Para nelayan di pesisir Subaim, Kecamatan Wasile, Halmahera Timur (Haltim), Maluku Utara (Malut) resah setelah laut tempat mereka mencari ikan berubah keruh tercemar terdampak tambang nikel. Pantai yang awalnya berpasir, berubah menjadi genangan lumpur. Di beberapa tempat, luberan lumpur tambang bahkan memenuhi lahan persawahan dan Sungai Muria di Desa Bumi Resti hingga tak bisa warga tanami. Begitu juga dengan saluran irigasi. Air yang mengalir berwarna coklat pekat dan tak bisa warga gunakan. “Ini bukan kali pertama, sudah berulang kali. Sebelumnya juga aktivitas tambang mencemari areal pertanian dan perikanan warga,” kata Arman Ebit, warga Subaim belum lama ini. Dia menduga, aktivitas tambang di hulu sungai menjadi penyebab pencemaran di Pesisir Subaim dan sebagian lahan pertanian warga itu. Material sisa tambang kemudian turut terbawa air saat hujan deras hingga masuk ke area permukiman. “Kasus ini sudah berulang kali.” Saat ini beroperasi PT Jaya Abadi Semesta (JAS). Sebelum itu, ada PT Alam Raya Abadi (ARA). ” Juga terjadi hal yang sama (tercemar).” Arman yang juga Ketua Karang Taruna Desa Subaim itu mengatakan, pencemaran dari JAS sudah dua kali terjadi. Kejadian itu sekitar Juli dan November lalu. Tingkat ketebalan lumpur di pesisir sekitar 10-20 sentimeter. “Ini pencemaran paling buruk. Material tambang mencemari ruang hidup warga seperti sawah, kebun kelapa, irigasi, laut dan hutan mangrove,” katanya Pengamatan Arman, ada empat desa di Kecamatan Wasile yang paling terdampak pencemaran ini. Selain Subaim, ada juga Desa Bumi Restu, Mekar Sari dan Batu Raja. Dampak dari pencemaran itu, sumber mata pencaharian warga pun terganggu. “Sebagian besar sumber ekonomi hancur.…This article was originally published on Mongabay
Ketika Tambang Nikel Cemari Laut dan Sawah di Halmahera Timur
Ketika Tambang Nikel Cemari Laut dan Sawah di Halmahera Timur





Comments are closed.