Jakarta, Arina.id—Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Senin (8/6/2026). Di pasar spot domestik, kurs rupiah telah mencapai level 18.129 per dolar Amerika Serikat (AS).
Posisi ini melemah dibanding penutupan perdagangan pada Jumat, 5 Juni 2026, yang tercatat berada di level 18.036 per dolar AS.
Tekanan juga terjadi di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona negatif dan sempat merosot sekitar 4 persen ke level 5.370 pada pukul 09.16 WIB. Hingga pukul 10.05 WIB, IHSG masih bertahan di area merah dengan penurunan sekitar 2,8 persen.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen global, seperti konflik Timur Tengah dan arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Dari sisi domestik, kebutuhan dolar yang meningkat diperkirakan akan mempengaruhi posisi neraca transaksi. Ibrahim menyoroti inflasi yang meningkat pada Mei serta menyempitnya surplus neraca perdagangan.
Kemudian, ada juga sentimen dari penurunan outlook utang Danantara Investment Management oleh lembaga pemeringkat utang Moody’s.
“Merosotnya mata uang rupiah ini terjadi di tengah keresahan investor atas banyaknya agenda Presiden Prabowo yang begitu besar, terutama tentang proyek makan bergizi gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, kemudian yang paling utama adalah meningkatnya subsidi bahan bakar,” ucap Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Ibrahim menjelaskan sentimen yang menyertai pasar keuangan adalah adanya kekhawatiran pasar akan gagalnya perdamaian Amerika Serikat-Iran. Pada Senin malam, AS disebut telah melancarkan serangan baru pada lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di Iran Selatan.
Sementara dari domestik, sentimen datang dari adanya krisis kepercayaan terhadap krisis ekonomi Indonesia yang sudah mulai nampak di depan mata. Kondisi ini membuat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum jelas sampai kapan terus berlanjut.
Dari sektor ketenagakerjaan, Ibrahim melihat adanya lonjakan PHK dalam sebulan terakhir. Kondisi tersebut mulai berdampak pada sejumlah perusahaan yang melakukan efisiensi hingga menghentikan operasional.
“Konflik geopolitik global juga mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri nonsubsidi yang turut menambah biaya produksi perusahaan,” tandasnya.





Comments are closed.