Mon,25 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Hari Bumi 2026 : Antara Bumi, Manusia, dan Artificial Intelligence (AI)

Hari Bumi 2026 : Antara Bumi, Manusia, dan Artificial Intelligence (AI)

hari-bumi-2026-:-antara-bumi,-manusia,-dan-artificial-intelligence-(ai)
Hari Bumi 2026 : Antara Bumi, Manusia, dan Artificial Intelligence (AI)
service

Mubadalah.id – Langit adalah ayahku, dan bumi adalah ibuku. Bahkan makhluk kecil seperti diriku menemukan tempat hangat di antara keduanya. Maka, apa-apa yang mengisi semesta kuanggap tubuhku. Serta apa-apa yang mengarahkan semesta kuanggap alamku. Semua manusia adalah saudaraku dan semua yang ada di bumi ialah sahabat-sahabatku.

Kira-kira begitulah adagium yang saya kutip dari buku Western Inscription (Ximing) karya Zhang Zai sang Filsuf china. Zhang Zai menganggap bumi adalah identitas manusia sesungguhnya yang melampaui aspek-aspek agama dan etnisitas.

Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan Seyyed Hossein Nasr bahwasannya bumi merupakan cikal bakal wujudnya manusia, tanpanya, manusia hanya ilusi belaka. Sebagai satu-satunya planet yang digadang-gadang memiliki kehidupan, ia menyediakan aneka ragam hayati yang memiliki daya tawar fungsional, misalnya, udara, air, dan suhu.

Dalam planet bumi inilah segala makhluk hidup saat ini berpijak dan menciptakan peradabannya, termasuk juga kita (manusia). Namun peradaban yang kita bangun di atas bumi ini, dari waktu ke waktu, justru makin memperlihatkan wajah yang paradoks. Di satu sisi, manusia terus melahirkan kemajuan: ilmu pengetahuan berkembang, teknologi melesat, harapan hidup meningkat.

Di sisi lain, semakin canggih peradaban yang dibangun, semakin berat pula beban yang ditanggung bumi sebagai fondasi segalanya. Hutan-hutan yang dulunya bernapas kini berganti dengan kawasan industri. Sungai yang pernah jernih kini menanggung limbah dari kemajuan yang kita banggakan. Atmosfer yang menjadi selimut kehidupan kini semakin sesak oleh emisi yang kita hasilkan setiap harinya.

Maka, dimanakah esensi sekaligus eksistensi bumi dalam kehidupan modern ini, perlukah menguji kesakralan bumi dengan melihat fenomena atau kasus-kasus yang mendesakralisasinya? Saya kira, ia memiliki satu sumber bumi yaitu, ibu bumi. Setelah tahu ibunya, kita akan mengenal anaknya, setelah tahu anaknya, kita akan kembali kepada ibu nya. Lantas siapakah ibu bumi itu?

Bumi Yang Kudus?

Kudus lazim kita pahami dalam kepositifan makna: suci, bersih, sakral, dan keramat. Dalam Islam, kudus berarti suci dan mulia dari segala perkara, serta tersematkan dalam nama Allah Al-Quddus. Sementara bahasa Ibrani memaknai kudus dari kata Qaddosh sebagai keliyanan (The Other) entitas yang berdiri sendiri dan berbeda dari yang lain. Secara filosofis, konsep Liyan membantu manusia mengidentifikasi dan menegaskan eksistensi diri melalui relasi dengan pihak lain.

Lalu, bagaimana jika kita melekatkan kekudusan kepadanya? Bumi adalah suci: ia mendahului manusia, menopang manusia, dan akan tetap ada ketika manusia telah pergi. Ia tidak membutuhkan pengakuan siapapun untuk eksis. Gunung meletus bukan karena izin manusia, sungai mengalir bukan karena perintah manusia, dan hutan tumbuh bukan karena menunggu validasi manusia. Bumi bergerak dalam ritmenya sendiri sebuah kesucian yang tidak bergantung pada siapapun.

Sekaligus, bumi adalah liyan yang sejati: punya entitas sendiri, bukan perpanjangan tangan manusia, dan bukan sekadar panggung drama kemanusiaan. Namun tragisnya, justru karena bumi berbeda, tidak bisa berbicara, tidak bisa mengajukan gugatan, dan tidak bisa memprotes manusia merasa bebas mengeksploitasinya tanpa rasa bersalah. Keliyanan bumi bukan menjadi alasan untuk menghormatinya, melainkan justru manusia jadikan pembenaran untuk mendiskriminasinya.

Di sinilah akar terdalam krisis ekologi kita: bukan sekadar kegagalan teknis mengelola sumber daya, melainkan kegagalan moral dalam memandang nya sebagai subjek bermartabat bukan objek yang menunggu untuk dikeruk.

Kekudusan bumi kini sedang terluka. Luka itu bukan metafora; manusia mengukurnya dalam data, melihatnya dalam citra satelit, dan merasakannya dalam cuaca yang semakin tak terprediksi. Maka muncullah pertanyaan krusial, ke mana peran kebijakan dan keadilan manusia? Apakah manusia terlena menjadi konsumtif terhadap AI, ataukah manusia justru mampu berharmonisasi dengan AI untuk menjaga kekudusannya, alih-alih menjadikannya instrumen baru yang memperdalam luka?

Romantisisme Bumi, Manusia, dan AI

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang menciptakan sesuatu lebih canggih dari dirinya sendiri, namun belum tentu lebih bijak. Itulah AI. AI kini bukan sekadar analogi ia raksasa nyata yang merongrong psikologi manusia.

Ia membaca pola cuaca lebih akurat dari prakirawan mana pun, mendeteksi deforestasi dari citra satelit, bahkan memodelkan kepunahan spesies dalam sekejap. Lahirlah “Bumi AI”: kondisi di mana bumi tidak lagi manusia pahami lewat indera, melainkan lewat algoritma yang bekerja tanpa henti, tanpa emosi, tanpa mengeluh. Setiap jengkal tanah terpetakan, setiap suhu tercatat, setiap ekosistem terkonversi menjadi angka.

Namun perlu jujur: sebagian besar penggunaan AI bukan untuk melindungi alam, melainkan mengoptimalkan cara kita mengambil darinya. Perusahaan tambang memakai AI untuk melacak deposit mineral, industri perikanan untuk memburu kawanan ikan, korporasi agribisnis untuk memeras lahan yang sudah terkuras. Teknologi yang bisa menjadi perisai, lebih sering manusia gunakan sebagai tombak yang lebih tajam.

Siapakah manusia AI? Ia adalah kita generasi yang mendelegasikan bukan hanya pekerjaan, tetapi juga kepeduliannya kepada algoritma. Merasa karena AI sudah memantau hutan, ia tak perlu lagi peduli.

Zhang Zai menulis Western Inscription bukan untuk mesin, melainkan untuk manusia yang masih bisa merasakan. Seorang anak yang baik tidak membiarkan ibunya terluka apalagi dengan alasan sudah memasang kamera pengawas di kamarnya.

Oleh karena itu, dalam kesempatan hari ini, marilah merayakan sekaligus memperingati hari Bumi 22 April 2026 yang bertajuk “Our Power, Our Planet (Kekuatan Kita, Planet Kita)”. Dengan kesadaran yang utuh, kita perlu meninjau kembali cara pandang kita terhadapnya bukan sekadar sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai ibu kandung.

Dalam perspektif ini, seluruh yang dikandungnya kita pahami sebagai entitas hidup yang saling terhubung, menjaga keseimbangan, serta tidak mengkhianati hukum-hukum alamnya. Karena bumi sudah tidak lagi sehat seperti dasarnya, namun masih ada harapan untuk menjaganya dengan menanam pohon, pembersihan sungai, dan aksi “Ngarumat Hulu Cai” (pelestarian mata air) di berbagai daerah. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.