Thu,30 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Kafka-Enzo-isme dan Kebangkitan ‘Militainment’

Kafka-Enzo-isme dan Kebangkitan ‘Militainment’

kafka-enzo-isme-dan-kebangkitan-‘militainment’
Kafka-Enzo-isme dan Kebangkitan ‘Militainment’
service

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Kafka dan Enzo mengubah seragam jadi idola generasi muda. Apakah kekaguman ini sekadar tren viral atau sinyal pergeseran nilai yang lebih besar?


PinterPolitik.com

“Merchants quickly capitalized on these impulses, incorporating the flag into advertisements for everything from cars to pizza to long-distance service, admonishing consumers to “show their patriotism” through purchase decisions.” 

– Roger Stahl, Militainment, Inc.: War, Media, and Popular Culture (2009)

Cupin sedang menggulir linimasa ketika sebuah video pendek menghentikan jarinya. Di layar itu, seorang taruna muda berseragam loreng tampak menjawab pertanyaan dengan tenang, dan kolom komentar dipenuhi pujian yang nyaris seragam nadanya.

Ia mengenali sosok itu sebagai Kafka Bintang Timora, salah satu peserta paling populer di Clash of Champions Season 3. Yang menarik perhatian Cupin bukan hanya kecerdasannya, melainkan cara publik merayakan seluruh citra yang melekat pada dirinya.

Kafka bukan berasal dari kampus konvensional, melainkan dari Program Studi Kedokteran Militer di Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Publik tidak sekadar memuji nilai ujiannya, tetapi juga memuji apa yang mereka sebut sebagai “aura anak Universitas Pertahanan”.

Cupin lalu teringat sebuah nama lain dari beberapa tahun sebelumnya, yaitu Enzo Zenz Allie. Taruna Akademi Militer berdarah campuran Prancis dan Indonesia itu sempat viral pada 2019 setelah fasih bercakap dalam bahasa Prancis dengan Panglima TNI saat seleksi.

Enzo dipuji karena penguasaan empat bahasanya dan latar belakang pesantrennya, bahkan ada warganet yang menyebutnya sebagai jelmaan Pierre Tendean. Kini ia telah lulus dan menjadi perwira, sementara panggung kekaguman publik justru berpindah ke sosok seperti Kafka.

Bagi Cupin, jarak tujuh tahun antara Enzo dan Kafka justru menjadi petunjuk penting. Fenomena taruna viral yang dikagumi publik ternyata bukan peristiwa sekali lewat, melainkan sesuatu yang berulang dan bahkan menguat.

Ia menyebut gejala berulang ini dalam benaknya sebagai Kafka-Enzo-isme, yaitu kondisi ketika atribut disiplin, hierarki, dan seragam bergeser posisi. Atribut itu berpindah dari ranah kewajiban formal menuju ranah aspirasi kultural yang diidamkan banyak anak muda.

Data seolah membenarkan firasat Cupin, sebab minat terhadap sekolah kedinasan pada seleksi 2025 tercatat sangat tinggi. Lebih dari 151 ribu orang memperebutkan sekitar 3.252 formasi, sehingga satu kursi rata-rata diperebutkan oleh sekitar 46 pelamar.

Angka setinggi itu, pikir Cupin, tidak mungkin lahir dari kebetulan atau dorongan sesaat. Ada sesuatu yang menjadikan jalur kedinasan terasa seperti jangkar bagi generasi yang tumbuh di tengah ketidakpastian pasar kerja.

Cupin menyadari bahwa kekaguman ini terlalu besar untuk sekadar disebut viralitas biasa. Namun, ia belum ingin buru-buru menyimpulkan apa pun sebelum menelaahnya lebih dalam.

Maka, ia menyimpan dua pertanyaan di kepalanya. Mengapa disiplin dan seragam bisa berubah menjadi sesuatu yang begitu memikat, dan melalui saluran apa daya tarik itu menyebar begitu luas di ruang publik kita?

Militainment dan Mesin Kekaguman

Cupin menemukan sebagian jawabannya dalam khazanah pemikiran internasional. Ada satu konsep yang terasa pas untuk membaca gejala ini, yaitu pertemuan antara dunia kemiliteran dan hiburan populer.

Akademisi komunikasi asal Amerika Serikat, Roger Stahl, memperkenalkan istilah militainment dalam bukunya yang berjudul Militainment, Inc. Menurut Stahl, ketika elemen disiplin dan pengabdian ditampilkan dalam kemasan hiburan, penonton tidak lagi menjadi pengamat pasif, melainkan diajak merasakan dan membayangkan dirinya berada di posisi itu.

Cupin merasa panggung game show akademik tempat Kafka bersinar adalah salah satu ruang kerja militainment yang paling halus. Layar hiburan itu menjadi jembatan yang mendekatkan estetika disiplin ke ruang keseharian jutaan penonton.

Ia lalu teringat pada gagasan filsuf Jerman, Walter Benjamin, dalam esainya yang berjudul The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction. Benjamin berbicara tentang estetisasi politik, yaitu kecenderungan mengemas urusan kolektif menjadi tontonan yang indah dan menggetarkan.

Bagi Cupin, gagasan Benjamin menjelaskan mengapa disiplin bisa tampak begitu memikat secara visual. Estetika bekerja pada tataran perasaan terlebih dahulu, jauh sebelum ia bekerja pada tataran nalar.

Jika Stahl menjelaskan melalui saluran apa kekaguman itu disebarkan, maka Benjamin menjelaskan mengapa ia terasa indah. Kedua pemikir itu, di mata Cupin, seperti dua kunci yang saling melengkapi untuk membuka satu pintu yang sama.

Cupin kemudian membandingkan gejala di dalam negeri dengan pengalaman negara lain. Di Tiongkok, Tentara Pembebasan Rakyat pernah menggandeng Hunan TV memproduksi acara realitas Takes a Real Man, yang menempatkan para selebritas dalam latihan militer sungguhan.

Acara itu melejit ke peringkat teratas dan sejumlah rekrut mengaku terinspirasi mendaftar setelah menontonnya. Di sana, hiburan memang sengaja dirancang dari atas sebagai jembatan menuju pengabdian.

Korea Selatan justru menyodorkan pelajaran yang lebih berlapis kepada Cupin. Wajib militer yang menyentuh idola sekelas anggota BTS membuat pengalaman militer akrab di ruang publik, tetapi minat pada akademi militer profesional di sana sempat menurun pada pertengahan dekade 2020-an.

Cupin menangkap perbedaan posisi Indonesia dari kedua contoh itu. Gejala di dalam negeri terasa lebih organik, sebab tumbuh dari kekaguman warganet terhadap sosok seperti Enzo dan Kafka, bukan dari acara yang sengaja dirancang institusi.

Namun, satu pertanyaan lama masih mengganjal di benaknya. Jika kekaguman ini tumbuh dari bawah, bagaimana ia bisa bertemu dengan arah kebijakan negara, dan apakah pertemuan itu kebetulan belaka atau sebuah pola yang lebih dalam?

Governmentality dan Arah Kafka-Enzo-isme

Cupin menemukan perkakas terakhirnya pada pemikiran filsuf Prancis, Michel Foucault. Dalam bukunya yang berjudul Discipline and Punish serta kuliahnya yang bertajuk “Security, Territory, Population”, Foucault membedakan beberapa cara kekuasaan bekerja.

Kekuasaan berdaulat memerintah, kekuasaan disipliner melatih lewat institusi, sedangkan governmentality bekerja dengan cara paling halus, yaitu membimbing. Dalam mode terakhir ini, warga tidak digerakkan oleh paksaan, melainkan oleh aspirasi yang ditumbuhkan secara perlahan.

Cupin menyadari inilah kunci yang selama ini ia cari. Ketika seorang anak muda dengan sukarela mengagumi disiplin, mendaftar ke kampus bela negara, dan menjadikan seragam sebagai cita-cita, di situlah aspirasi warga dan arah negara bertemu tanpa paksaan.

Ia melihat pertemuan itu tercermin dalam sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program Sekolah Rakyat, yang telah diresmikan pada 166 titik di 34 provinsi pada awal 2026, secara eksplisit menekankan pembentukan kebiasaan disiplin dan pola hidup sehat dalam format asrama.

Cupin juga mencatat bahwa Kementerian Pertahanan turut menugaskan sekitar seribu taruna untuk membantu pembinaan kedisiplinan dan kerapian siswa pada masa awal tahun ajaran. Bagi Cupin, keterlibatan para taruna itu menjadi tanda betapa nilai disiplin ditempatkan sebagai bekal karakter sejak dini.

Cupin mencatat bahwa doktrin ini dibingkai sebagai proyek kesejahteraan, bukan sekadar kontrol. Sekolah Rakyat ditujukan untuk memutus rantai kemiskinan bagi anak dari keluarga prasejahtera, dan sejumlah orang tua melaporkan perubahan positif pada pola hidup anak mereka.

Penguatan Universitas Pertahanan dan pesan Presiden kepada para lulusan pamong praja turut menegaskan hal serupa. Disiplin, kejujuran, dan pengabdian diposisikan sebagai nilai kenegaraan yang utama bagi generasi penerus.

Bagi Cupin, lensa Foucault membantunya membaca mekanismenya secara jernih dan netral. Negara membentuk warga yang produktif dan tertata melalui penumbuhan aspirasi, dan ketika aspirasi itu diarahkan pada pemberdayaan, ia berpeluang menjadi instrumen pembangunan manusia yang bermakna.

Cupin akhirnya menutup renungannya dengan tenang, sebab ia paham popularitas Kafka dan Enzo pada akhirnya akan berlalu seperti lazimnya viralitas. Namun, sinyal yang mereka pancarkan patut disimak lebih lama, yaitu bahwa sebagian generasi muda sedang mencari struktur dan makna pengabdian di tengah dunia yang serba tidak pasti, dan tugas kita bersama adalah memastikan aspirasi mulia itu tersambung dengan substansi yang benar-benar memberdayakan bangsa. (A43)


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.