Mon,25 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Mengurai Sumber Konflik dalam Keluarga

Mengurai Sumber Konflik dalam Keluarga

mengurai-sumber-konflik-dalam-keluarga
Mengurai Sumber Konflik dalam Keluarga
service

Mubadalah.id – Pertengkaran dalam hubungan pasangan sering kali berawal dari hal-hal yang sepele, misalnya karena perbedaan kebiasaan atau sikap saling membandingkan dengan orang lain. Selain itu, perbedaan antara harapan dan kenyataan di antara kedua belah pihak juga kerap menimbulkan konflik.

Berikut adalah beberapa contoh situasi yang sering menjadi sumber konflik:

Pertama, pasangan tidak merasa terpenuhi kebutuhannya. Salah satu prinsip dalam perkawinan adalah saling melengkapi dan melindungi. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 187 disebutkan bahwa “…mereka (istri) adalah pakaian (pelindung) bagi kalian dan kalian (suami) adalah pakaian (pelindung) bagi mereka (istri).”

Artinya, bukan hanya istri yang berkewajiban memenuhi kebutuhan suami, tetapi suami pun wajib memenuhi kebutuhan istri.

Dalam perkawinan, kebutuhan pasangan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kebutuhan fisik dan nonfisik. Keduanya sama-sama penting. Kebutuhan fisik meliputi sandang, pangan, papan, kebutuhan ekonomi (finansial), serta kebutuhan biologis.

Sementara itu, kebutuhan nonfisik mencakup kasih sayang, perhatian, kejujuran, keterbukaan, hingga kelekatan emosional. Jika salah satu atau beberapa kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam keluarga.

Oleh karena itu, kedua belah pihak perlu memiliki kesepahaman untuk saling memenuhi kebutuhan pasangannya.

Kedua, hubungan yang tidak setara. Salah satu kondisi yang juga dapat memicu konflik adalah hubungan yang tidak setara antara suami dan istri. Masih terdapat persepsi di masyarakat bahwa perempuan dalam banyak situasi tidak setara dengan laki-laki.

Ketaatan perempuan kepada suami dianggap mutlak, bahkan sering dipahami bahwa surga istri bergantung pada ridha suami, sehingga izin suami bagi istri dipandang sebagai sesuatu yang mutlak.

Khalifah di Muka Bumi

Dalam konteks ini, perlu dipahami bahwa perempuan juga merupakan makhluk Allah yang memiliki status sebagai khalifah di muka bumi (khalifah fil ardl). Perempuan memiliki kewajiban beribadah yang sama dan diciptakan dari jiwa yang satu (min nafsin wahidah).

Di hari akhir, Allah akan menilai ketakwaan hamba-Nya, baik laki-laki maupun perempuan. Adapun dalam konteks laki-laki sebagai pemimpin bagi perempuan (QS. An-Nisa/4:34), kepemimpinan tersebut memiliki syarat, yaitu adanya keutamaan dan kemampuan dalam memberikan nafkah.

Oleh karena itu, Nasaruddin Umar dalam Argumen Kesetaraan Jender menjelaskan bahwa kata ar-rijal dalam ayat tersebut lebih merujuk pada peran sosial laki-laki, bukan semata-mata karena jenis kelamin biologisnya sehingga otomatis menjadi pemimpin atas perempuan.

Hal ini juga berlaku dalam kehidupan keluarga. Ibarat sepasang sepatu, keduanya akan berfungsi secara optimal dan harmonis jika ia gunakan bersama. Keduanya sama pentingnya. Terkadang sepatu sebelah kiri berada di depan dan sebelah kanan di belakang, dan di waktu lain bisa sebaliknya.

Begitulah peran dalam keluarga yang saling melengkapi. Peran dan tugas dalam keluarga dapat kita sepakati bersama dengan prinsip saling membantu dan berbagi. Misalnya, ketika istri menyiapkan makanan, suami dapat mengasuh anak dan membersihkan rumah.

Ketika istri menemani anak belajar, suami bisa menyiapkan makan malam. Ketika istri merasa sangat lelah, suami dapat mengambil alih tugas-tugas rumah tangga, dan demikian pula sebaliknya.

Konsep “saling” yang mencerminkan kesetaraan dalam praktik kehidupan keluarga akan sangat bermanfaat untuk menjaga hubungan suami istri. Masing-masing pasangan bertanggung jawab untuk menghadirkan perilaku yang menumbuhkan respon positif dari pasangannya.

Di antaranya dengan tidak merendahkan satu sama lain, saling menghormati, serta menempatkan pasangan sebagai mitra yang setara. []

*)Sumber Tulisan: Buku Fondasi Keluarga Sakinah hlm 173-174

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.