdayaan Umat Jadi Tantangan Filantropi di Era Disrupsi

donasi-digital-hingga-pemberdayaan-umat-jadi-tantangan-filantropi-di-era-disrupsi
Donasi Digital hingga Pemberdayaan Umat Jadi Tantangan Filantropi di Era Disrupsi
service

Jakarta, NU Online

Lembaga filantropi dituntut tidak hanya adaptif terhadap teknologi, tetapi juga mampu menjaga substansi kerja-kerja kemanusiaan yang berkeadilan dan berkelanjutan. Hal ini mengingat dunia memasuki era disrupsi.

NU Care-LAZISNU telah melakukan transformasi tersebut melalui peluncuran wajah baru platform website NUCare.id versi 2.0. Platform digital tersebut dirancang untuk memudahkan donatur dalam seluruh proses transaksi zakat, infak, dan sedekah (ZIS) serta Dana Sosial Keagamaan Lainnya (DSKL). Hal ini mulai dari pembayaran hingga pelaporan penyaluran dana secara transparan dan real-time. 

Transformasi digital ini diklaim sebagai upaya optimalisasi peran NU Care-LAZISNU sebagai lembaga filantropi modern dan profesional yang mengedepankan prinsip akuntabel, transparan, amanah, dan profesional.

Direktur Eksekutif NU Care-LAZISNU PBNU Riri Khariroh menjelaskan bahwa NU Care-LAZISNU telah berdiri sejak 2004 dengan tujuan utama membantu kesejahteraan dan kemandirian masyarakat. Fokus tersebut, menurutnya, terutama diarahkan pada upaya pengentasan kemiskinan dan program-program pendayagunaan umat.

“Kami di NU Care-LAZISNU memiliki lima pilar program kerja yaitu NU Care Cerdas di bidang Pendidikan, NU Care Berdaya di bidang Ekonomi, NU Care Sehat bidang Kesehatan, NU Care Damai terkait bidang Dakwah dan Kemanusiaan, serta NU Care Hijau di bidang Lingkungan Hidup dan Energi,” ujarnya dalam Talkshow Interaktif, Peran Strategis Lembaga Filantropi untuk Kerja-Kerja Kemanusiaan di Era Disrupsi di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta pada Jumat (30/1/2026).

Ia mencontohkan, melalui NU Care Cerdas, LAZISNU memberikan beasiswa kepada santri, bantuan pendidikan, serta insentif guru secara berkala. Program tersebut dirancang berjangka panjang agar mampu memutus rantai kemiskinan.

“Misalnya, memberikan bantuan, beasiswa kepada salah satu anak yatim, misalnya, sampai dia lulus, dia bisa menjadi harapan keluarga untuk break from the cycle of poverty,” katanya.

Namun, transformasi digital dan perluasan program tersebut juga menghadirkan tantangan serius. Ketua PBNU Rumadi Ahmad menyampaikan bahwa aksi kemanusiaan di era saat ini harus diimbangi dengan transparansi dan akuntabilitas yang kuat.

Menurutnya, program pemberdayaan jangka panjang membutuhkan upaya yang jauh lebih besar, termasuk kesiapan sumber daya manusia dalam pengembangan masyarakat.

“Aksi kemanusiaan saat ini memang harus diimbangi dengan transparansi dan akuntabilitas,” ujar Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Deputi II BAZNAS Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan H M Imadadun Rahmat juga menilai bahwa disrupsi digital justru membawa sisi positif bagi pengelolaan zakat.

“Dengan platform-platform digital, kita bisa menyelesaikan surat-menyurat dengan lebih cepat, mengembangkan database, termasuk program pemberdayaan,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Forum CSR Indonesia Rio Zakarias Widyandaru menekankan pentingnya kolaborasi strategis antara lembaga filantropi dan sektor korporasi. Ia menyebut, di era disrupsi, kemudahan berdonasi melalui teknologi seperti barcode menjadi keniscayaan.

“Karena dunianya sudah berubah, cara-caranya sudah berubah, dan regulasinya berubah,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa tantangan terbesar lembaga filantropi bukan hanya soal teknologi, melainkan bagaimana memastikan transformasi digital benar-benar memperkuat kerja kemanusiaan, memberdayakan masyarakat, dan tidak terjebak pada sekadar efisiensi administratif semata.

“Kalau bisa lembaga filantrofi juga sebagai mitra kerjasama untuk pemberdayaan, mengentaskan kemiskinan,” ucapnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.