Jakarta, NU Online
Direktur Eksekutif Alvara Research Center Hasanuddin Ali menilai penguatan kemandirian umat perlu menjadi salah satu agenda strategis yang diprioritaskan oleh kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode mendatang. Menurutnya, tantangan NU ke depan tidak hanya berkaitan dengan penguatan layanan keagamaan, tetapi juga kemampuan organisasi dalam meningkatkan kesejahteraan warganya.
Hasanuddin mengatakan hasil Survei Alvara 2025 menunjukkan harapan warga NU terhadap organisasi terus berkembang. Selain menginginkan layanan keagamaan yang tetap kuat, warga juga berharap NU mampu memperkuat kapasitas ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
“Kalau kita berbicara tentang kebutuhan NU ke depan, maka isu kemandirian akan menjadi salah satu agenda yang semakin penting. Data Survei Alvara menunjukkan warga NU tidak hanya berharap organisasi hadir dalam layanan keagamaan, tetapi juga mampu memperkuat kapasitas ekonomi dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya kepada NU Online, Kamis (23/7/2026).
Temuan tersebut tercermin dari jenis pelatihan yang paling dibutuhkan warga NU. Pelatihan manajemen keuangan usaha menempati urutan tertinggi dengan persentase 54,2 persen. Selanjutnya, pelatihan perencanaan pengembangan usaha sebesar 45,3 persen, manajemen sumber daya manusia 42,1 persen, serta digital marketing sebesar 40,3 persen.
Sebaliknya, pelatihan Aswaja hanya dipilih oleh 12,5 persen responden. Hasanuddin menilai temuan tersebut bukan menunjukkan pendidikan keagamaan kehilangan relevansi, melainkan mengindikasikan bahwa warga berharap NU melengkapi penguatan nilai-nilai keislaman dengan peningkatan kapasitas ekonomi dan profesional.
Survei Alvara juga menunjukkan kebutuhan warga terhadap layanan di luar bidang keagamaan. Layanan ekonomi menjadi kebutuhan terbesar dengan persentase 33,8 persen, disusul layanan kesehatan sebesar 30,9 persen dan pendidikan 23,3 persen. Sementara itu, kebutuhan terhadap layanan zakat, sedekah, wakaf, maupun advokasi hukum masing-masing berada di bawah 10 persen.
Menurut Hasanuddin, data tersebut menunjukkan bahwa ekspektasi masyarakat terhadap NU semakin luas. Organisasi tidak hanya dipandang sebagai rujukan dalam urusan keagamaan, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup warga melalui berbagai layanan sosial dan ekonomi.
“Temuan ini memberi sinyal bahwa kepemimpinan NU ke depan perlu memiliki orientasi yang kuat pada kemandirian umat. Pemimpin NU tidak cukup hanya memiliki kapasitas keagamaan, tetapi juga harus mampu membangun ekosistem ekonomi, memperkuat kewirausahaan warga, memanfaatkan teknologi digital, serta menghadirkan layanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas,” katanya.





Comments are closed.