Jakarta, Arina.id—Iran melancarkan serangan rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain pada Sabtu (6/6/2026), hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat menembak jatuh empat drone Iran dan menggempur sejumlah instalasi radar di pesisir selatan negara tersebut.
Teheran menyebut serangan itu sebagai balasan atas operasi militer Washington di wilayah Sirik dan Pulau Qeshm yang dinilai melanggar kedaulatan Iran.
Kementerian Luar Negeri Kuwait mengutuk serangan tersebut dan menyebutnya sebagai eskalasi serius serta pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara.
“Kuwait juga menegaskan haknya untuk mengambil langkah yang diperlukan guna mempertahankan keamanan nasional,” tulis The Guardian dikutip, Minggu, 7 Juni 2026.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menargetkan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Menurut media pemerintah Iran, salah satu target serangan adalah pangkalan yang menjadi lokasi Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.
Komando Pusat AS (Centcom) menjelaskan bahwa empat drone Iran yang sebelumnya ditembak jatuh menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim regional.
Karena itu, militer AS melakukan serangan terhadap sejumlah instalasi radar Iran di Kota Goruk dan Pulau Qeshm sebagai langkah pertahanan untuk mencegah serangan lanjutan.
Washington juga meningkatkan pengawasan terhadap jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz, koridor strategis yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dan gas alam dunia.
Beberapa jam setelah serangan AS tersebut, IRGC mengumumkan peluncuran rudal ke sejumlah pangkalan musuh”di kawasan Teluk.
Menurut Centcom, Iran menembakkan tujuh rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain. Enam rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara, sementara satu rudal lainnya gagal mencapai sasaran.
“Sejauh ini tidak ada laporan korban di pihak personel AS, dan klaim Iran mengenai kerusakan markas Armada Kelima AS di Bahrain tidak benar,” demikian pernyataan.
Eskalasi terbaru ini memicu status siaga tinggi di negara-negara Teluk. Kuwait mengaktifkan sistem pertahanan udaranya untuk menghadang rudal dan drone yang melintas di wilayahnya. Sementara itu, sirene peringatan serangan udara terdengar di berbagai wilayah Bahrain pada Sabtu dini hari.
Otoritas Bahrain mengimbau warga tetap tenang dan segera menuju lokasi perlindungan yang aman. Langkah tersebut dilakukan sebagai antisipasi terhadap kemungkinan serangan lanjutan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Meningkatnya konflik di sekitar Selat Hormuz juga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Jalur perairan tersebut merupakan salah satu rute terpenting bagi pengiriman minyak dunia.
Gangguan keamanan di kawasan itu berpotensi memengaruhi distribusi energi internasional dan mendorong kenaikan harga minyak global.
Dengan aksi saling serang yang terus berlangsung dalam beberapa hari terakhir, kekhawatiran terhadap meluasnya konflik Iran dan Amerika Serikat semakin menguat.
Selain mengancam stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah, eskalasi ini juga berpotensi memberikan dampak ekonomi yang luas bagi negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.
Sumber: Deutsche Welle dan The Guardian.





Comments are closed.