Mubadalah.id – Sejuk dan rindang. Itu kesan pertama, ketika bertahun-tahun yang lalu saya memasuki latar SD Holistik Awliya Fahmina (SHAF). Begitu masuk semakin dalam melintas di setiap ruang kelasnya, saya terpaku pada tulisan sistem pendidikan dengan metode Montessori, yang tertempel di dinding sekolah, sesuatu yang asing dan baru bagi saya.
Lantas bertahun kemudian, tepatnya tahun 2025 kemarin, saya berkesempatan untuk terlibat dalam penulisan buku Praktik Baik Pendidikan Inklusi di SD Holistik Awliya Fahmina (SHAF). Karena kebutuhan untuk penulisan buku tersebut, saya berkunjung secara lebih intensif dan banyak berbincang dengan para pendiri dan pengelola sekolah tersebut.
Salah satu kutipan yang sangat inspiratif dari penggagas Metode Montessori, yaitu Maria Montessori adalah, “One test of the correctness of educational procedure is the happines of the child.” Artinya, salah satu tolok ukur ketepatan prosedur pendidikan adalah kebahagiaan anak. Ya, kebahagiaan anak menjadi kunci bagaimana pendidikan bisa kita anggap berhasil.
Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan anak dalam Islam yang berpusat pada penanaman akidah tauhid, penjagaan fitrah, keteladanan yang baik, serta kasih sayang. Proses ini tentu saja kita lakukan secara bertahap sesuai usia untuk membentuk anak yang berakhlak mulia.
Lalu siapa sebenarnya Maria Montessori itu? Mari kita berkenalan dengannya, yang sudah saya ringkas dari buku “100 Wanita Paling Berpengaruh Sepanjang Masa” karya Deborah G. Felder.
Seorang Anak Perempuan yang Baik dan Berprestasi
Maria Montessori adalah anak satu-satunya dari Renilde Stoppani Montessori. Ia adalah seorang wanita yang berasal dari keluarga berada, berpendidikan tinggi dan menganut paham sosial liberal. Sementara ayahnya Alessandro Montessori, seorang perwira angkatan bersenjata yang kemudian beralih menjadi pegawai sipil.
Sebagaimana halnya dengan sang istri, Alessandro mendukung perkara-perkara liberal. Namun tidak seperti istrinya, ia tidak mendukung pendidikan bagi para wanita yang melebihi sekolah dasar.
Saat Maria berusia lima tahun, keluarganya pindah ke Roma Italia. Pada usia enam tahun ia masuk ke sekolah umum, di mana ia memenangkan penghargaan dalam hal kelakuan baik. Lalu di kelas dua ia memenangkan penghargaan bagi “karya wanita”, yaitu menjahit, dan memasak.
Maria Montessori adalah seorang anak yang jujur, tegas dan mandiri. Biasanya ia menjadi pemimpin di dalam permainan-permainan bersama anak-anak lain. Ia suka belajar dan meskipun bukanlah seorang siswa brilian, ia bisa mengerjakan ujian dengan baik.
Ibunya mendukung secara akademis, dan merasa senang saat pada usia belasan tahun, Maria memutuskan untuk masuk ke sebuah sekolah teknik guna belajar kurikulum umum, yang mencakup pelajaran bahasa Prancis, sejarah, geografi, matematika dan ilmu pengetahuan.
Sudah bisa diramalkan bahwa ayahnya sakit hati terhadap keputusan putrinya yang “tidak feminin” itu. Namun ia tidak mencampurinya, dan Maria berprestasi baik di sekolah tersebut, lalu Maria masuk ke institut teknik lainnya hingga lulus pada tahun 1890.
Kemudian Maria melanjutkan pendidikannya ke Universitas Roma, di mana ia menjadi wanita Italia pertama yang mempelajari kedokteran. Pada saat kelulusannya di tahun 1896, Maria mendapatkan penghargaan dan menjadi orang pertama yang memperoleh gelar di bidang kedokteran.
Membantu Anak-anak yang Mengalami Kesulitan Belajar
Di samping mempraktikkan kedokteran, Maria menjadi semakin tertarik untuk mmebantu anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Ia mempelajari karya pendidik berkebangsaan Prancis, Jean-Marc Gaspard Itard, yang telah mempelopori penggunaan rangsang sensorik terhadap mereka yang mengalami kesulitan belajar.
Selain itu juga karya Eduoard Sequin, di mana latihannya yang menggunakan kegiatan fisik untuk merangsang persepsi telah menghasilkan kemampuan para siswanya untuk belajar membaca dan menulis.
Maria juga terpengaruhi filsuf oleh Jean-Jacques Rousseau, dan prioritasnya pada proses belajar dari bahan apa yang telah dipelajari. Dari tahun 1897 hingga 1898, Maria telah mengikuti semua kelas pedagogi dan antropologi di Universitas Roma.
Sebagai tambahan, Maria telah menerbitkan artikel-artikel di dalam jurnal profesional bersama koleganya, Dr. Giuseppe Montesano, dan memberi kuliah tentang topik-topik beragam, seperti peperangan dan perdamaian.
Selain itu, Maria juga tertarik membahas isu tentang perkara kaum wanita, pendidikan dan kebutuhan institut medis-pedagogikal untuk melatih para guru dalam hal pengasuhan dan pendidikan bagi anak-anak yang mengalami disabilitas mental.
Menginsiasi Program Montessori
Pada tahun 1900, Maria Montessori ditunjuk sebagai kepala sekolah Ortoprenik. Sebuah institusi pelatihan bagi para guru. Jenis sekolah yang telah ia dukung dalam kuliah-kuliahnya. Di dalam institusi ini, ia mempelopori instruksi bagi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Terutama dalam hal penggunaan media lingkungan yang kaya dengan materi-materi yang bisa dimanipulasi, dan memberi rangsang sensorik.
Maria meninggalkan institut ini pada tahun 1901 untuk melanjutkan pendidikannya. Lalu pada tahun 1904 ia telah ditunjuk sebagai seorang pengajar dalam bidang ilmu pengetahuan alam dan obat-obatan di Universitas Roma. Satu posisi yang terus ia emban hingga tahun 1908.
Keberhasilan program Montessori di Sekolah Ortoprenik telah mengilhaminya untuk menggunakan metode-metodenya bagi anak-anak yang tidak mengalami kebutuhan khusus. Lalu pada tahun 1907, Maria membuka Casa dei Bambini yang pertama (Rumah Anak-anak). Sebuah tempat penitipan anak bagi anak-anak pra sekolah di distrik San Lorenzo yang miskin di Roma.
Keberhasilan upaya yang mengandung risiko ini, dan makin bertambahnya minat terhadap metodenya telah menuntun Maria dan para pengikutnya untuk mendirikan sekolah-sekolah serupa di bagian lain di Benua Eropa. Begitu pula halnya dengan di Amerika Serikat, di mana sekolah Montessori yang pertama dibuka di Tarrytown, New York pada tahun 1912.
Saat metodenya menjadi kian populer, Maria mulai mencurahkan waktunya untuk melatih para guru, menulis serta memberi kuliah. Menjelang tahun 1923, ia melepaskan karier akademis dan kedokterannya guna membaktikan diri secara penuh pada kegiatan yang kemudian menjadi “Gerakan Montessori.”
Bahkan hingga hari ini, gerakan Montessori masih terus berlangsung dan dipraktikkan di seluruh dunia, termasuk di SD Holistik Awliya Fahmina (SHAF) Kota Cirebon. Sebuah upaya yang memberikan semangat dan optimisme bagi pendidikan dan masa depan anak-anak, guna menyongsong generasi emas tanpa perlu lagi merasa cemas. []





Comments are closed.