Tue,5 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Jaga Mangrove, Ekowisata Tumbuh di Batu Lumbang

Jaga Mangrove, Ekowisata Tumbuh di Batu Lumbang

jaga-mangrove,-ekowisata-tumbuh-di-batu-lumbang
Jaga Mangrove, Ekowisata Tumbuh di Batu Lumbang
service

Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Warga pesisir Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan, Provinsi Bali mayoritas menjadi nelayan. Mereka memanfaatkannya hasil alam tanpa pengelolaan terorganisir. Sejak 2005, secara inisiatif mandiri mereka membangun ekowisata mangrove Batu Lumbang untuk peningkatan ekonomi, kesejahteraan warga dan menjaga lingkungan. Sejak pukul tujuh pagi, Wayan Wana sudah sibuk menurunkan kano kecil, mendayungnya dengan pelan ke tepian mangrove. Tiap hari dia menyusuri pesisir wilayah mangrove Batu Lumbang untuk mencari kepiting. Di beberapa titik, Wana turun dari perahu. Lumpur hitam setinggi betis tidak menghalanginya berjalan. Lalu memeriksa lubang di sekitar akar mangrove. “Asal ada waktu, saya cari kepiting. Kalau tidak, bersihin sampah,” katanya. Sehari-hari, dirinya juga menjaga kawasan ekowisata ini. Biasanya dia rutin menyambut pengunjung, membersihkan area hingga sampah-sampah di sela-sela akar mangrove. Hutan mangrove di pesisir selatan Kota Denpasar memiliki permasalahan timbulan sampah dari dua sungai besar, yakni Tukad Badung dan Tukad Mati. Sejak 2005, masyarakat nelayan setempat memulai pengembangan ekowisata dari kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian lingkungan. Tak hanya itu, harapannya kawasan ini juga bisa menjadi alternatif penghidupan bagi warga pesisir. Dahulunya kawasan ini adalah tambak. Sejak 2005, masyarakat menyulapnya menjadi kawasan ekowisata mangrove. Foto: Kadek Dian Dwiyanti H./ Mongabay Indonesia Baca juga: Saat Mangrove di Blok Ngurah Rai Dominan Pemanfaatan, Apa Dampaknya Bagi Warga?   Wisata edukasi mangrove Batu Lumbang Tak hanya menawarkan keindahan alam. Di kawasan ini, pengunjung menikmatinya melalui jalur tracking, susur sungai dengan perahu, bermain kano dan berbagai aktivitas edukatif lainnya. Para perempuan juga membentuk…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.