Mon,25 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. “Hanya” Menulis Surat, Apakah Layak Kartini Mendapat Gelar Pahlawan?

“Hanya” Menulis Surat, Apakah Layak Kartini Mendapat Gelar Pahlawan?

“hanya”-menulis-surat,-apakah-layak-kartini-mendapat-gelar-pahlawan?
“Hanya” Menulis Surat, Apakah Layak Kartini Mendapat Gelar Pahlawan?
service

Mubadalah.id – Memasuki bulan April, nama Raden Ajeng Kartini kerap muncul dalam peringatan simbolis seperti penggunaan kebaya, lomba kepenulisan perempuan, dan bahkan conference dengan mengusung nama besar Kartini. Namun di waktu yang sama, berbagai kritik keras juga mewarnai perdebatan atas pelabelan pahlawan pada perempuan yang berasal dari Jepara ini.

Kartini dalam perjuangannya memang tidak melakukan aksi nyata yang terindra. Arah juangnya berbeda dengan Cut Nyak Dien yang mendapat gelar pahlawan karena berperang sehingga gelar kepahlawanannya nyaris tanpa perdebatan.  Dalam logika kepahlawanan yang sangat fisikal dan kasat mata, aksi surat menyurat yang Kartini lakukan dengan Rosa Abendon, Jacques Henrif Abendanon, dan Estelle Seehandelaar disimplifikasi sebagai curhatan hati semata.

Apalagi, Kartini juga berakhir dengan menjadi istri madu. Sebuah paradoks di tengah kritik atas ketidakdilan perempuan yang ia tulis dalam surat surat tersebut. Lantas, di mana letak kepahlawannya?

Perubahan Besar Berawal dari Ide

Sebelum menjawab pertanyaan di mana letak kepahlawanan Kartini, kita perlu melakukan refleksi bersama. Apakah perubahan hanya sah kita sebut perjuangan jika ia berbentuk tindakan fisik? Apakah gagasan, refleksi kritis, dan keberanian berpikir tidak memiliki daya transformasi?

Jika kita melihat sejarah secara lebih luas, banyak perubahan besar justru berawal dari pergulatan ide. Jika gagasan, dan keberanian berfikir dianggap tidak penting, maka tidak mungkin Socrates, Galileo, Nawal El Saadawi, al-Hallaj, Suhrawardi selalu dibayangi dengan ancaman pembunuhan di sepanjang hidupnya.

Tokoh-tokoh tersebut tidak selalu mengangkat senjata, mereka mengusung sebuah ide yang menentang status quo baik dalam bidang politik, agama, maupun sosial. Maka dalam konteks inilah, curhatan Kartini yang ia tuangkan dalam lembaran kertas menjadi sangat relevan untuk disebut sebagai awal dari transformasi pemikian, atau bahkan masuk dalam kategori radikal.

Perubahan cara pandang adalah fondasi utama dari sebuah perubahan sosial. Tidak mungkin ada gerakan besar tanpa adanya pergeseran kesadaran. Ide-ide tentang kesetaraan, keadilan, dan kemanusiaan tidak lahir dari ruang hampa, ia muncul dari individu-individu yang berani mempertanyakan norma yang mapan.

Pemikiran sebagai Bentuk Perlawanan

Kita tidak bisa menggunakan kacamata dan standar masa kini untuk melihat peristiwa masa lampau. Karena sejarah selalu lahir dari konteks zamannya. Perempuan saat ini memang bebas menuliskan kritik, kegundahan, fenomena ketidakdilan baik yang  perempuan alami sendiri maupun pengalaman masyarakat di sekitarnya. Bagaimana dengan Kartini di masa itu?

Kartini hidup dalam ruang dengan penuh keterbatasan. Terlahir sebagai perempuan Jawa dari kalangan priyayi pada akhir abad ke-19, ia terjebak dalam sistem sosial yang menempatkan perempuan sebagai subjek domestik. Pendidikan terbatasi, mobilitas diawasi, dan masa depan ditentukan oleh struktur patriarki yang kuat. Posisi ini diyakini sebagai sebuah fitrah dan konsekwensi karena lahir sebagai perempuan. Perlawanan dianggap sebagai sebuah pembangkangan terhadap tradisi dan kodrat.

Dalam situasi seperti ini, bahkan sekedar berpikir “berbeda” saja sudah merupakan tindakan yang melawan arus. Apalagi Kartini tidak hanya berpikir, ia menuliskannya dan berdialog dengan orang orang yang sudah terbuka wawasan dan pemikirannya.

Anomali Kepatuhan Kartini

Surat-surat Kartini bukan sekadar curahan hati. Ia adalah ruang refleksi, kritik sosial, sekaligus dialog lintas budaya. Dalam surat-surat itu, Kartini mempertanyakan praktik pingitan, ketimpangan pendidikan antara laki-laki dan perempuan, hingga relasi kuasa antara penjajah dan yang dijajah. Ia tidak menerima begitu saja realitas yang terwariskan kepadanya. Di sinilah letak keberaniannya, mampu melihat dunia tidak sebagaimana adanya, tetapi sebagaimana seharusnya.

Dengan menulis, Kartini menciptakan ruangnya sendiri. Ia melampaui batas geografis dan sosial melalui tulisan. Tidak terlihat seperti perang, tetapi bekerja dalam ranah yang lebih dalam yaitu munculnya kesadaran. Kartini memang tidak memberontak secara terbuka melalui demontrasi, karena ia menyadari bahwa cara tersebut justru akan mendatangkan pertentangan dan mungkin saja, ia tidak akan mendapatkan kawan karena ide yang tidak sejalan.

Ia tampak tetap patuh dengan tradisi yang ada, namun dalam kepatuhannya terdapat perlawanan yang sunyi, tetapi tajam. Pergulatan intelektual yang halus namun kokoh dan subversive. Saat menjadi madu contohnya, ia memang tidak memiliki ruang untuk melawan saat perjodohan. Namun ia mulai sadar dan berani untuk melakukan negosiasi dalam perkawinan. Hal yang tidak umum dilakukan oleh perempuan, apalagi istri madu saat itu.

Proses intelektual sebagai Bagian dari Perjuangan

Sering kali manusia terjebak dalam dikotomi antara aksi nyata dan ide padahal keduanya tidak bisa terpisahkan. Sekolah-sekolah yang kemudian berdiri atas nama Kartini, misalnya tidak muncul dari ruang kosong. Ia berakar dari gagasan bahwa perempuan berhak mendapatkan pendidikan. Tanpa gagasan itu, tidak akan ada legitimasi moral untuk mendirikan institusi tersebut. Dengan kata lain, ide adalah benih, dan aksi adalah buahnya.

Menghargai Kartini berarti juga menghargai proses intelektual sebagai bagian dari perjuangan. Dalam dunia yang masih sering meremehkan kerja-kerja pemikiran, terutama yang dilakukan oleh perempuan, maka posisi Kartini menjadi semakin penting. Ia menunjukkan bahwa berpikir kritis bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Ia juga membuktikan bahwa dalam keterbatasan, manusia tetap memiliki ruang untuk melawan melalui pikiran.

Kartini adalah bukti nyata dari quote Rene Descartes, Cogito Ergo Sum! Aku berfikir maka aku ada. Kartini tidak hidup lama, dan ia tidak sempat melihat dampak penuh dari pemikirannya. Namun, ia mewariskan nilai penting bahwa perempuan bisa berpikir, mempertanyakan, dan bermimpi tentang dunia yang lebih adil.

Kepahlawanan tidak selalu berisik, pun tidak selalu terlihat heroik. Terkadang, ia hadir dalam bentuk yang lebih tenang. Melalui sebuah pertanyaan, sebuah keraguan, atau sebuah tulisan yang tersusun dengan penuh kesadaran. Kartini adalah simbol pahlawan bahwa perjuangan juga bisa berlangsung di dalam ruang ide. Dan sering kali, di sanalah perubahan paling mendasar dimulai.

Selamat Memperingati Hari Kartini, semoga kita diberi kekuatan untuk meneladani apa yang telah ia wariskan untuk perempuan. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.