Mubadalah.id – Kalimantan kembali menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Memasuki Agustus 2026, sejumlah wilayah di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan masih menghadapi ancaman karhutla. Pemerintah terus melakukan penanganan untuk mencegah api meluas. Namun, persoalan ini tidak bisa selesai hanya dengan memadamkan api. Kita juga perlu melihat apa yang terjadi pada hutan, masyarakat, dan satwa ketika kebakaran terus berulang.
Kebakaran hutan bukan hanya soal pohon yang terbakar. Ketika api mulai menyebar, asap ikut memenuhi udara dan mengganggu aktivitas masyarakat. Orang-orang yang tinggal di sekitar kawasan terdampak harus berhadapan dengan kondisi udara yang buruk. Di sisi lain, satwa liar kehilangan tempat untuk mencari makan dan berlindung.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa karhutla di Kalimantan bukan persoalan kecil. Dampaknya menyentuh banyak kehidupan.
Ketika Hutan Kalimantan Mulai Terbakar
Di Kalimantan Barat, BPBD mencatat luas area yang terbakar sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai lebih dari 38 ribu hektare. Jumlah tersebut tentu bukan angka yang sedikit. Di balik angka itu ada hutan dan lahan yang terbakar, masyarakat yang terdampak, serta ekosistem yang membutuhkan waktu lama untuk pulih.
Kita mungkin hanya melihat berita tentang luas lahan yang terbakar. Namun, masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran merasakan dampaknya secara langsung. Asap dapat mengganggu perjalanan dan aktivitas sehari-hari. Jarak pandang juga dapat menurun ketika kabut asap semakin tebal.
Kebakaran juga membuat satwa kehilangan habitat. Kalimantan menjadi rumah bagi berbagai satwa, seperti orangutan, bekantan, burung enggang, dan beruang madu. Ketika api membakar hutan, satwa-satwa tersebut harus mencari tempat lain untuk bertahan hidup. Tidak semua satwa berhasil menyelamatkan diri.
Inilah yang sering luput dari perhatian. Api tidak hanya menghanguskan pohon, tetapi juga menghancurkan ruang hidup yang selama ini digunakan berbagai makhluk.
Hutan Bukan Hanya Tempat Pohon Tumbuh
Hutan di kalimatan memiliki peran penting dalam menjaga kehidupan. Pepohonan membantu menyimpan karbon, menjaga tanah, mengatur tata air, dan menyediakan tempat hidup bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa.
Masyarakat Kalimatan yang tinggal di sekitar hutan juga memiliki hubungan yang erat dengan lingkungannya. Bagi masyarakat lokal dan masyarakat adat, hutan dapat menjadi sumber pangan dan penghidupan. Mereka juga memiliki pengetahuan tentang cara menjaga dan memanfaatkan lingkungan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, ketika kebakaran menghancurkan hutan, masyarakat ikut merasakan kehilangan. Pemerintah perlu melibatkan mereka dalam upaya mencegah kebakaran. Pengalaman masyarakat yang hidup dekat dengan hutan dapat membantu mengenali kondisi lingkungan dan mencegah api berkembang lebih luas.
Asap Tidak Berhenti di Tempat Api Berasal
Satu hal yang perlu kita pahami, kebakaran tidak mengenal batas wilayah. Api mungkin muncul di satu kawasan, tetapi asapnya dapat bergerak ke tempat lain.
Asap karhutla dapat mengganggu masyarakat yang bahkan tinggal cukup jauh dari lokasi kebakaran. Aktivitas sekolah, pekerjaan, perjalanan, dan kegiatan lainnya bisa ikut terganggu.
Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan kerja sama. Pemerintah harus memperkuat pemantauan dan mempercepat penanganan ketika kebakaran muncul. Masyarakat juga perlu menghindari tindakan yang dapat memicu kebakaran. Perusahaan yang mengelola lahan harus ikut bertanggung jawab menjaga wilayah yang mereka kelola. Semua pihak memiliki peran. Jangan sampai kita baru bergerak setelah api sudah membesar.
Pada 21 Agustus 2026, Kementerian Kehutanan melaporkan jumlah hotspot nasional turun 56,2 persen dalam satu hari, dari 2.170 titik pada 19 Agustus menjadi 950 titik pada 20 Agustus. Penurunan tersebut tentu menjadi kabar baik.
Namun, kita tidak boleh langsung merasa aman. Selama masih ada wilayah yang terbakar, upaya pencegahan harus terus dilakukan. Kita juga perlu memulihkan kawasan yang sudah terbakar dan mencari penyebab kebakaran agar kejadian yang sama tidak terus berulang. Memadamkan api memang penting, tetapi mencegah kebakaran jauh lebih penting.
Kalimantan Adalah Rumah Kita
Kita mungkin tidak tinggal di Kalimantan. Namun, bukan berarti kita bisa menganggap kebakaran hutan di sana sebagai masalah orang lain. Hutan Kalimantan memiliki hubungan dengan kehidupan yang lebih luas melalui udara, air, iklim, dan ekosistem.
Ketika hutan terbakar, kita kehilangan banyak hal. Satwa kehilangan tempat tinggal, masyarakat menghadapi asap, dan alam membutuhkan waktu panjang untuk memulihkan diri.
Karena itu, jangan hanya merasa prihatin ketika melihat berita tentang Kalimantan yang terbakar. Kita perlu ikut peduli dan mendukung upaya pencegahan. Kita juga perlu berhenti menganggap kebakaran hutan sebagai kejadian yang biasa terjadi setiap tahun.
Kalimantan tidak seharusnya terus menjadi berita tentang api dan asap. Hutan di sana harus tetap menjadi tempat hidup bagi manusia dan satwa.
Menjaga hutan Kalimantan bukan hanya tentang menyelamatkan pohon. Kita sedang menjaga kehidupan yang ada di dalamnya dan masa depan yang akan kita wariskan kepada generasi berikutnya. []





Comments are closed.