
Kalau orang kampung sedang punya gawe, yang pertama kali dicari biasanya bukan panggung, bukan spanduk, apalagi kamera. Yang dicari adalah sedulur. Sebab gawe yang tanpa sedulur rasanya seperti sayur lodeh tanpa garam. Lengkap, tetapi tidak ada yang mengikat rasa.
Begitulah barangkali hubungan Keluarga Gamelan KiaiKanjeng dengan Komunitas Lima Gunung. Sudah terlalu lama saling bertamu, saling mengingat, saling menunggu, sampai orang tidak lagi bertanya siapa mengundang siapa. Persaudaraan yang lama memang begitu. Tidak lahir dari kontrak, melainkan dari perjalanan. Dari sekian banyak malam yang dilewati bersama, dari obrolan selepas pentas, dari secangkir kopi yang dingin karena terlalu asyik membicarakan hidup.
Di belakang semua itu ada dua orang tua yang barangkali tidak terlalu sibuk menghitung jasa mereka sendiri: Mbah Nun dan Mbah Tanto. Mereka seperti dua petani yang menanam pohon puluhan tahun lalu. Hari ini yang menikmati teduhnya mungkin bukan mereka lagi, melainkan anak-cucu yang bahkan tidak sempat melihat bagaimana bibit itu ditanam.
Maka ketika Festival Lima Gunung memasuki usia dua puluh lima tahun, rasanya tidak ada alasan untuk tidak nyengkuyung. Festival itu bukan sekadar perayaan kesenian. Ia sudah seperti slametan tahunan sebuah keluarga besar. Orang datang bukan semata-mata ingin tampil, tetapi ingin memastikan bahwa tali persaudaraan itu masih utuh.
Tanggal 10 Juli nanti, di Warangan, Pakis, Magelang, KiaiKanjeng akan hadir. Bukan membawa kemegahan yang membuat orang bertepuk tangan karena kagum. Justru yang dibawa adalah sesuatu yang sangat sederhana: dolanan anak-anak. Jamuran. Lepetan. Dan berbagai permainan yang dahulu membuat sore terasa lebih panjang daripada sekarang.
Mungkin ada yang bertanya, mengapa permainan anak-anak dibawa ke festival kebudayaan? Karena justru di situlah letak persoalannya. Semakin dewasa, manusia sering semakin pandai menyembunyikan dirinya. Pandai berbicara tanpa mengatakan isi hati. Pandai tersenyum sambil menyimpan prasangka. Pandai tampil, tetapi lupa bermain. Padahal anak-anak tidak mengenal itu semua. Mereka bertengkar lima menit, lalu berlarian lagi bersama. Mereka belum mengenal pangkat, belum mengerti siapa priyayi dan siapa wong cilik. Yang penting lingkaran permainan cukup luas untuk semua.
Barangkali di situlah makna tema festival tahun ini: “Makin Goblok Bareng.” Kalimat itu memang terdengar nakal. Bahkan seperti mengejek. Tetapi kadang yang paling sulit memang bukan menjadi pintar. Yang paling sulit adalah mengakui bahwa kita belum tahu. Sekarang ini semua orang merasa menjadi ahli. Telepon genggam membuat siapa saja bisa menjadi pengamat politik, pakar agama, ahli ekonomi, bahkan dokter dadakan. Informasi datang bertubi-tubi, tetapi kebijaksanaan tidak otomatis ikut lahir. Yang bertambah sering kali hanyalah keberanian berpendapat.
Sementara itu, desa-desa pelan-pelan kehilangan ruang hidupnya. Sungai menjadi sempit. Mata air mengecil. Hutan bergeser menjadi kebun yang seragam. Sawah berubah menjadi bangunan. Anak-anak lebih hafal nama aplikasi daripada nama pohon yang tumbuh di halaman rumahnya.
Kita hidup dalam zaman ketika tontonan lebih cepat dipercaya daripada pengalaman. Orang lebih mudah menghafal potongan video daripada memahami kenyataan yang ada di depan matanya sendiri. Karena itulah Mukadimah Festival Lima Gunung terasa seperti ajakan untuk bercermin.
Pertanyaannya bukan lagi apakah festival ini masih berlangsung. Festival tentu bisa terus ada. Bahkan mungkin semakin besar, semakin ramai, semakin terkenal. Tetapi apakah manusianya masih belajar?
Belajar kepada gunung yang diam tetapi tidak pernah berhenti berubah. Belajar kepada petani yang setiap musim harus menerima kenyataan bahwa alam tidak pernah bisa diperintah. Belajar kepada ilmu pengetahuan yang selalu membuka kemungkinan baru. Belajar kepada teknologi tanpa kehilangan akal sehat. Dan, yang paling sulit, belajar kepada generasi muda yang melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Orang Jawa dulu mengenal satu penyakit yang halus sekali: rumangsa wis cukup. Merasa sudah selesai. Merasa sudah tahu. Merasa umur panjang berarti pengalaman pasti benar. Padahal usia hanyalah hitungan kalender. Bukan ukuran keluasan hati. Tradisi pun bisa jatuh ke dalam perangkap yang sama. Ia berubah menjadi dogma yang hanya diulang-ulang. Kesenian tinggal menjadi rutinitas. Festival menjadi agenda tahunan yang sibuk menghitung jumlah penonton, tetapi lupa menghitung jumlah pertanyaan yang lahir sesudahnya.
Padahal kebudayaan bukan lemari kaca yang isinya dijaga agar tidak berubah. Kebudayaan adalah dapur. Di sana selalu ada yang dimasak, dicicipi, dikoreksi, kadang gagal, kadang berhasil. Asapnya tidak selalu harum, tetapi dari situlah kehidupan berlangsung. Mungkin karena itulah Komunitas Lima Gunung memilih menyebut dirinya laboratorium kehidupan. Sebuah tempat di mana alam, pertanian, kesenian, pengetahuan, spiritualitas, dan masyarakat saling menguji, bukan saling memuji.
Sebab yang diwariskan kepada anak cucu bukan sekadar lagu, gamelan, tarian, atau festival. Yang jauh lebih penting adalah keberanian untuk terus bertanya. Gunung sendiri memberi teladan yang diam-diam sangat dalam. Ia tampak kokoh, tetapi sesungguhnya terus berubah. Pohonnya berganti. Tanahnya bergerak. Mata airnya mencari jalan baru. Namun akarnya tetap setia memeluk bumi. Barangkali manusia juga begitu.
Kita boleh berubah mengikuti zaman. Belajar teknologi, membaca dunia, mengenal pengetahuan baru. Tetapi jangan sampai kehilangan akar yang membuat kita tetap mampu duduk melingkar, bernyanyi bersama, bermain bersama, dan mengakui bahwa di hadapan kehidupan yang begitu luas, kita semua masih murid. Dan mungkin, hanya mungkin, dari kesediaan untuk “makin goblok bareng” itulah pintu menuju kebijaksanaan perlahan-lahan terbuka.





Comments are closed.