Arina.id – Puasa pada bulan Muharram termasuk amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Bulan Muharram sendiri merupakan salah satu dari empat bulan haram (bulan suci) yang dimuliakan oleh Allah SWT. Di dalam bulan ini terdapat hari Tasu’a dan Asyura, yakni tanggal 9 dan 10 Muharram, yang secara khusus dianjurkan untuk diisi dengan ibadah puasa. Berikut empat hadits yang menjelaskan anjuran serta keutamaan puasa di bulan Muharram.
1. Hadits Shahih Muslim
Rasulullah SAW menegaskan bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakukan pada bulan Allah, yakni Muharram. Beliau bersabda:
أفضل الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ
Artinya: “Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yang kalian sebut sebagai Muharram.” (HR. Muslim).
Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaif al-Ma’arif menjelaskan bahwa hadits tersebut secara tegas menunjukkan bahwa puasa sunnah yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram. Menurut beliau, hadits ini dapat dipahami bahwa Muharram merupakan bulan terbaik untuk melaksanakan puasa sunnah secara penuh setelah bulan Ramadan.
Penjelasan tersebut menunjukkan betapa agungnya kedudukan puasa Muharram dan besarnya pahala yang dijanjikan bagi orang yang menghidupkan bulan tersebut dengan ibadah puasa.
Namun demikian, Ibnu Rajab juga menerangkan bahwa sebagian hari tertentu pada bulan lain memiliki keutamaan tersendiri yang bisa jadi lebih utama dibandingkan beberapa hari di bulan Muharram. Di antaranya adalah puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, puasa pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, serta puasa enam hari di bulan Syawal setelah Idulfitri. Hal ini menunjukkan bahwa Islam membuka banyak kesempatan bagi umatnya untuk memperbanyak amal ibadah melalui puasa sunnah sepanjang tahun.
Ibnu Rajab berkata:
قال الحافظ ابن رجب: وهذا الحديث صريح في أن أفضل ما تطوع به من الصيام بعد رمضان صوم شهر الله المحرم, وقد يحتمل أن يراد: أنه أفضل شهر تطوع بصيامه كاملا بعد رمضان, فأما بعض التطوع ببعض شهر, فقد يكون أفضل من بعض أيامه, كصيام يوم عرفه, أو عشر ذي الحجة, أو ستة أيام من شوال, ونحو ذلك,
Artinya: “Ibnu Rajab berkata: Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram. Mungkin yang dimaksud adalah bahwa ini merupakan bulan terbaik untuk berpuasa secara penuh setelah Ramadhan. Adapun puasa pada sebagian hari tertentu di bulan lain bisa jadi lebih utama daripada sebagian hari di bulan Muharram, seperti puasa Arafah, sepuluh hari pertama Dzulhijjah, enam hari di bulan Syawal, dan yang semisalnya.” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lataif Ma’arif, Beirut: Dar Ibnu Hazm, 2004, hlm. 33).
2. Hadits Riwayat Muslim
Dalam riwayat Muslim lainnya disebutkan bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram. Sementara ibadah sholat yang paling utama setelah salat wajib adalah sholat malam. Rasulullah SAW bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيامِ، بَعْدَ رَمَضانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ، وأَفْضَلُ الصَّلاةِ، بَعْدَ الفَرِيضَةِ، صَلاةُ اللَّيْلِ
Artinya: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. Dan sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.“
Hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan memperbanyak puasa pada bulan Muharram karena bulan tersebut memperoleh kedudukan istimewa di sisi Allah SWT.
3. Hadits Riwayat Imam Bukhari
Keutamaan puasa Muharram juga tampak pada puasa hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk melaksanakan puasa pada hari tersebut sebagai bentuk ibadah dan penghambaan kepada Allah SWT.
Dari Ibnu Abbas RA diriwayatkan:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى ، قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ . ” رواه البخاري 1865
Artinya: “Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: Nabi SAW tiba di Madinah dan melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, ‘Hari apakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka sehingga Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut.’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Lalu beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk melaksanakan puasa tersebut.” (HR. Bukhari No. 1865).
Puasa Asyura tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap peristiwa agung yang dialami Nabi Musa AS, tetapi juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, meningkatkan ketakwaan, serta menghapus dosa-dosa kecil yang pernah dilakukan.
4. Hadits Riwayat Muslim Tentang Penghapusan Dosa
Di antara keutamaan terbesar puasa Asyura adalah menjadi sebab diampuninya dosa-dosa selama satu tahun yang telah berlalu. Rasulullah SAW bersabda:
صِيامُ يومِ عَرَفَةَ، إِنِّي أحْتَسِبُ على اللهِ أنْ يُكَفِّرَ السنَةَ التي قَبلَهُ، والسنَةَ التي بَعدَهُ، وصِيامُ يومِ عاشُوراءَ، إِنِّي أحْتَسِبُ على اللهِ أنْ يُكَفِّرَ السنَةَ التِي قَبْلَهُ
Artinya: “Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya. Sedangkan puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa selama setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim).
Abu Abbas al-Qurthubi dalam kitab Al-Mafhimu Lima Asykala min Talkhis Kitab Muslim jilid III halaman 184 menerangkan bahwa puasa Asyura menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa yang dilakukan pada tahun sebelumnya. Keutamaan tersebut berkaitan dengan kedudukan bulan Muharram sebagai awal tahun baru Islam, sehingga umat Islam diberikan kesempatan untuk memulai lembaran baru dengan hati yang lebih bersih.
Selain itu, dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat memperhatikan puasa Asyura dan mengutamakannya dibandingkan hari-hari lainnya selain bulan Ramadhan. Ibnu Abbas RA berkata:
وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال: “ما رأيتُ النبي صلى الله عليه يتحرَّى صيام يوم فضَّله على غيره إلا هذا اليوم يوم عاشوراء، وهذا الشهر يعني شهر رمضان”؛ رواه البخاري في صحيحه.
Artinya: “Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku tidak pernah melihat Nabi SAW begitu memperhatikan puasa pada suatu hari yang diutamakan atas hari lainnya selain hari ini, yaitu hari Asyura, dan bulan ini, yakni bulan Ramadhan.” (HR. Imam Bukhari).
Berdasarkan sejumlah hadits tersebut, dapat dipahami bahwa puasa di bulan Muharram merupakan salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, membersihkan jiwa dari dosa-dosa, serta memperkuat keimanan dalam menyambut tahun baru Hijriah. Karena Muharram merupakan permulaan tahun Islam, maka mengawali bulan ini dengan berbagai amal saleh, terutama puasa sunnah, menjadi momentum yang sangat baik untuk memulai tahun dengan ketaatan dan harapan akan keberkahan dari Allah SWT. Wallahu a’lam bis shawab.




Comments are closed.