Mubadalah.id – Tepat 29 Agustus 2026 nanti, genap 21 tahun sudah sosok Nurcholish Madjid alias Cak Nur berpulang dalam damai. Muslim modernis kelahiran 17 Maret 1939 itu menghela napas pamungkasnya pada tahun 2005 lalu. Profesor Filsafat, Budhy Munawar Rachman, dalam pengantarnya terhadap kompilasi karya-karya Cak Nur, menyebut sosoknya sebagai kandidat “pemimpin Islam di masa mendatang”. Sayang, Cak Nur enggan nyapres.
Namun, mungkin memang bukan jalur elektoral yang Cak Nur geluti. Ia bergerak di ruang lain. Orang mengenalnya sebagai sosok yang tanpa ragu menembus mendung ke-jumud-an. Sepulang dari belajar di Chicago dan resmi menyandang gelar doctor of philosophy (Ph.D) serta kemudian menjadi bos HMI, ia membikin satu esai menantang bertajuk “Modernisasi ialah Rasionalisasi, Bukan Westernisasi”. Lewat tulisan yang menyentak itu, ia berkampanye bahwa modernisasi di lingkup Islam adalah sebuah keniscayaan.
Mesi begitu, tulisan ini sebetulnya sama sekali tidak ingin mengglorifikasi sosok Cak Nur. Bukan lagi pada masanya untuk mengikuti pola repetisi figur-figur outstanding seperti dirinya. Lagi pula, seandainya masih membuka mata hingga kini, mungkin ia akan bersikap seperti halnya begawan filsafat nihilisme Jerman, Friedrich Nietzsche. Yakni, sikap untuk ogah menjadi bahan puja-puji.
Toh, bukankah ada perkara yang lebih esensial daripada sekadar kisah-kisah spektakuler itu? Tidakkah lebih penting untuk merefleksikan kondisi umat IsIam Indonesia saat ini—selepas dua dekade kepergian Cak Nur? Masihkah kegandrungan pada tradisi berpikir demi melahirkan kearifan bersama itu berlanjut?
Teladan Cak Nur dalam tradisi berpikir
Padahal, kebutuhan untuk merawat tradisi berpikir arif itu, dalam hemat penulis, kian mendesak dewasa ini. Indonesia kini berhadapan dengan serangkaian problem kebijakan publik yang menyulut berbagai respon negatif umat. Sedari Agustus 2025 lalu, demonstrasi yang digawangi para mahasiswa telah menjadi suguhan rutin yang terekam oleh pelbagai lensa media.
Nahasnya, dalam kegentingan serupa itu, sosok pemikir muslim trengginas belum lagi memfajarkan diri. Api reformisme yang Cak Nur sulut serasa padam tak bersisa. Abu lembutnya pun sampai tak lagi mengepulkan asap panas.
Hampir tak lagi kita dengar lontaran kritik dari lisan muslim modern Indonesia saat ini. MUI sebagai lembaga swadaya yang menaungi para cendekiawan muslim sekadar bersikap pasif—atau malah afirmatif—terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang sama sekali tak bijak.
Sebagai misal, saat presiden secara ugal-ugalan menggamblokkan diri dalam organisasi Board of Peace (BoP) bentukan Amerika, MUI yang sempat mempersoalkan mendadak ciut selepas diundang ke Istana. Sikap itu membikin publik dipenuhi purbasangka. Apakah para sarjana muslim kita sebegitu mudahnya mlungsungi (baca: bersalin pikiran) di hadapan penguasa?
Sejatinya, matinya api kritik intelektual dari kalangan cendekiawan muslim Indonesia belakangan bukanlah sesuatu yang suddenly comes up. Zainuddin (2024) lewat artikel Kompas bertajuk “The Fading Tradition of Islamic Intellectualism” menggambarkan bagaimana intelektual muslim Indonesia telanjur berada dalam situasi tarik ulur (tug of war) kepentingan politik.
Alih-alih berupaya “memodernisasi” kemunduran yang menimpa umat, para elite sarjana justru lebih asyik masyuk berebut jatah rente. Maka, tak heran jika pada banyak perusahaan negara (baca: BUMN), jabatan strategisnya menjadi obralan para intelektual muslim yang mau mengekor kepada pemerintah.
Kritik intelektual kini dan mendatang
Beruntung, bahwa kita masih punya segelintir pemikir dan akademisi kritis yang berani lantang melawan. Kita juga masih punya mahasiswa-mahasiswa yang tak gentar turun gelanggang, tak ragu maju meninju demi menyuarakan kebenaran.
Mereka sejauh ini masih setia menjadi penyambung suara-suara protes. Namun, hal itu tak berarti bahwa publik bisa dengan sekenanya menyandarkan tanggung jawab kritik kepada mereka. Publik, terutama sekali kalangan muslim sebagai mayoritas, harus melahirkan para pengkritik organik yang lahir dari rahim sendiri.
Karenanya, Haul Cak Nur tahun ini merupakan momentum yang tepat untuk menyentil para cendekiawan kita—juga para calon cendekiawan muslim masa depan—tentang komitmen mereka dalam menyokong nilai-nilai kearifan. Sekali lagi, tanpa ingin jatuh pada kubangan glorifikasi, keteladanan reformisme dan modernisme yang telah Cak Nur wariskan harus kita lanjutkan.
Mau tidak mau! Kita perlu figur-figur sepertinya—tentu saja tidak berarti harus plek-ketiplek—yang tak jemu menghadapi tuduhan, tak gentar memanen tekanan. Toh, bukankah sepanjang sejarah manusia kebenaran memang tak pernah berleha-leha di atas ambin kenyamanan? Selalu ada resistensi yang mesti dihadapi. Lalu, mengapa pula kini kita sangsi untuk melawan? []





Comments are closed.