Fri,14 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Kisah Burung Beo yang Setia, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

Kisah Burung Beo yang Setia, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

kisah-burung-beo-yang-setia,-cerita-rakyat-dari-sulawesi-selatan
Kisah Burung Beo yang Setia, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan
service

Kisah Burung Beo yang Setia, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan | Pexels/Ramon Karolan


Ada sebuah cerita rakyat dari Sulawesi Selatan yang menceritakan tentang kisah burung beo yang setia. Cerita rakyat ini berkisah tentang seekor burung beo yang berhasil membalaskan kebaikan tuannya.

Bagaimana kisah lengkap dari cerita rakyat Sulawesi Selatan tersebut?

Kisah Burung Beo yang Setia, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

Dikutip GNFI dari buku Jemmain yang berjudul Cerita Rakyat Bugis, alkisah pada zaman dahulu hiduplah seorang petani yang memiliki seorang anak laki-laki. Anaknya tersebut dia beri nama Ambo Upe.

Anak laki-laki ini sangat baik hati. Dia selalu berbakti kepada kedua orang tuanya.

Tidak hanya rajin belajar, Ambo Upe juga suka membantu meringankan pekerjaan kedua orang tuanya. Salah satu tugas yang selalu dia kerjakan dengan rutin adalah menggembalakan kerbau ayahnya.

Ayah Ambo Upe memiliki tiga pasang ekor kerbau. Setiap sore, dirinya akan menggembala kerbau itu ke padang rumput yang ada di sekitar rumahnya.

Pada suatu hari, Ambo Upe pergi menggembala kerbau seperti biasa. Setelah melepaskan kerbau-kerbaunya di padang rumput, Ambo Upe beristirahat di sebuah pohon rimbun yang ada di sana.

Ketika sedang beristirahat, tiba-tiba jatuh benda hitam dari atas langit ke hadapan Ambo Upe. Anak laki-laki tersebut langsung memungut benda tersebut.

Ternyata ada seekor anak burung beo yang jatuh di hadapannya. Anak burung beo ini terlihat terlepas dari cengkraman burung elang.

Ambo Upe pun membawa anak burung beo itu pulang. Dia kemudian membersihkan luka-luka yang ada di tubuh burung beo tersebut dan merawatnya dengan sepenuh hati.

Seiring berjalannya waktu, burung beo tersebut mulai pulih. Dirinya pun menjadi sahabat dekat Ambo Upe sejak saat itu.

Ketika Ambo Upe pergi menggembala kerbau, maka burung beo itu akan ikut bersamanya. Ambo Upe pun sangat menyayangi burung beo tersebut/

Suatu ketika, Ambo Upe pergi menggembala kerbau ke sebuah padang rumput. Burung beo pun ikut dan terbang mengiringi Ambo Upe dari udara.

Setelah sampai di padang rumput, Ambo Upe melepaskan kerbau-kerbaunya. Setelah itu, dia beristirahat di bawah sebuah pohon.

Dari kejauhan, terlihat dua orang berbadan tegap yang memperhatikan kerbau-kerbau Ambo Upe. Tidak lama kemudian, kedua orang ini langsung menangkap Ambo Upe.

Karena tidak memiliki tenaga yang kuat, Ambo Upe hanya bisa meronta-ronta. Ambo Upe pun diikat di pohon oleh kedua pencuri tersebut.

Setelah itu, mereka membawa keenam kerbau Ambo Upe. Mereka membawanya ke sebuah gua yang ada di kaki bukit.

Kedua pencuri ini tidak sadar jika burung beo memperhatikan semua yang mereka lakukan. Setelah mengetahui lokasi persembunyian mereka, burung beo ini langsung melesat terbang menuju rumah Ambo Upe.

Sesampainya di rumah, burung beo ini langsung menemui ayah Ambo Upe. Burung beo itu menggerak-gerakkan ekornya di hadapan sang ayah.

Ayah Ambo Upe sadar jika ada sesuatu yang tidak beres. Dia pun langsung pergi ke padang rumput tempat Ambo Upe biasa menggembalakan kerbau.

Benar saja, dia melihat anaknya terikat di pohon. Setelah melepaskan ikatan, Ambo Upe menceritakan apa yang terjadi padanya.

Setelah mendengar penjelasan itu, sang ayah pun mengumpulkan warga kampung. Mereka kemudian mengikuti arah terbang burung beo hingga menuju gua tempat persembunyian kedua pencuri.

Sesampainya di sana, kedua pencuri ini tidak bisa berkutik. Tidak hanya keenam kerbau Ambo Upe, ada banyak barang lain hasil curian mereka di dalam gua tersebut.

Akhirnya kedua pencuri ini diserahkan ke pihak berwajib. Burung beo yang setia ini berhasil menyelamatkan tuannya dari bahaya yang mengancam.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.