Wed,20 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Hati-Hati! Ini 5 Akibat Fatal Murid Melawan Guru menurut Ulama

Hati-Hati! Ini 5 Akibat Fatal Murid Melawan Guru menurut Ulama

hati-hati!-ini-5-akibat-fatal-murid-melawan-guru-menurut-ulama
Hati-Hati! Ini 5 Akibat Fatal Murid Melawan Guru menurut Ulama
service

Arina.id – Dalam khazanah keilmuan Islam, kedudukan adab terhadap guru berada pada derajat yang sangat tinggi. Para ulama tidak hanya menaruh penekanan pada kecerdasan intelektual dan kesungguhan dalam menuntut ilmu semata, melainkan juga memberikan perhatian besar terhadap sikap batin dan perilaku lahir seorang murid kepada gurunya. 

Bahkan, keberkahan ilmu, kelapangan rezeki, serta baik dan buruknya akhir kehidupan seseorang kerap dikaitkan dengan sejauh mana ia memuliakan atau meremehkan gurunya. Berikut ini 5 akibat fatal yang dapat menimpa seorang murid ketika ia melawan gurunya menurut pandangan para ulama salaf:

1. Diberi Tiga Cobaan Hidup akibat Meremehkan Guru

Syekh Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi (wafat 1310 H) dalam kitabnya menjelaskan bahwa sikap meremehkan guru bukanlah perkara sepele. Beliau menegaskan bahwa Allah SWT akan menimpakan ujian berat kepada orang yang merendahkan gurunya, dengan tiga cobaan besar berupa lenyapnya hafalan, kelemahan pada lisan, serta kemiskinan di penghujung hidupnya:

مَنْ اسْتَخَفَّ بِأُسْتَاذِهِ، ابْتَلَاهُ اللَّهُ تَعَالَى بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: نَسِيَ مَا حَفِظَ، وَكَلَّ لِسَانُهُ، وَافْتَقَرَ فِي آخِرِهِ 

Artinya: “Barang siapa meremehkan gurunya, maka Allah Ta’ala akan mengujinya dengan tiga perkara: lupa terhadap apa yang telah ia hafal, lisannya menjadi kelu (tidak lancar berbicara), dan jatuh dalam kemiskinan di akhir hidupnya.” (Kifayah Al-Atqiya Wa Minhaj Al-Ashfiya [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah), h. 305)

Cobaan tersebut bukan hanya sebatas musibah yang bersifat duniawi, melainkan menjadi tanda hilangnya keberkahan ilmu. Hafalan yang sebelumnya tertancap kuat perlahan memudar, lisan yang dahulu lancar berbicara menjadi terhambat, dan kehidupan yang awalnya lapang berubah menjadi sempit. Seluruh keadaan itu merupakan buah dari rusaknya adab seorang murid terhadap sumber ilmu yang ia terima.

2. Sulit Terbuka Ilmu dan Suram Masa Depannya

Lebih lanjut, Syekh Ibn Hajar Al-Haitami (wafat 974 H) dalam kompilasi fatwanya menyoroti perilaku murid yang kerap mempersoalkan gurunya dan sibuk meneliti serta mencari-cari kekeliruan para guru. Beliau menegaskan bahwa sikap semacam ini merupakan pertanda terhalangnya seseorang dari kebaikan, buruknya kesudahan hidupnya, serta kegagalannya dalam mencapai keberhasilan:

وَمَنْ فَتَحَ بَابَ الِاعْتِرَاضِ عَلَى الْمَشَايِخِ، وَالنَّظَرِ فِي أَحْوَالِهِمْ وَأَفْعَالِهِمْ، وَالْبَحْثِ عَنْهَا، فَإِنَّ ذَلِكَ عَلَامَةُ حِرْمَانِهِ وَسُوءِ عَاقِبَتِهِ، وَأَنَّهُ لَا يَنْجَحُ قَطُّ .وَمِنْ ثَمَّ قَالُوا: مَنْ قَالَ لِشَيْخِهِ: لِمَ؟ لَمْ يُفْلِحْ أَبَدًا؛ أَيْ لِشَيْخِهِ فِي السُّلُوكِ وَالتَّرْبِيَةِ، لِمَا تَقَرَّرَ أَنَّ شَأْنَ السَّالِكِ أَنْ يَكُونَ بَيْنَ يَدَيِ الشَّيْخِ كَالْمَيِّتِ بَيْنَ يَدَيِ الْغَاسِلِ

Artinya: “Barang siapa membuka pintu untuk memprotes para masyayikh, meneliti keadaan dan perbuatan mereka serta mencari-cari (kesalahan) mereka, maka hal itu merupakan tanda terhalangnya ia dari kebaikan, buruknya akhir dirinya, dan bahwa ia tidak akan pernah berhasil. Oleh karena itu dikatakan: Barang siapa berkata kepada gurunya: Mengapa? maka ia tidak akan pernah beruntung. Maksudnya adalah gurunya dalam hal suluk dan pendidikan spiritual, karena telah ditetapkan bahwa keadaan seorang salik di hadapan gurunya hendaknya seperti mayat di tangan orang yang memandikannya.” (Al-Fatawa Al-Haditsiyah [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah], h. 140)

Para ulama bahkan menegaskan bahwa siapa pun yang berkata kepada gurunya “mengapa?”, niscaya ia tidak akan memperoleh keberuntungan. Ungkapan ini bukan dimaksudkan sebagai larangan untuk berpikir kritis secara mutlak, melainkan sebagai peringatan agar seorang murid tidak mengedepankan ego dan logikanya di atas bimbingan guru, khususnya dalam ranah suluk dan pendidikan spiritual. Dalam konteks ini, seorang murid dituntut untuk bersikap tunduk, pasrah, dan menjaga adab, sebagaimana mayat yang sepenuhnya berada di tangan orang yang memandikannya.

3. Durhaka kepada Guru: Dosa yang Sangat Berat

Beratnya dampak durhaka kepada guru kembali ditegaskan oleh Imam Ibn Mulaqqin (wafat 804 H). Beliau mengutip sebuah pernyataan yang sangat menggugah, bahwa sikap durhaka kepada kedua orang tua masih dapat dihapus dengan cara melakukan tobat, sementara itu durhaka kepada guru tidak dapat dihapus oleh apa pun:

عُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ تَمْحُوهُ التَّوْبَةُ، وَعُقُوقُ الْأُسْتَاذَيْنِ لَا يَمْحُوهُ شَيْءٌ أَلْبَتَّةً

Artinya: “Durhaka kepada kedua orang tua dapat dihapus dengan tobat, sedangkan durhaka kepada para guru tidak dapat dihapus oleh apa pun sama sekali.” (Thabaqat Al-Auliya [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah], h. 171)

Ungkapan ini menunjukkan betapa luhur dan agungnya kedudukan guru dalam ajaran Islam. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar semata, tetapi juga menjadi perantara tersampaikannya cahaya ilmu dan hidayah. Oleh karena itu, melukai hati sang guru sama halnya dengan menutup pintu cahaya tersebut dari diri sendiri.

4. Ilmu yang Didapat Tidak Akan Memberi Manfaat

Syekh Burhanuddin Az-Zarnuji (wafat 591 H) dalam karyanya menegaskan bahwa ilmu tidak akan diperoleh dan tidak pula memberikan manfaat kecuali dengan memuliakan ilmu beserta para ahlinya, terutama dengan menghormati guru. 

Lebih lanjut, beliau menukil sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa seseorang tidak akan mencapai keberhasilan kecuali dengan menjaga kehormatan dan adab, dan seseorang tidak akan terjerumus dalam keterpurukan kecuali karena meninggalkan adab serta sikap memuliakan:

اِعْلَمْ أَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ وَلَا يَنْتَفِعُ بِهِ إِلَّا بِتَعْظِيمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ، وَتَعْظِيمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِيرِهِ .قِيلَ: مَا وَصَلَ مَنْ وَصَلَ إِلَّا بِالْحُرْمَةِ، وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ إِلَّا بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ وَالتَّعْظِيمِ

Artinya: “Ketahuilah bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaat darinya, kecuali dengan mengagungkan ilmu dan para ahlinya, serta mengagungkan dan menghormati guru. Dikatakan: Tidaklah seseorang mencapai (kedudukan ilmu dan keberhasilan) kecuali dengan menjaga kehormatan (adab), dan tidaklah seseorang terjatuh kecuali karena meninggalkan kehormatan dan sikap mengagungkan.” (Ta’lim Al-Muta’alim [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah], h. 45)

Dengan demikian, kecerdasan yang tidak disertai etika hanya akan menumbuhkan kesombongan, sedangkan etika yang terjaga dengan baik menjadi sebab terangkatnya derajat seseorang dan meluasnya keberkahan serta manfaat ilmu yang dimilikinya.

5. Tidak Mendapatkan Ridha Guru: Bahaya Terbesar Seorang Murid

Peringatan yang lebih mendalam disampaikan oleh Syekh Abdullah bin Alawi Al-Haddad (wafat 1132 H) dalam salah satu karyanya. Beliau menegaskan bahwa bahaya terbesar yang dapat menimpa seorang murid adalah berubahnya hati guru terhadap dirinya. Bahkan, seandainya para masyayikh dari Timur hingga Barat bersatu sekalipun untuk memperbaiki keadaan murid tersebut, mereka tidak akan mampu melakukannya selama gurunya belum kembali ridha kepadanya:

وَأَضَرُّ شَيْ عَلَى الْمُرِيدِ تَغَيَّرُ قَلْبِ الشَّيْخِ عَلَيْهِ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَى إِصْلَاحِهِ بَعْدَ ذَلِكَ مَشايخ المَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَمْ يَسْتَطِيعُوهُ إِلَّا أَنْ يَرْضَى عَنْهُ شَيْخَهُ

Artinya: “Hal yang paling berbahaya bagi seorang murid adalah berubahnya hati sang guru terhadap dirinya. Bahkan seandainya para masyayikh dari Timur dan Barat bersatu untuk memperbaikinya setelah itu, mereka tidak akan mampu melakukannya, kecuali apabila gurunya kembali ridha kepadanya.” (Risalah Adab Suluk Al-Murid [Beirut: Dar Al-Hawi], h. 54)

Hal ini menunjukkan bahwa ridha seorang guru memiliki pengaruh spiritual yang sangat besar. Ketika seorang guru memberikan ridha, niscaya doa dan bimbingannya menjadi sebab terbukanya berbagai pintu kebaikan. Sebaliknya, bilamana hati guru telah berpaling, maka jalan menuju kebaikan tersebut pun menjadi tertutup.

Kesimpulan

Dari berbagai penjelasan para ulama tersebut, dapat disimpulkan bahwa adab kepada guru bukanlah sekadar unsur pelengkap dalam proses menuntut ilmu, melainkan sebagai fondasi yang paling mendasar. Meremehkan guru, memprotes tanpa adab, atau melukai hatinya akan berpengaruh langsung terhadap hilangnya keberkahan ilmu, sempitnya kehidupan, dan buruknya akhir seseorang.

Oleh sebab itu, siapa pun yang mengharapkan ilmu yang bermanfaat, kehidupan yang lapang, serta husnul khatimah, hendaknya senantiasa menjaga sikap hormat, tawadhu, dan kesetiaan kepada gurunya. Lantaran, kemuliaan seorang murid pada hakikatnya tercermin dari bagaimana ia memuliakan orang yang menjadi perantara sampainya ilmu kepadanya.

Demikianlah 5 akibat fatal yang dapat menimpa seorang murid ketika ia berani melawan gurunya menurut pandangan para ulama salaf. Wallahu a’lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.