Arina.id – Bulan Ramadhan dikenal sebagai bulan yang dipenuhi rahmat dan ampunan dari Allah. Pada bulan ini, umat Islam berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah demi meraih pahala serta mendapatkan rida Allah SWT.
Dalam upaya menghidupkan malam-malam Ramadhan, umat Islam biasanya mengisinya dengan berbagai ibadah seperti sholat tarawih, sholat witir, tadarus Al-Qur’an, serta amalan kebaikan lainnya. Setelah itu, seseorang biasanya beristirahat pada malam hari, lalu bangun kembali di sepertiga malam untuk melaksanakan sholat tahajud.
Kemudian muncul pertanyaan: bagaimana status sholat tahajud jika sebelumnya seseorang sudah melaksanakan sholat witir? Padahal terdapat hadits Nabi yang menganjurkan agar Witir dijadikan sebagai penutup sholat malam:
اجْعَلُوا آخِر صَلاَتِكُمْ وتْرَا
Artinya: “Jadikanlah akhir sholat kalian di malam hari adalah Witir.” (Muttafaq ‘alaih)
Makna hadits ini adalah anjuran menjadikan sholat Witir sebagai penutup rangkaian sholat malam. Hal ini diibaratkan seperti sholat Maghrib yang menjadi penutup sholat siang hari, sehingga Witir menjadi penutup ibadah qiyamul lail.
Dalam kitab fikih, dijelaskan bahwa disunahkan menjadikan Witir sebagai penutup sholat malam, walaupun seseorang tidur terlebih dahulu. Penjelasan ini terdapat dalam kitab Fathul Mu’in yang juga mengutip penjelasan para ulama.
اي: أمَر؛ بأن نجعل صلاة الوتر ختاما لصلاة الليل، كما أن صلاة المَغرب وِتر صلاة النهار وختامها؛ فكذلك صلاة الوِتر بالنسبة لقيام الليل
Artinya: “Maksudnya Rasulullah memerintahkan (menganjurkan) agar sholat Witir sebagai pamungkas sholat malam, sebagaimana sholat maghrib itu merupakan witirnya sholat pada siang sekaligus pamungkasnya. Begitu pula sholat Witir dinisbatkan bagi sholat malam.”
Keterangan ini juga dipertegas oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ dan syarah beliau terhadap Shahih Muslim. Beliau menjelaskan bahwa jika seseorang tidak yakin bisa bangun di akhir malam, maka disunahkan melaksanakan Witir di awal malam setelah sholat Isya.
Namun jika yakin dapat bangun di akhir malam, maka yang lebih utama adalah menunda Witir hingga setelah tahajud, karena sholat di akhir malam memiliki keutamaan lebih besar.
ويسن جعله آخر صلاة الليل : ولو نام قبله لخبر الشيخين اجعلوا آخر صلاتكم من الليل وترا، فإن كان له تهجد أخر الوتر إلى أن يتهجد وإلا أوتر بعد فريضة العشاء وراتبتها هذا ما في الروضة كأصلها وقيده في المجموع بما إذا لم يثق بيقظته آخر الليل وإلا فتأخيره أفضل لخبر مسلم من خاف أن لا يقوم آخر الليل فليوتر أوله ومن طمع أن يقوم آخره فليوتر آخر الليل فإن صلاة آخر الليل مشهودة وذلك أفضل
Artinya: “(Disunahkan menjadikan sholat Witir sebagai penutup dari rangkaian sholat malam) meskipun ia tidur sebelum sholat malamnya berdasarkan hadits Nabi “Jadikanlah akhir sholat malam kalian berupa sholat witir” (HR. Bukhari muslim). Bila ia bertujuan melaksanakan sholat Tahajud di malam harinya, maka disunahkan mengakhirkan witirnya, bila tidak, maka lakukan sholat Witir setelah sholat Isya. Imam Nawawi dalam al-majmu’ memberi batasan hal demikian (sholat Witir setelah isya) bila memang ia tidak yakin mampu bangun di akhir malam, bila yakin mampu bangun, maka yang lebih utama baginya adalah mengakhirkan Witir berdasarkan hadits riwayat muslim : “Barangsiapa takut tidak bisa bangun di akhir malam, maka hendaknya dia sholat Witir di awal malam, barangsiapa bersemangat yakin untuk bangun di akhir malam maka hendaknya dia Witir di akhir malam, karena sholat di akhir malam disaksikan, dan itu lebih utama.” (HR. Muslim (755). [Mughni alMuhtaaj I/222].
فيه دليل صريح على أن تأخير الوتر إلى آخر الليل أفضل لمن وثق بالاستيقاظ آخر الليل وأن من لا يثق بذلك فالتقديم له أفضل وهذا هو الصواب
Artinya: “Ini merupakan dalil yang sangat jelas, bahwa mengakhirkan sholat Witir di akhir malam lebih utama bagi orang meyakini mampu bangun akhir malam, dan melakukan Witir sebelum tidur itu lebih utama bagi yang tidak yakin mampu bangun di akhir malam“. [ Syarh Nawawi ala Muslim VI/25 ]
Para ulama juga menegaskan bahwa mengakhirkan Witir lebih utama bagi orang yang yakin bisa bangun malam, sedangkan mendahulukan Witir lebih utama bagi orang yang khawatir tidak bisa bangun.
Dari berbagai penjelasan ulama tersebut dapat disimpulkan bahwa melaksanakan sholat Tahajud setelah Witir hukumnya boleh dan tetap sah. Anjuran menjadikan Witir sebagai penutup sholat malam adalah bentuk keutamaan (afdhal), bukan syarat sah. Artinya, seseorang tetap boleh melaksanakan tahajud walaupun sebelumnya sudah melaksanakan witir, dan hal itu tidak membatalkan ataupun mengurangi keabsahan sholat tahajudnya. Wallahu a’lam bish shawab.





Comments are closed.