
Mobil yang turun mesin sudah menjalani proses gurah oli, membetulkan seal dan ring yang bocor, mengencangkan mur–baut yang kendor, melakukan hard reset pada ECU (Electronic Control Unit). Di samping itu, body mulai dipoles, baik catnya maupun interiornya, biar kelihatan ganteng dan wangi.
Mesin mulai dirakit kembali dan siap di naikkan ke body, sehingga siap dikendarai seminggu lagi. Dengan penampilan yang baru dan dengan wajah yang baru. Siap untuk berpacu lagi di jalanan, di perkotaan, di jalan-jalan kampung dan gunung yang terjal. Mobil yang siap menghadang hujan dan panas, angin dan badai di sepanjang perjalanannya.
Demikian juga manusia. Dengan cinta yang dimiliki oleh sang Khalik, makhluk yang bernama manusia dimasukkan ke dalam bengkel Ramadlan, dilakukan overhaul untuk raga dan jiwanya. Cara-cara Allah melakukan itu semuanya adalah bentuk cinta-Nya, agar hamba-Nya mendapatkan performa maksimal dalam menghadapi kehidupan sehari hari.
Penggemblengan manusia di kawah candradimuka Ramadlan ini disempurnakan dengan kegiatan kontemplatif yang merupakan puncak ibadah Ramadlan. Pada saat-saat ini Allah melakukan ‘open house’ untuk makhluk-Nya agar mau berkeluh kesah, ngomong langsung dengan mulutnya, merengek, mengaduh sampai menangis sesenggukan di haribaan-Nya, agar dibukakan pintu surga-Nya. Dibukakan pintu maaf. Allah membuka pintunya lebar-lebar di waktu waktu ini.
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku“.
Ibadah puasa di bulan Ramadlan beserta paket kelengkapan ibadah di dalamnya adalah sebuah kemesraan yang memang diciptakan di dalam satu bulan yang spesial ini.
I’tikaf, terutama di 10 malam terakhir Ramadlan, adalah sarana berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus momen refleksi diri (muhasabah) yang intens.
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2:125)
وَإِذْ جَعَلْنَا ٱلْبَيْتَ مَثَابَةًۭ لِّلنَّاسِ وَأَمْنًۭا وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرَٰهِـۧمَ مُصَلًّۭى ۖ وَعَهِدْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِـۧمَ وَإِسْمَـٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْعَـٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ
“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang itikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!“
Berdiam diri di masjid untuk memperbanyak ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan doa adalah wujud klinis dari i’tikaf. Secara spiritual, i’tikaf dipahami sebagai usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan menjauh sementara dari kesibukan dunia.
Namun jika dilihat dari perspektif ilmu modern, khususnya neuroscience, praktik i’tikaf juga memiliki dampak menarik terhadap cara kerja otak manusia.
I’tikaf menghadirkan kondisi yang jarang dialami dalam kehidupan modern, bahkan hampir dikatakan langka. Hadirnya kesunyian, melakukan refleksi diri, dan menjauh dari input audio-visual yang sangat mendominasi kehidupan sehari hari.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dibombardir oleh berbagai input dari layar digital, percakapan, pekerjaan, dan arus informasi yang hampir tidak pernah berhenti. Otak kita terus-menerus bekerja untuk memproses semua rangsangan tersebut. Mengolahnya dan juga memprosesnya sehingga arus informasi itu lama-lama akan meracuni dan membunuhnya.
I’tikaf, sebaliknya, menciptakan ruang untuk memperlambat ritme tersebut. Menjauhkannya—walaupun sesaat—membuat pause (jeda) sehingga ada ruang dan waktu bagi otak untuk istirah sejenak. Keheningan yang muncul selama i’tikaf ternyata memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap aktivitas otak. Praktik i’tikaf ini memutus hiruk-pikuk duniawi, memicu perubahan pola pikir dari berorientasi materi ke spiritual, menjernihkan hati, serta mengelola emosi.
Dalam beberapa dekade terakhir, para ilmuwan mulai menyadari bahwa otak manusia tidak selalu bekerja secara optimal dalam kondisi stimulasi yang terus-menerus. Kita pun mengalaminya dan merasakannya. Otak juga membutuhkan periode “hening” untuk memproses pengalaman, memperkuat ingatan, dan melakukan refleksi internal.
Penelitian dalam disiplin ilmu neuroscience menunjukkan bahwa ketika seseorang berada dalam kondisi tenang, misalnya saat meditasi, doa, atau refleksi diri termasuk i’tikaf, maka otak akan mengaktifkan jaringan yang disebut default mode network (DMN). Jaringan ini berperan dalam berbagai proses mental penting seperti refleksi diri, perenungan moral, pembentukan identitas diri pemahaman terhadap pengalaman hidup. (Brewer, et.al, 2011; Raichle, 2015).
Aktivitas seperti dzikir, membaca Al-Qur’an dengan perlahan, atau berdoa dalam suasana tenang selama i’tikaf dapat memicu aktivitas jaringan ini.
Dengan kata lain, i’tikaf memberikan ruang bagi otak untuk melakukan proses kontemplatif yang mendalam.
R24





Comments are closed.