Sat,8 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Iman kepada Takdir Tak Meniadakan Hukum Sebab-Akibat

Iman kepada Takdir Tak Meniadakan Hukum Sebab-Akibat

iman-kepada-takdir-tak-meniadakan-hukum-sebab-akibat
Iman kepada Takdir Tak Meniadakan Hukum Sebab-Akibat
service

Masih sering kita temui dua pandangan ekstrem dalam memahami takdir. Kelompok pertama beranggapan bahwa jika segala sesuatu sudah ditentukan oleh Allah, maka usaha manusia menjadi sia-sia. Mereka berpikir, “Kalau nasib sudah ditakdirkan, untuk apa berusaha?

Sementara kelompok lain justru menempatkan hukum sebab-akibat sebagai satu-satunya ukuran. Bagi mereka, kehidupan sepenuhnya ditentukan oleh kerja keras dan kecerdikan manusia, tanpa ruang bagi campur tangan takdir.

Padahal, kedua pandangan itu sama-sama keliru dalam pandangan Ahlussunnah wal Jamaah. Mengimani takdir tidak berarti menafikan usaha, dan mempercayai usaha tidak berarti menolak takdir. Dalam mazhab ini, keduanya harus berjalan beriringan: iman kepada takdir tertanam dalam batin, sementara hukum sebab-akibat berlaku dalam kehidupan nyata manusia.

Konsep Takdir: Menyatukan Dalil yang Tampak Bertentangan

Salah satu hal yang sering membingungkan adalah adanya ayat-ayat Al-Qur’an yang tampak berlawanan. Misalnya, pada satu ayat Allah berfirman:

قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ

Artinya, “Katakanlah: semuanya (baik dan buruk) datang dari Allah,” (QS. An-Nisa [4]: 78).

Namun pada ayat berikutnya Allah berfirman:

مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًاۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا

Artinya, “Apa pun kebaikan yang menimpamu, datangnya dari Allah; dan apa pun keburukan yang menimpamu, datangnya dari dirimu sendiri,” (QS. An-Nisa [4]: 79).

Mengimani takdir dan menjalankan sebab-akibat ibarat dua sisi dari satu koin yang sama, namun beroperasi pada dua “instalasi” yang berbeda.

Pertama, iman kepada takdir berada pada instalasi batin, yaitu ruang kesadaran ruhani yang meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa izin Allah.

Kedua, sebab-akibat berlaku pada instalasi zahir, yakni wilayah tindakan dan usaha manusia yang tunduk pada hukum alam (sunatullah). Walaupun begitu, tidak setiap peristiwa harus selalu mengikuti logika sebab-akibat semata.

Syekh Ibrahim al-Laqani (w. 1041 H) dalam Jawharatut Tauhid mengingatkan agar umat Islam menyeimbangkan dua hukum ini:

وَكُلُّ مَا يُجْرِي فِي الْكَوْنِ فَبِالْقَدَرْ
مَعْ كَسْبِ عَبْدٍ لا كَإِيجَادِ الْبَشَرْ

Artinya, “Segala yang terjadi di alam ini adalah dengan takdir, disertai usaha hamba, bukan penciptaan manusia,” ( Ibrahim al-Laqani, Jawharatut Tauhid, [Beirut: Dar al-Fikr, 1998], bait 54–55, hlm. 21).

Syekh al-Bajuri dalam penjelasannya terhadap bait ini menulis:

يَجِبُ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَعْمَلَ بِالأَسْبَابِ مَعَ اعْتِقَادِ أَنَّهَا لَا تُؤَثِّرُ بِذَاتِهَا، بَلْ اللهُ هُوَ الْمُسَبِّبُ

Artinya, “Wajib bagi hamba untuk berpegang pada sebab, seraya meyakini bahwa sebab itu tidak memberi pengaruh dengan sendirinya, tetapi Allahlah Sang Pemberi pengaruh,” (Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Jawharatut Tauhid, [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004], hlm. 52)

Meninggalkan sebab adalah keliru, karena Allah menjadikannya hukum duniawi yang harus diikuti. Namun bergantung penuh pada sebab juga salah, sebab hasil sejatinya milik Allah. Inilah hakikat tawakal, yaitu ikhtiar maksimal disertai keyakinan bahwa hasil sepenuhnya berada di tangan-Nya. Syekh Muhammad Sanusi dalam Hasyiyah Sanusiyyah menulis:

فَاعْلَمْ أَنَّ الأَسْبَابَ لَا تُؤَثِّرُ فِي الذَّاتِ، بَلْ اللهُ جَعَلَهَا مَظَاهِرَ لِحِكْمَتِهِ

Artinya, “Ketahuilah bahwa sebab-sebab itu tidak memberi pengaruh dengan sendirinya, tetapi Allah menjadikannya sebagai manifestasi hikmah-Nya.” (Hasyiyah as-Sanusiyyah ‘ala Ummil Barahin, [Kairo: Maktabah al-Kubra, 1329 H], hlm. 12).

Maka, bekerja, berusaha, dan berikhtiar adalah bentuk ketaatan terhadap sunatullah, sedangkan meyakini bahwa hasilnya sepenuhnya di tangan Allah adalah buah dari tauhid. Takdir dan sebab-akibat bukan dua hal yang saling meniadakan, melainkan dua hukum Allah yang berjalan berdampingan secara selaras di dua ruang kehidupan, lahir dan batin.

Di ruang zahir, kita dituntut untuk bekerja, belajar, berobat, dan berusaha dengan sungguh-sungguh. Namun di ruang batin, kita harus yakin bahwa segala sesuatu terjadi semata karena kehendak Allah. Dengan demikian, kita tidak jatuh pada sikap pasrah yang pasif, dan tidak pula terjerumus dalam kesombongan rasional. Kita berjuang di bumi, tetapi hati kita tetap bergantung di langit; zahirnya berusaha, batinnya berserah. Wallahu a’lam.

Ustadz Ahmad Dirgahayu Hidayat, Alumni Ma’had Aly Situbondo, Pengajar di Ponpes Manbaul Ulum Kabul, Lombok Tengah.
 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.