Sun,16 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Kehamilan Mempertajam Kerja Otak Ibu Jadi Lebih Peka Terhadap Tangisan Bayi

Kehamilan Mempertajam Kerja Otak Ibu Jadi Lebih Peka Terhadap Tangisan Bayi

kehamilan-mempertajam-kerja-otak-ibu-jadi-lebih-peka-terhadap-tangisan-bayi
Kehamilan Mempertajam Kerja Otak Ibu Jadi Lebih Peka Terhadap Tangisan Bayi
service

Jakarta

Kehamilan dapat mengubah kondisi fisik dan mental seorang perempuan. Kehamilan juga bisa membuat otak calon ibu berubah dalam beradaptasi menjalani peran barunya.

Studi terbaru yang diterbitkan di Infant Mental Health Journal: Infancy and Early Childhood mengungkap bahwa kehamilan secara khusus dapat mempertajam otak seorang perempuan, Bunda. Menurut studi ini, calon ibu yang menjalani kehamilan akan membentuk insting untuk merespons sinyal yang diberikan bayinya.

Penelitian ini mendokumentasikan bahwa perempuan tidak hanya mengalami perubahan fisik selama kehamilan, tetapi juga persiapan emosional dan kognitif untuk menjadi seorang ibu. Salah satu indikasinya adalah mereka merespons bayi secara lebih positif.

Ibu hamil dapat merespons sinyal dari bayinya

Studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of Copenhagen dan Psychiatric Center Copenhagen ini membandingkan bagaimana ibu hamil dan yang tidak hamil bereaksi terhadap gambar, video, suara, dan skenario realitas virtual yang menampilkan bayi. Studi dilakukan pada 78 perempuan di Denmark, di mana 44 di antaranya sedang hamil.

Para peneliti lalu menindaklanjuti kondisi ibu hamil selama enam bulan setelah melahirkan menggunakan kuesioner tentang kesejahteraan, keterikatan, dan respons terhadap tangisan bayi mereka sendiri. Peserta yang hamil tidak memiliki faktor risiko sosial atau psikologis, seperti depresi pasca persalinan. Sementara kelompok kontrol yang tidak hamil juga tidak memiliki anak yang masih kecil.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan respons perempuan terhadap tangisan dan tawa bayi. Perbedaan ini cukup jelas sehingga peneliti bisa menarik kesimpulan, Bunda.

“Kami mengukur respons fisiologis dan ekspresi wajah subjek, dan meminta mereka untuk menggambarkan perasaan selama dan setelah percobaan. Hasilnya, ibu yang hamil menjadi kurang stres karena tangisan bayi dan lebih bahagia ketika terpapar senyuman bayi dibandingkan mereka yang tidak hamil. Para ibu hamil juga merasakan dorongan yang lebih kuat untuk menggendong bayi,” kata psikolog dan peneliti Anne Bjertrup, dilansir laman MedicalXpress.

Para peneliti percaya perubahan pada ibu hamil terjadi karena mereka mulai mempersiapkan diri secara mental untuk menerima sinyal dari bayinya. Oleh karena itu, mereka tidak terlalu terpengaruh secara negatif oleh tangisan bayi, yang biasanya membuat sebagian orang stres.

“Semakin positif respons peserta yang hamil terhadap rangsangan bayi selama kehamilan, semakin baik pula hubungan mereka dengan anaknya selama enam bulan setelah melahirkan,” ujar Bjertrup.

Ilustrasi Ibu HamilIlustrasi Ibu Hamil/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Dacharlie

Hasil studi diharapkan bisa cegah depresi pasca persalinan

Temuan ini juga konsisten dengan penelitian sebelumnya, yang menunjukkan bahwa reaksi negatif terhadap sinyal bayi selama kehamilan dikaitkan dengan tingkat depresi pasca persalinan yang lebih tinggi. Bjertrup dan rekan-rekannya berharap, penelitian ini dapat membantu mengidentifikasi ibu hamil yang berisiko mengalami kesulitan dalam hubungan dengan anak mereka.

“Jika reaksi yang kami dokumentasikan dalam penelitian ini mencerminkan penyesuaian emosional dan kognitif adaptif yang penting untuk membangun hubungan dengan anak setelah lahir, maka ini dapat memberi kita wawasan tentang apa yang harus diperhatikan secara khusus pada ibu hamil,” ungkap Bjertrup.

“Dengan kata lain, bila ibu hamil sangat terpengaruh secara negatif atau stres karena sinyal bayi, hal itu dapat mengindikasikan bahwa mereka berisiko lebih tinggi mengalami depresi pasca persalinan. Kami berharap ini dapat membantu mereka dengan melatih pengaturan emosi selama kehamilan.”

Para peneliti percaya bahwa gagasan tentang ‘otak kehamilan’ atau pregnancy brain telah menjadi stereotip yang meluas. Padahal, kita seharusnya menghargai perubahan yang terjadi pada otak ibu hamil dan orang tua baru sebagai adaptasi perubahan emosional dan kognitif.

Demikian hasil studi terbaru yang mengungkap manfaat dari kehamilan pada otak ibu dalam merespons sinyal bayi menangis dan tertawa. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.