Wed,29 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Empat Jembatan Hanyut akibat Banjir Aceh Utara, PWNU Aceh Serukan Penguatan Mitigasi Bencana

Empat Jembatan Hanyut akibat Banjir Aceh Utara, PWNU Aceh Serukan Penguatan Mitigasi Bencana

empat-jembatan-hanyut-akibat-banjir-aceh-utara,-pwnu-aceh-serukan-penguatan-mitigasi-bencana
Empat Jembatan Hanyut akibat Banjir Aceh Utara, PWNU Aceh Serukan Penguatan Mitigasi Bencana
service

Banda Aceh, NU Online

Bencana alam berupa banjir melanda Desa Sawang, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, pada Jumat (24/7/2026). 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan banjir terjadi sekitar pukul 17.00 WIB. Banjir yang terjadi di tengah musim kemarau tersebut mengakibatkan empat jembatan hanyut sehingga memutus akses dari Desa Sawang menuju Desa Lhok Cut, Kubut, Blang Cut, dan Gunci.

Hingga Sabtu (25/7/2026), arus air masih dilaporkan cukup deras. BPBD Kabupaten Aceh Utara terus melakukan asesmen lapangan serta berkoordinasi dengan pemerintah desa, pemerintah kecamatan, dan lintas instansi untuk melakukan penanganan darurat serta mempercepat pemulihan akses masyarakat. 

Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh, Tgk. H. Asnawi M. Amin, menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah banjir yang melanda Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, di tengah berlangsungnya musim kemarau. 

Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan iklim dan anomali cuaca semakin nyata sehingga seluruh elemen masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat upaya mitigasi bencana.

Asnawi mengatakan, bencana yang datang di luar pola musim menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi dapat hanya berpatokan pada siklus cuaca sebagaimana biasanya. Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi bencana harus menjadi budaya bersama, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

“Kita turut prihatin atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh Utara. Semoga masyarakat yang terdampak diberikan kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini,” ujarnya, Ahad (26/7/2026).

Ia menjelaskan, dalam perspektif Islam, musibah harus menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial sekaligus melakukan evaluasi terhadap cara manusia memperlakukan alam. Menurutnya, menjaga kelestarian lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang Muslim.

“Islam mengajarkan agar manusia tidak membuat kerusakan di muka bumi. Menjaga hutan, sungai, dan lingkungan merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan serta mencegah datangnya bencana yang lebih besar,” katanya.

Asnawi juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan semangat gotong royong dalam membantu warga terdampak banjir. Menurutnya, nilai-nilai ukhuwah dan kepedulian sosial yang menjadi karakter Nahdlatul Ulama harus terus diwujudkan dalam aksi nyata, terutama ketika masyarakat menghadapi musibah.

“Kami mengajak warga NU dan seluruh masyarakat Aceh untuk bersama-sama membantu saudara-saudara kita yang terdampak sesuai kemampuan masing-masing. Solidaritas sosial menjadi kekuatan penting dalam mempercepat proses pemulihan pascabencana,” ujarnya.

Selain itu, ia meminta pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan instansi terkait agar segera mengambil langkah-langkah cepat untuk memulihkan akses transportasi yang terputus akibat hanyutnya sejumlah jembatan. Menurutnya, pemulihan infrastruktur menjadi kebutuhan mendesak agar aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan masyarakat dapat kembali berjalan normal.

Ia juga mendorong pemerintah untuk menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi dalam memperkuat sistem mitigasi bencana, termasuk pemetaan daerah rawan banjir, perbaikan tata kelola sungai, serta pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh menghadapi cuaca ekstrem.

“Perubahan iklim telah menghadirkan tantangan baru. Karena itu, kebijakan pembangunan juga harus semakin memperhatikan aspek mitigasi dan ketahanan terhadap bencana,” katanya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.