Di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut, Pegunungan Wondiwoi, Papua Barat, terdapat satwa unik dan endemik yang selama 90 tahun dianggap telah lenyap. Bulu keemasannya berpadu dengan lumut di dahan-dahan pohon, menciptakan kamuflase sempurna yang membuatnya nyaris tak terlihat. Inilah kanguru pohon wondiwoi (Dendrolagus mayri), spesies yang pertama kali didokumentasikan oleh ahli biologi Ernst Mayr pada 1928. Keberadaannya yang menghilang hampir satu abad, akhirnya difoto kembali oleh botanis asal Inggris, Michael Smith, pada tahun 2018. Kanguru pohon bukan sekadar memanjat pohon. Mereka adalah keajaiban evolusi yang berbeda secara fundamental dari sepupu darat mereka di Australia. Kanguru pohon memiliki kaki belakang lebih pendek dan lengan depan lebih kuat dibandingkan kanguru darat. Adaptasi ini memberi mereka kelincahan luar biasa di atas pohon, tetapi juga membuat mereka canggung saat berada di tanah. Cakar melengkung di keempat kakinya berfungsi seperti kait pengaman, sementara telapak kaki dilapisi kulit kasar seperti bantalan yang memberikan cengkeraman kuat pada batang licin sekalipun. Ketika bergerak di atas dahan, mereka tidak melompat seperti kanguru darat. Mereka berjalan dengan keempat kaki seperti kucing, menggunakan ekor panjangnya antara 40–94 cm sebagai penyeimbang sekaligus berfungsi seperti tungkai untuk mencengkeram cabang. Kangguru pohon matschie (Dendrolagus matschiei) yang hidup di hutan asli mereka di Semenanjung Huon, Papua Nugini. Foto: Wikimedia Commons/Jaganath/GNU Free Documentation License Sebagai satwa arboreal (penghuni pohon), kanguru pohon menghabiskan lebih dari 90 persen hidupnya di atas pepohonan. Mereka aktif pada waktu fajar dan senja, memanfaatkan suhu yang lebih sejuk untuk mencari makan. Di kebun binatang Woodland Park Zoo, Seattle, Amerika Serikat, empat ekor kangguru pohon…This article was originally published on Mongabay
Hutan Papua, Rumah Besar Kanguru Pohon
Hutan Papua, Rumah Besar Kanguru Pohon





Comments are closed.