Dengarkan artikel ini:
Audio ini dibuat menggunakan AI.
Head-to-head menarik terkonstruksi dengan Muhaimin Iskandar, seiring impresi Gus Ipul yang membangun kedekatan dengan lingkar Istana, mengawal Sekolah Rakyat, dan mengakumulasi modal simbolik secara “senyap”.
Secara formal, Muhaimin Iskandar berada lebih tinggi dari Saifullah Yusuf, sesama tokoh prominen Nahdlatul Ulama (NU) di pusat kekuasaan saat ini. Menko Pemberdayaan Masyarakat, secara birokratis, bahkan mengkoordinasi kementerian yang dipimpin Gus Ipul.
Namun, politik Indonesia, seperti dalam banyak kesempatan, tidak tunduk pada bagan. Yang muncul dalam beberapa bulan terakhir adalah paradoks yang menarik, sang Menteri Sosial tampak lebih hadir, lebih relevan, dan lebih strategis dibanding “atasannya” sendiri.
Titik paling konkret adalah pertemuan pada Sabtu, 30 Mei 2026, di kantor Sekretariat Kabinet. Gus Ipul, untuk kesekian kalinya, bertemu Seskab Teddy Indra Wijaya, tokoh yang dikenal sebagai salah satu lingkar paling strategis di sekitar Presiden Prabowo.
Frekuensi dan nuansa interaksinya yang konsisten dan positif membentuk sebuah pembacaan tersendiri, yakni akses. Dan dalam politik Indonesia, akses adalah bentuk kekuasaan yang paling sunyi sekaligus paling efektif.
Di sisi lain, Cak Imin tampak nyaman, terlalu nyaman. Di pos Menko, di pucuk PKB, kini bahkan beredar wacana keterlibatannya dalam kontestasi Ketum PBNU.
Terlalu banyak panggung, terlalu banyak agenda. Dan sering kali, dalam politik, mereka yang mencoba hadir di mana-mana justru terlihat tidak benar-benar ada di mana pun.
Lalu, seberapa valid interpretasi tersebut dan mengapa itu bisa terjadi?
Dua Model Politisi Top-Tier Nahdliyin?
Norbert Elias dalam The Court Society menyiratkan bahwa di sekitar pusat kekuasaan, pengaruh lebih sering ditentukan oleh kedekatan terhadap pengambil keputusan daripada oleh tingginya jabatan formal.
Mereka yang paling dekat dengan lingkar inti, bukan yang berpangkat tertinggi, sering kali menjadi yang paling menentukan. Gus Ipul, mungkin saja, sedang dalam perjalanan untuk membuktikan tesis ini secara hidup.
Dalam konsep quiet power, setidaknya terdapat tiga pembeda Gus Ipul. Pertama, minim kontroversi dan manuver berlebih. Di lanskap politik yang penuh kegaduhan, ketenangan adalah strategi.
Gus Ipul tidak membangun panggung secara vulgar. Tidak tampil sebagai tokoh yang sibuk mengklaim. Justru inilah yang membuatnya berbeda dari mayoritas politisi berlatar NU yang cenderung kompetitif secara terbuka.
Kedua, bekerja secara teknokratis. Program Sekolah Rakyat adalah program yang menyentuh tiga isu dasar secara bersamaan, kemiskinan, mobilitas sosial, dan masa depan generasi muda.
Masyarakat tidak mengikuti sidang partai, tetapi masyarakat memahami sekolah. Memahami akses. Memahami masa depan. Setiap keberhasilan Sekolah Rakyat adalah tambahan modal politik yang nyata dan terasa.
Ketiga, merajut dan mendapat akses elite. Frekuensi dan nuansa interaksi positif dengan lingkar dekat Istana, khususnya Seskab Teddy Indra Wijaya, kiranya bukan sekadar dokumentasi kegiatan.
Yang terbaca adalah sinyal bahwa Gus Ipul berada dalam jalur kepercayaan yang sedang dibangun. Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai akumulasi modal simbolik, legitimasi yang lahir bukan dari jabatan, tetapi dari pengakuan.
Jika digabungkan, Gus Ipul tengah mengkonsolidasi tiga sumber kapital sekaligus, yakni modal kultural NU dari latar belakang pesantren dan jaringan Nahdliyin, modal negara dari pengelolaan program sosial nasional, dan modal kinerja berupa narasi keberhasilan yang langsung menyentuh basis akar rumput.
Proyeksi dan kans politiknya terhadap PKB, NU, dan Jawa Timur, baik langsung maupun tidak langsung, agaknya semakin sulit diabaikan.
Sementara frasa quite stuck menghinggapi Cak Imin dalam sebuah paradoks. Cak Imin memiliki aset politik yang tidak dimiliki Gus Ipul, Ketua Umum PKB dengan mesin nasional yang dibangun hampir dua dekade, fraksi DPR, dan jaringan elektoral yang kokoh.
Namun ada satu risiko besar yang sering dialami pemimpin yang terlalu lama di puncak, yaitu apa yang ilmuwan politik sebut sebagai incumbency inertia, kondisi ketika seseorang memiliki kekuasaan besar tetapi kesulitan menciptakan momentum baru.
Publik sudah tahu siapa Cak Imin. Memahami sumber kekuatannya. Mengerti basis pengaruhnya. Masalahnya, politik modern tidak hanya membutuhkan kekuatan. Ia membutuhkan cerita baru.
Dan sejauh ini, narasi besar yang secara eksklusif melekat pada Cak Imin sebagai Menko Pemberdayaan Masyarakat sulit ditemukan. Alih-alih mengkonsolidasi agenda Menko, energinya tampak terbagi antara PKB dan kini wacana PBNU, sebuah dispersi yang berisiko melemahkan fokus.
Dalam perspektif Moisés Naím dalam The End of Power, kekuasaan modern semakin sulit dipertahankan hanya melalui posisi formal.
Yang menang adalah mereka yang terus mampu menghasilkan relevansi, bukan sekadar otoritas. Kepemilikan partai tidak otomatis berarti kepemilikan momentum.
Lantas, bagaimana interpretasi head-to-head tersebut terhadap dampaknya bagi dinamika sosial-politik ke depan?

Formula Baru Ipul?
Selama ini draf rumus sosial-politik Indonesia membaca kekuatan politik NU melalui satu jalur baku, NU → PKB → Kekuasaan.
Namun kini, yang mulai terlihat adalah kemungkinan jalur baru, yakni NU → Program Sosial Konkret Negara → Kekuasaan.
Dan Gus Ipul kiranya berada tepat di simpul jalur baru itu. James C. Scott menyebutnya sebagai infrapolitics, kekuasaan yang bekerja tanpa suara keras, tanpa konflik terbuka, tetapi perlahan mengubah peta kekuatan.
Pertanyaan yang tepat hari ini bukan lagi siapa tokoh NU yang paling kuat. Pertanyaan yang lebih relevan, siapa yang paling berhasil menerjemahkan agenda negara menjadi agenda sosial masyarakat?
Itu dikarenakan pengaruh tidak selalu lahir dari mimbar organisasi. Kadang ia lahir dari keberhasilan mengelola program negara yang menyentuh rakyat secara langsung. Tentu dengan relasi akses kekuasaan yang mendukung dan konstruktif.
Cak Imin masih memegang PKB. Namun politik tidak berhenti pada siapa yang menguasai partai.
Jika Cak Imin menjaga benteng lama, Gus Ipul tampak sedang membangun benteng baru, melalui jalur yang lebih senyap, dan mungkin lebih efektif.
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang lebih tinggi jabatannya. Melainkan siapa yang sedang menambah kekuatan paling cepat, sesuai dengan target dan ambisi personalnya. Gus Ipul-kah pemenangnya? (J61)





Comments are closed.